Urutan Penomoran Karya Tulis Ilmiah, Skripsi, Tesis, Artikel, Monograf dan Contohnya

Salah satu hal yang sering bikin bingung mahasiswa adalah bagaimana mengatur penomoran karya tulis ilmiah yang sedang dibuat.

Dan tentu saja, tidak boleh sembarang menggunakan penomoran. Karena bisa saja, KTI itu hanya seperti karya tulis kebanyakan, karangan bebas misalnya.

Jadi, agar karya tulis itu bisa dianggap sebagai karya tulis ilmiah, harus menggunakan penomoran yang sesuai dengan kaidah penulisan ilmiah.

Kaidah penulisan ini juga berlaku untuk penulisan KTI lain entah itu skripsi, tesis, disertasi, artikel ilmiah, work paper dan seterusnya.

Oleh karena itu, untuk anda yang sedang cari tabel urutan penomoran, urutan penomoran laporan, sistematika penomoran karya ilmiah dan contoh penomoran dalam karya ilmiah.

Termasuk juga urutan penomoran proposal, penomoran makalah dan urutan penomoran artikel ilmiah, simak artikel dibawah ini sampai habis.

Urutan Penomoran Karya Tulis Ilmiah, Skripsi, Tesis, Artikel, Monograf dan Contohnya

Sebelum masuk ke pembahasan, sistematika penulisan dimulai dari penggunaan BAB diikuti subbab, anak subbab dan anak sub bab berikutnya.

Dengan demikian, penomoran untuk setiap item di atas berbeda. Agar jelas, berikut disajikan urutan penomoran karya tulis ilmiah dan contohnya, yakni:

1. Urutan Penomoran Untuk BAB

Urutan Penomoran Karya Tulis Ilmiah, Skripsi, Tesis, Artikel, Monograf dan Contohnya
Gambar via wired.com

Karya tulis ilmiah tentu memiliki bab-bab tertentu yang merujuk pada bagian dari isi buku, hal, masalah atau kategori dalam judul.

Karena fungsinya yang sentral, maka penulisan BAB harus diberikan penekanan dengan cara menulisnya pakai huruf besar.

Karena itu, dalam penulisan karya tulis ilmiah, penulisan BAB harus mengikuti beberapa kriteria seperti harus ditulis pakai huruf besar.

Dalam penulisannya pun harus dimulai dari penulisan BAB lalu diikuti dengan angka atau bilangan romawi.

Dengan demikian, maka urutan penomoran karya tulis untuk BAB adalah BAB I, BAB II, BAB III, BAB IV, BAB V dan seterusnya.

Oh iya, dalam KTI, indent atau penempatan BAB ini ada ditengah-tengah atau center. Jadi pastikan anda tempatkan informasi ini untuk memberitahu pembaca mengidentifikasi bagian utama dari tulisan.

2. Penulisan subbab

Urutan Penomoran Karya Tulis Ilmiah, Skripsi, Tesis, Artikel, Monograf dan Contohnya
Gambar via science.org

Di setiap bab, tentu saja ada sub bab yang merupakan bagian dari bab atau bisa juga disebut dengan anak BAB.

Hanya saja, metode penulisannya sedikit berbeda dengan BAB diatas dan selalu dimulai dari identifikasi awal sub bab pakai huruf diikuti dengan sub babnya.

Dengan demikian, penulisan subbab untuk karya tulis ilmiah adalah sebagai berikut: A, B, C, D, E dan seterusnya.

3. Penulisan anak subbab

Urutan Penomoran Karya Tulis Ilmiah, Skripsi, Tesis, Artikel, Monograf dan Contohnya
Gambar via stackoverflow.blog

Dalam karya ilmiah, terlebih yang cukup panjang, setiap sub bab akan memiliki anak bab, yang menjadi bagian dari sub bab tersebut.

Untuk mengidentifikasi apakah itu merupakan sebab, maka urutan penomorannya berbeda dengan sub bab atau bab itu sendiri.

Lantas, bagaimana penulisan anak subbab? Penulisannya dimulai dari angka 1, 2, 3, 4, 5 dan seterusnya. Disesuaikan saja sama panjangnya berapa.

Dan penulisan anak sub bab, dalam karya ilmiah, bisa dibagi dalam beberapa bagian, diantaranya:

  • Urutan penomoran untuk anak Subbab pertama . Untuk penulis title atau judul anak subbab pertama, maka bisa menggunakan huruf tapi bukan kapital melainkan huruf biasa. Dengan demikian, akan terlihat seperti ini: a, b, c, d, e dan seterusnya. Tetap sesuaikan sama panjang anak sub bab pertama tersebut.
  • Urutan penulisan nomor anak sub bab kedua. Nomor anak sub bab kedua, ditulis dengan menggunakan angka tapi dilengkapi dengan tutup kurung untuk mengidentifikasinya. Dengan demikian, struktur penulisan anak sub bab kedua akan terlihat seperti ini: 1), 2), 3), 4) dan lain sebagainya.
  • Urutan penulisan anak sub bab ketiga. Untuk anak subbab yang ketiga tetap menggunakan tutup kurung tapi penomorannya bukan menggunakan angka melainkan huruf. Dengan demikian, jika ingin menulis urutan sub bab anak ketiga, akan ditulis seperti ini: a), b), c), d), e) dan seterusnya.
  • Urutan penulisan anak sub bab keempat. Pada anak sub bab keempat, sudah dilengkapi dengan buka kurung dan tutup kurung. Hanya saja, ia diawali dengan angka. Dengan demikian, untuk menulis anak sub bab yang keempat ini, maka harus ditulis seperti ini: (1), (2), (3), (4), (5) dan lain sebagainya
  • Urutan penulisan anak sub bab kelima. Pada beberapa laporan, dapat terdapat sampai 5 subbab yang digunakan. Dengan demikian, format penulisannya sama seperti subbab empat di atas tapi penomorannya diganti dengan angka. Dengan demikian, apabila anda mau menulis penomoran sub bab untuk poin ini akan terlihat seperti ini: (a), (b), (c), (d), (e) dan seterusnya.

Bagaimana jika laporan atau karya tulis tersebut subbab anaknya lebih dari lima? Bisa diputuskan apakah tetap disertakan atau masuk ke subbab atau anak subbab.

Artinya, anda akan memulai pembahasan baru. Karena memang, cukup jarang karya tulis yang anak sub babnya lebih dari 5.

Tabel Urutan penomoran karya tulis ilmiah

Agar memudahkan anda mengidentifikasi urutan penomoran karya tulis ilmiah seperti yang sudah dijelaskan di atas, bisa lihat tabel dibawah ini:

KeteranganPenomoran
Untuk penulisan BABI, II, III, IV, V dan seterusnya
Untuk penulisan nomor SUBBABA, B, C, D, E, F dan seterusnya
Untuk penulisan nomor anak subbab1, 2, 3, 4, 5, dan seterusnya
Untuk penulisan nomor anak sub bab pertamaa, b, c, d, e dan seterusnya
Saat menulis nama anak sub bab kedua1), 2), 3), 4), 5) dan seterusnya
Saat menulis urutan nomor anak subbab ketigaa), b), c), d), e) dan seterusnya
Saat menulis nomor anak sub bab yang keempat(1), (2), (3), (4), (5) dan seterusnya
Saat menulis nomor anak sub bab yang kelima(a), (b), (c), (d), (e) dan seterusnya

Jadi, urutan penomoran KTI cukup jelas. Tinggal diaplikasikan ke dalam tulisan yang sedang dibuat mengikuti struktur penomoran yang ada diatas.


FAQ

Beberapa pertanyaan yang mungkin saja akan diajukan terkait postingan ini akan diulas dalam QnA dibawah, diantaranya:

1. Bagaimana dengan penomoran laporan apakah menggunakan urutan diatas?

Secara teknis ya. Dan ini berlaku untuk laporan-laporan formal, semi-formal dan ilmiah. Dengan demikian, urutan penomoran laporannya sama seperti KTI diatas.

2. Dimana urutan penomoran karya tulis ilmiah diatas akan digunakan?

Karya tulis ilmiah adalah karya tulis yang dibuat berdasarkan hasil penelitian, laporan atau pemaparan dari suatu bidang ilmu tertentu.

Karena itu, KTI ini ada banyak jenisnya. Dengan demikian, jika ada dari anda yang sedang buat artikel, makalah, skripsi, work paper, tesis, disertasi sampai monografi boleh menggunakan penomoran diatas.

Penutup

Seperti yang sudah disebutkan diatas yang mana penomoran bisa digunakan sebagai indikator utama apakah karya tulis tersebut dibuat dengan kaidah ilmiah atau tidak.

Misalnya, jika buat blog, penomorannya tentu saja bebas karena tidak ada standar baku yang digunakan. Dan ini berbeda dengan KTI.

Demikian artikel tentang urutan penomoran karya tulis ilmiah, skripsi, artikel, tesis, monografi serta contohnya. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda. ***

Tinggalkan komentar