Pololo Buku Way: Jalan Tangkal Radikalisme Dengan Kearifan Lokal

7 Likes Comment
Pololo Buku

Pololo buku adalah salah satu kearifan lokal di Banggai Kepulauan. Kearifan lokal ini, baik secara langsung ataupun tidak langsung dapat menangkal radikalisme dan terorisme. 

Setiap kebudayaan memiliki semboyan visioner yang berbeda-beda. Ada semboyan yang punya kohesi sosial, budaya hingga falsafah kelompok.

Setiap kohesi tersebut memiliki nilai sosial yang intrinsik serta saling berkaitan. Ini bisa menunjukan laku masyarakat baik individu atau kelompok.

Di satu sisi, semboyan tersebut bisa menjadi penyemangat, motivasi hingga identitas kulutral yang tertuang lewat dialeg dan logat.

Misalnya, Horas dalam masyarakat suku Batak, I Yayat U Santi dalam masyarakat Minahasa, Po binci binci kuli dalam masyarakat Buton, Ain ni Ain dalam masyarakat Kepulauan Kei dan lain sebagainya.

Dalam pemahaman yang lebih luas, semboyan memang merujuk karakter sosial masyarakat itu sendiri. Untuk ciri yang lebih spesifik, semboyan berlaku sebagai sistem dan pedoman dalam kehidupan bermasyarakat.

Jika berbicara sistem dan pedoman, sejak Negara Indonesia belum terbentuk, sudah ada berbagai macam sistem sosial yang paling populer adalah sistem gotong royong.

Baca Juga : Sejarah Lengkap Perintis dan Penemu Kamera

Mengapa sistem gotong royong begitu populer? Karena, manusia memang membutuhkannya. Sistem ini adalah sebuah sistem kerja sama, saling tolong menolong, bantu-membantu dan lain sebagainya.

Gotong royong juga tidak saja berlaku dalam kehidupan agraris, tetapi juga dalam berbagai dimensi kehidupan, termasuk yang paling sakral, tabu hingga masalah kriminalitas.

Yang berarti, sistem gotong royong dapat diartikan sebagai suatu sistem dengan cakupan yang sangat luas, yang erat kaitannya dengan prinsip hidup manusia itu sendiri.

Karena pada dasarnya, tidak ada manusia yang tidak membutuhkan manusia lain. Manusia selalu hidup berdampingan, sebagai satu kelompok keluarga, masyarakat, adat, bahasa, kecintaan, hingga kehidupan berbangsa dan bernegara.

Salah satu prinsip gotong royong yang terus dipegang hingga kini adalah Pololo Buku dalam masyarakat Kabupaten Banggai Kepulauan.

Pololo buku: sistem gotong royong dari Banggai Kepulauan

Masyarakat Banggai Kepulauan adalah salah satu masyarakat dengan ciri budaya yang plural dan beraneka ragam. Ciri paling spesifik dapat dilihat dari pekerjaan yang dilakukan sehari-hari.

Sebagian besar masyarakat Banggai Kepulauan memang tinggal di Pesisir, sehingga pololo buku lebih erat dalam pekerjaan bahari.

Sementara, ada juga beberapa prinsip yang hidup dan bertahan hingga kini bagi masyarakat yang tidak tinggal di Pesisir Pantai, salah satu contohnya adalah di Desa Nulion, Kecamatan Totikum Selatan.

Pengertian pololo buku secara etimologi

Secara harafiah, pololo buku terbagi menjadi dua suku kata, yakni Pololo dan Buku. Pololo berarti ikut sementara buku berarti balas budi atau balas buku.

Jadi, pololo buku adalah suatu sistem dimana individu ikut dalam satu kegiatan seperti kerja lalu dibalas budi oleh individu lain, yang sebelumnya melakukan kegiatan yang persis hampir sama.

Kalau dijabarkan lebih jauh, dalam sistem ini, ada bagian-bagian integral dari kerja sama, saling tolong-menolong, bahu-membahu, dalam membentuk kelompok baik skala kecil atau besar untuk mengenal lebih dekat dan terorganisasir.

Istilah pololo buku mirip dengan sistem hidup masyarakat Minahasa, yang dikenal dengan istilah Mapalus.

Mapalus, dalam KBBI V 0.2.1 Beta yang dikeluarkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementrian pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia [Kemdikbud] disebutkan bahwa Mapalus adalah semangat gotong royong cara Minahasa, juga dapat dijadikan senjata melawan tindak Kriminal.

Sistem ini kemudian tampil lebih modern setelah Indonesia merdeka. Yang berarti, ada perluasan makna. Dimana, pada waktu itu, pololo buku hanya diterapkan pada dimensi yang khusus, seperti misalnya pada saat menanam tanaman.

Baca Juga : 5 Cara Mengembangkan Psikososial Anak

Kini, sistem ini telah masuk ke dimensi lain seperti kedukaan, perkawinan, sekolah, kuliah, adat, dan lain sebagainya.

Marvin Harris dalam bukunya Cultural Materialism: The Struggle for a Science of Culture, dalam bukunya menjelaskan fenomena macam ini tidak saja dianggap sebagai struktur sosial.

Yang berarti, kebendaan budaya ini dapat dibagi menjadi tingkatan organisasi utama mulai dari infrastruktur, struktur serta superstuktur.

Untuk memahami lebih lanjut mengenai hal ini, kita ambil contoh pada tingkatan yang pertama yakni infrastruktur. Dimana, masyarakat penganut budaya tersebut bertautan dengan sistem kerja produksi barang dan jasa.

Sementara, struktur dan superstruktur lebih ditekankan pada lingkup sosial dan politik serta gagasan atau pemikiran, termasuk didalamnya agama dan seni.

Akan sangat panjang pembahasannya jika dijelaskan lebih lanjut mengenai pengertian diatas. Tapi, marilah kita mengambil kaitannya dengan dimensi kehidupan social langsung yakni superstruktur.

Dalam superstruktur, ada satu makna yang hendak dijelaskan bahwa ia dapat membendung pemahaman asing dalam upaya menjaga eksklusivitas nilainya.

Yang berarti, jika ada nilai atau pemahaman yang asing, mereka akan menolak. Karena pada dasarnya manusia adalah homo est animal rationale, terkadang, mereka akan menerima nilai-nila yang dianggap baik lalu membuang yang dianggap tidak baik.

Dengan catatan, nilai-nilai tersebut tidak menggerogoti prinsip-prinsip kehidupan, baik secara langsung ataupun tidak langsung.

Penolakan pun bisa dilakukan secara baik, halus atau yang paling kasar. Sudah banyak contoh akan hal ini. Salah satu contohnya adalah penolakan atas paham-paham radikalisme dan terorisme.

Tangkal radikalisme dan terorisme dengan kearifan lokal

Ideologi radikalisme dan terorisme sebenarnya ditolak oleh berbagai budaya yang ada, terlebih di Indonesia. Namun, rupanya ideologi ini terus tumbuh dan menciptakan ancaman nyata dan terus menerus kepada tiap orang.

Mengapa jadi ancaman yang nyata? Sebab, meskipun sudah ditolak oleh berbagai budaya dan sistem hidup, namun ia tetap tampil dengan rupa dan wajah yang berbeda, yang berusaha menyesuaikan dan membenarkan ideologi tersebut.

Inilah yang paling berbahaya. Karena, propaganda dapat dilakukan, sehingga, jika upaya ini sudah dianggap benar dan diikuti oleh beberapa orang, mereka akan menganggap budaya yang tadi sebagai salah dan tidak sejalan dengan pemahaman mereka.

Kabar buruknya lagi, radikalisme di Indonesia sudah memasuki tahap yang mengkhawatirkan. Bahkan, dipercaya, setiap lembaga dan lapisan budaya sudah di susupi paham ini, termasuk juga pada dunia pendidikan.

Penelitian yang dilakukan oleh PPIM UIN Jakarta dan NVEY Indonesia menyebutkan bahwa 58% siswa dan mahasiswa yang diteliti memiliki opini yang radikal sementara guru dan dosen sebanyak 23,0%.

Baca Juga : Apakah Teknologi Mempengaruhi Psikososial Anak? Ini Penjelasannya

Bahkan, dalam istitusi yang seharusnya menjadi langkah terakhir untuk menangkal radikalisme seperti TNI/Polri pun tak lepas dari penyusupan ini.

Dengan kata lain, masalah radikalisme ini sudah masuk dalam zona merah yang mendasak untuk diatasi. Dan berbagai upaya perlu dilakukan untuk mencegah masalah ini agar tidak berubah menjadi ancaman yang lebih nyata dalam bentuk terorisme.

Disamping itu, solusi untuk mencegah radikalisme pun tidak melulu harus datang dari satu dimensi saja. Misalnya, lewat Mimbar agama atau pada lembaga pendidikan di sekolah atau kampus. Padahal, ada solusi yang sering dilupakan, meskipun sudah terbentuk sejak lahir, yakni budaya.

Pendapat ini juga didukung oleh penelitian Badan Nasional Penanggulangan Terorisme [BNPT] yang menyebutkan bahwa budaya dapat dan bisa mencegah radikalisme.

Tapi kan, pemahaman budaya luas dan banyak. Lantas, budaya macam apa yang dapat dijadikan tameng untuk mencegah hal tersebut? Jawabannya pololo buku.

Bagaimana caranya?

Pololo buku mungkin hanya salah satu dari sekian banyak kearifan lokal yang ada dan tersebar di Indonesia, yang dalam prakteknya sama hanya nama yang berbeda.

Ambil contoh tentang Mapalus, dalam masyarakat Minahasa yang juga memiliki pola dan pembentukan yang mirip bahkan dua-duanya dimulai dari kegiatan agraris.

Pololo buku adalah nilai kerja dari manusia sendiri yang terbentuk dari suprastruktur sosial dan budaya masyarakat Banggai Kepulauan. Sistem ini pada akhirnya ikut membentuk hubungan sosial yang kuat antar sesama masyarakat.

Seperti yang telah dijelaskan diatas, pololo buku punya beberapa pengertian yakni aktivitas untuk saling tolong menolong, bahu membahu untuk menyeleasikan suatu pekerjaan.

Dan dalam perkembangannya, aktivitas ini kemudian dijabarkan lebih lanjut menjadi beberapa nilai lain mulai dari displin, kolektif-kolegial, inteleraltion [keterikatan], pluaralisme, solidaritas dan penolakan nilai yang tidak menjunjung tinggi humanisme.

Baca Juga : Ada Literasi Dalam Banunut, bedtimenya orang Banggai Kepulauan

Lantas, bagaimana cara sistem sosial budaya seperti Pololo Buku ini bias menangkal radikalisme? Nilai-nilai kearifan lokal yang telah dijabarkan diatas adalah jawabannya.

Ambil contoh pada satu dua sampel misalnya pluralisme dan humanisme. Pluralisme adalah sebuah model yang menghargai keberbedaan.

Jika dulu, keberbedaan ini hanya didasarkan secara fisik yakni tinggi, pendek, mancung-pesek, kerinting-berombak dan lain sebagainya, kini lebih jauh lagi.

Masyarakat Banggai juga adalah masyarakat yang plural. Disana, ada banyak etnis yang tinggal termasuk didalamnya agama, adat istiadat dan juga logat.

Dan dengan demikian, setiap orang bisa bergabung dalam kelompok pololo buku ini tanpa memandang suku, agama, ras dan lain sebagainya.

Begitu juga soal humanisme. Dimana, dalam sistem pololo buku yang sebelumnya lebih ditekankan pada unsur tenaga manusia kini lebih fleksibel nilainya.

Lebih jauh, humanisme telah berubah menjadi penghargaan akan upaya yang dilakukan oleh manusia. Setiap kerja yang dilakukan, baik itu banyak atau sedikit, lama atau tidak, akan dianggap sama.

Dan pada akhirnya, jam tersebut akan dikembalikan apabila orang yang membantu tersebut juga mengalami musibah atau membutuhkan bantuan dari orang lain.

Terdapat transfer nilai

Dan secara tidak langsung, disini ada proses pengenalan akan nilai-nilai penting dari kehidupan. Dari setiap upaya saling tolong menolong, secara tidak langsung terjadi transfer nilai, pengetahuan dan pengenalan akan diri serta kelompoknya.

Hal tersebut adalah tameng dan juga tangan kasih yang bisa mengikis ideologi dan pemahaman yang radikal dan berbahaya. Karena memang, dalam banyak kasus, radikalisme terjadi karena beberapa hal seperti:

  1. Kondisi pendukung intoleransi mulai dari deprivasi ekonomi dan hukum. Ini termasuk kesenjangan ekonomi kaya dan miskin juga persepsi penerapan hukum yang dianggap tidak adil.
  2. Pandangan mengenai agama yang dianggap terzalimi
  3. Sikap yang ditunjukkan terhadap negara dan pemerintah serta
  4. Pemahaman tentang Jihad yang diartikan melulu sebagai kekerasan.

Jika asas pololo buku ini diterapkan sebagai upaya untuk memeratakan nasib dalam bentuk ekonomi maka secara tidak langsung radikalisme akan sulit menyusup.

Alasannya sederhana, karena saat seseroang merasa nyaman dengan lingkungannya, ia tak akan sampai hati mengusiknya. Apalagi melihat kebaikan orang-orang yang ada disekitarnya.

Baca Juga : 50+ Tempat Wisata Paling Populer di Sulawesi Tengah

Kalau pemahaman mengenai hukum, yang dikeluarkan oleh negara, sulit sekali dipahami. Hanya saja, soal hukum ini, proses untuk ikut bersama-sama merasakan apa yang dialami seseroang yang tersangkut masalah hukum juga penting untuk dilakukan dan ini juga diterapkan dalam sistem ini.

Karena pada dasarnya, setiap kelompok dan penganut sistem pololo buku menganggap siapapun adalah keluarga.

Sementara, dalam pandangan yang kedua, hanya bisa dikikis apabila ada penolakan terhadap oknum atau seseorang yang secara terang-terangan menolak nilai-nilai lokalitas seperti kearifan lokal sembari menanamkan nilai-nilai asing yang pada dasarnya belum dikenal.

Keterikatan dengan Inkulturasi

Dalam pandangan modern, ada sebuah istilah tentang penggabungan antara agama dan kearifan local yakni inkulturasi. Dimana, agama berusaha menyesuaikan dengan budaya suatu wilayah atau daerah.

Dan ini juga yang menjadi penyebab utama mengapa agama laku keras di Indonesia sejak dulu baik saat periode penyebaran agama Katolik, Kristen, Islam, Hindu, Budha hingga Konghucu.

Sementara, untuk pandangan mengenai negara dan jihad yang keliru biasanya dipengaruhi oleh pengalaman pribadi dan bukan pengalaman kelompok.

Disini, kita perlu melibatkan dimensi kolektif-kolegial pada sistem nilai pololo buku. Kolektif-kolegial atau kebesamaan dan kesetaraan adalah poin penting yang akan menjadi mantel dan selimut untuk menolak dan mengikis paham-paham yang keliru dan bertolak belakang dengan nilai-nilai lain.

Meski demikian, juga harus diakui bahwa kolektivitas itu mengorbankan individu, yang berarti manusia itu konkret nyata. Dalam upaya ini, lagi-lagi kearifan lokal pololo buku tampil sebagai upaya untuk merangkul yang telah korbankan.

Karena, pada dasarnya, nilai kearifan lokal semacam ini hanya bias putus apabila seseorang tersebut sudah tidak terlibat langsung dalam masyarakat.

Baca Juga : Darimana Sumber Penghasilan Utama Seorang Fotografer?

Yang berarti, ia sudah tidak tinggal lagi dalam lingkungannya. Selagi ia tinggal, sekuat apapun prinsip yang ia pegang, pada akhirnya akan runtuh juga jika mayoritas memiliki pandangan yang sama.

Jadi, secara tidak langsung, kearifan lokal semacam ini bisa mengikis paham-paham radikalisme ini baik langsung ataupun tidak langsung.

Karena, pada akhirnya, manusia adalah pusat dari segala sesuatu yang terjadi. Saat suatu kelompok mampu menganut nilai-nilai yang sama dan universal bisa mempengaruhi satu individu yang telah terdegradasi pemahamannya mengenai kelompok tersebut.

Dengan kata lain, radikalisme hanya akan hidup dan berkembang apabila poin-poin diatas tumbuh dan berkembang didalam masyarakat dan akan layu dan mati apabila tergabung dalam kelompok masyarakat dengan nilai-nilai yang kuat seperti pololo buku. ~

(***)

You might like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *