Resensi Puisi Esai Adalah: Pengertian, Struktur Dan Contoh

9 min read

resensi puisi esai

Selain buku atau novel, salah satu karya yang sering di resensi adalah Puisi. Di artikel kali ini saya hendak mengulas pengertian, cara dan contoh resensi puisi esai yang baik dan benar.

Untuk meresensi puisi esai tentu lebih sulit ketimbang resensi puisi biasa yang liriknya singkat. Karena puisi esai lebih panjang dengan pembahasan yang lebih kompleks.

Untuk membuat resensi puisi entah itu esai atau lirik pada prinsipnya sama dimana peresensi harus paham dan mengerti tentang situasi yang ada didalam puisi tersebut.

Artinya, ia bisa memilah keindahan dibalik puisi esai dan materi-materi bernas lain yang disampaikan penulis.

Untuk anda yang ingin membuat resensi puisi entah itu puisi biasa atau puisi esai, baca artikel ini sampai habis.

Sebelum lanjut, sebagai catatan, di artikel ini saya tidak ikut ambil bagian dalam protes di kalangan sastrawan terkait kemelut puisi esai ini.

Dengan kata lain, contoh dan materi di artikel ini murni digunakan untuk tujuan pengetahuan dan bukan untuk menunjukan keberpihakan pada puisi esai.

Pengertian resensi puisi adalah

Di artikel saya sebelumnya tentang resensi novel sudah saya jelaskan secara singkat tentang pengertian resensi.

Intinya, resensi adalah pertimbangan atau pembicaraan tentang suatu buku, puisi, novel atau cerita-cerita lain termasuk film.

Konteks pertimbangan ini bisa berarti pendapat tentang suatu karya baik itu sastra, visual, audio visual dan lain sebagainya.

Untuk membuat resensi puisi harus ada metodologi yang digunakan. Metodologi inilah yang akan membuat resensi anda lebih terstruktur.

Lantas, apa sih puisi esai itu? Puisi esai adalah suatu karya tulis dalam bentuk puisi yang di esaikan dan didalamnya menjelaskan atau memberi gambaran tentang suatu peristiwa atau kejadian.

Dengan demikian puisi esai tentu berbeda dari puisi biasa atau yang dikenal dengan istilah puisi lirik.

Perbedaan pun bisa dilihat dari isi materinya dimana puisi lirik cenderung melibatkan imajinasi, bahasa simbolik, metafora dan lain sebagainya.

Meski bentuknya adalah puisi yang di esaikan atau di ceritakan, terkadang puisi esai tetap melibatkan imajinasi atau fiksi.

Struktur resensi puisi esai

Jika anda diminta untuk membuat resensi puisi, entah itu puisi lirik atau puisi esai, ada struktur-struktur tertentu yang harus diikuti, seperti:

a. Pengetahuan tentang tema puisi esai

Disini peresensi harus bisa melihat tema puisi tersebut. Tema ini juga bisa dikaitkan dengan berbagai aspek seperti:

  • Keadaan yang terjadi sekarang ini
  • Waktu
  • Masalah sosial
  • dan lain sebagainya

Dengan kata lain, jika tema itu mudah dipahami atau diterima masyarakat, secara tidak langsung akan menciptakan animo masyarakat untuk membacanya.

b. Kata yang digunakan

Kata-kata yang digunakan dalam puisi esai atau diksi juga harus digambarkan. Apakah melibatkan kata-kata harian yang mudah di mengerti atau bahasa-bahasa susastra yang lebih dalam.

Artinya, anda harus bisa melihat intonasi dan hubungan kata per kata yang ada dalam puisi tersebut secara langsung.

Lihat juga berbagai pedanan yang digunakan, apakah sudah sesuai dengan kaidah POEBI [Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia] atau belum.

c. Perasaan penulis

Disini silahkan gambarkan perasaan sang penulis saat menulis puisi esai tersebut meski perasaan semacam ini cukup sulit digambarkan.

Karena terkadang bait per bait akan menciptakan emosi yang berbeda. Dan ini datang dari penulisnya secara langsung.

Oh iya, perasaan juga berhubungan dengan suasana hati. Jadi silahkan gambarkan saja suasana hati yang ada dalam tulisan.

d. Majas

Poin ini bisa ditambahkan bisa juga tidak. Alasannya karena bergantung pada majas yang digunakan oleh penulis.

Dalam puisi lirik majas terkadang digambrakan secara hiperbola. Dalam konteks puisi esai, ada penggambaran majas serupa dan ada yang tidak.

Kalau terpaksa ditambahkan, silahkan saja. Namun tetap memperhatikan majas dalam puisi agar resensi anda tidak mubazir atau tidak objektif.

d. Konteks lain

Konteks lain ini tetap melibatkan struktur resensi pada umumnya, seperti:

  • Penulis, penerbit, tahun terbit, penghargaan penulis, latar belakang penulis dan profil penulis serta penerbit
  • Latar belakang cerita secara umum
  • Libatkan juga editor, penerjemah, penyunting [jika ada] dan unsur-unsur lain yang terdapat dalam katalog penerbitan buku
  • Tanggapan anda tentang novel tersebut [berisi kritik, masukkan atau hal-hal lain yang tidak dilibatkan penulis]
  • Kelemahan dan kelebihan puisi esai dibanding puisi dalam kategori serupa
  • Dan lain sebagainya

2 Contoh Resensi Puisi Esai Indonesia

Setelah paham pengertian dan struktur resensi puisi esai, pasti ada beberapa dari anda yang bertanya-tanya contohnya, kan?

Nah tanpa perlu berlama-lama, berikut disajikan 2 contoh resensi puisi esai Indonesia. Berikut artikelnya untuk anda


Contoh Resensi puisi esai 1 – Kisah sang penantang

Judul puisi esai : Kisah sang penantang

puisi esai kisah sang penantang

Berbicara tentang puisi kita juga berbicara esensi dari sebuah karya sastra. Gerakan literasi puisi esai Indonesia yang berhasil direalisasikan lewat 34 karya dari seluruh provinsi Indonesia ikut memaknai esensi dari sastra itu.

Puisi harus dilahirkan, diwujudkan dan dibaca oleh orang banyak agar fungsi dari sastra benar mengena. Gerakan literasi ini, yang didalamnya ada komunikasi dan kemapanan sastra, telah menyatukan ratusan suku, budaya serta cerita manusianya dengan lugas.

Ini mengisyaratkan bahwa puisi esai yang ditulis oleh ratusan sastrawan tersebut saling terhubung satu dengan lain, bahu membahu, membentuk angkatan sastra Indonesia, yang kalau boleh disebut sebagai angkatan puisi esai Indonesia.

Seperti juga puisi esai dari Sulawesi Selatan dengan judul Kisah Sang Penantang. Puisi esai ini dihantar dengan lezat oleh Aspar Pasturusi. Dan ditulis oleh lima sastrawan asal Sulawesi selatan seperti Ahmad M. Sewang, Fahmi Syariff, Idwar Anwar, M. Anis Kaba dan Rusdin Tompo.

Kisah sang penantang banyak mengambil wujud dari perjuangan untuk ikut membentuk Indonesia dan cita-citanya setelah kemerdekaan.

Ada empat karya yang menguak perjuangan para bapa bangsa untuk melawan penjajah, baik yang sudah diberi gelar Pahlawan oleh pemerintah ataupun tidak.

Para pahlawan dari Sulawesi Selatan itu gugur di medan laga melawan Belanda. Tapi tak semuanya, wujud perjuangan dalam buku puisi esai ini di tutup dengan sebuah karya apik melepaskan diri dari masalah sosial seperti kemiskinan berujung pada pelacuran.

Jejak-jejak perjuangan dalam karya ini terlukis dengan filmis pada sebuah buku puisi esai berjumlah 129 halaman–tidak termasuk cover dan pengantar–dan diterbitkan oleh Cerah Budaya Indonesia.

Puisi esai adalah karya sastra yang dibangun dengan latar belakang tempat, waktu dan tokoh yang kompleks. Biasanya diangkat dari kejadian nyata dan memoir dari tokoh atau kejadian tertentu.

Kecakapan para penulis untuk kata demi kata ikut melengkapi mozaik-mozaik sejarah yang terus didengungkan agar tidak dilupakan oleh masyarakat.

Sebagai tambahan, puisi esai ini juga banyak mengangkat tentang kekayaan kultural daerah, sastra lokal dan juga rahasia-rahasia sejarah yang tersimpan rapat, yang akhirnya dikuak dalam puisi esai dari Sulawesi Selatan ini.

Buku puisi esai ini dibuka dengan karya dari Ahmad M. Sewang dengan judul Srikandi Dari Mandar. Sewang, yang juga merupakan Guru Besar sejarah Peradaban Islam Di Fakultas Syariah UIN Alauddin Makassar ini mengangkat tentang ribuan pejuang KRIS Muda pada diera pra-kemerdekaan Republik Indonesia.

Menariknya, Sewang mengangkat kisah ini dari kejadian nyata dengan cerita yang objektif bahkan sempat berbicara langsung dengan tokoh utama dari puisi esai buatannya.

Ialah Andi Depu, salah satu pelaku sejarah yang merupakan seorang srikandi sekaligus Bangsawan Mandar dan merupakan permasyuri raja Balanipa di Sulawesi Barat.

Apa yang ditulis oleh Ahmad M. Sewang menjadi refleksi masyarakat terlebih khusus bagi pemerintah. Ini adalah bentuk refleksi horizontal dan vertikal bahwa ada ribuan bahkan ratusan pahlawan di Indonesia yang terlupakan, salah satunya Andi Depu. Nama mereka luput setelah Indonesia Merdeka tanpa menghargai perjuangan mereka.

Sampai kini, setelah 75 tahun, nama itu masih tetap dilupakan, bahkan sebagian diantaranya terkubur dengan pusara tanpa nama, termasuk salah seorang pejuang KRIS Muda yang dengan gigih berjuang menantang penjajahan dari Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Karya ini berbicara banyak mengenai perjuangan, sikap batin, kegigihan tokoh yang semangat tak kunjung padam melawan penjajah di tanah kelahirannya.

Perjuangan di Polewali, Mandar dipadukan dengan sikap patriotisme kedaerahan dan pandangan agama yang kental, diceritakan secara bergantian dalam cerita ini.

Tokoh-tokoh perjuangan dari kaum wanita pun tak kalah dengan tokoh-tokoh lelaki. Perjuangan mereka yang sporadis, bahu-membahu mereka merajut kemerdekaan dari daerah, tahun demi tahun, akhirnya harus dilupakan. Kecuali mereka yang pernah berjuang bersama dengannya. Kira-kira itulah pesan inti dari puisi esai ini.

Seorang Raja yang memimpin sebuah daerah yang kecil, berkat ketangkasannya saat berburu rusa kemudian dipanggil oleh Raja Bone yang disebut dengan Arumpone menghadap ke Istana.

Raja yang tangkas ini kemudian diberi tugas untuk memimpin satu laskar atau pasukan dalam peperangan melawan kolonialisme dan akhirnya berkat kemampuannya tersebut, ia berhasil menang dalam peperangan pertama raja yang memimpin daerah kecil tersebut. Cerita ini diangkat oleh Fahmy Syariff dalam puisi esai dengan judul La Temmu Page’.

Karya Syariff ini, selain berbicara mengenai sikap patrotik dan kepiawaian seorang Raja juga berbicara mengani masalah politik internal kerajaan Bone.

Ketangkasan seperti yang disebutkan diatas dipadukan dengan kecerdasaran dan kemampuan yang tidak di miliki oleh orang lain digambarkan dengan apik oleh Fahmy.

Fahmy Syariff menyampaikan kisah sejarah ini cukup deskriptif. Metafora pada pembukaan puisi menunjukan pengalaman tambahan seolah pembaca benar-benar terlibat dalam cerita yang diangkat.

Puisi esai ini merupakan salah satu karya terbaik yang pantas dibaca oleh generasi muda di Sulawesi Selatan.

Sementara, Idwar Anwar datang dengan puisi Tahta Untuk Republik dalam puisi esai ketiga dari puisi esai asal Sulawesi Selatan ini.

Sama seperti dua cerita sebelumnya, Idwan Anwar juga mengangkat tentang sang penantang berikutnya, Andi Jemma, yang merupakan Datu atau Raja dari Luwu dalam usaha-usahanya mempertahankan kemerdekaan yang sudah dimiliki oleh Republik Indonesia.

Idwan Anwar secara detail menggambarkan tentang Raja Luwu saat ia meninggalkan istananya yang nyaman dan ikut bertempur pada sebuah perlawanan heroik pasca kemerdekaan Indonesia di Sulawesi Selatan, lima bulan setelah Presiden Sukarno memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia di Jakarta.

Peristiwa itu dikenal sebagai Peristiwa Perlawanan Rakyat Luwu yang terjadi pada 23 Januari 1946 yang merupakan sebuah perlawanan dengan mengadopsi taktik perang gerilya yang mengharuskan Datu bersama pasukannya untuk selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain selama berbulan-bulan lamanya.

Cerita makin seru saat Datu harus di penjara dan terus dipindahkan dari satu penjara ke penjara yang lain selama 20 tahun sampai akhirnya di buang ke Ternate.

Puisi esai ini begitu filmis dan bisa menarik kembali pembaca untuk melihat perjuangan para bapa bangsa dari provinsi Sulawesi Selatan untuk membangun fondasi kemerdekaan dan mempertahankannya ketika kemerdekaan itu sudah direbut.

Meski pada akhirnya, perjuangannya Raja Luwu tersebut membuatnya hidup dalam kemiskinan, tapi disitulah pesan dari puisi esai yang satu ini, bahwa perjuangan untuk diri sendiri dan orang banyak tidak akan pernah membuat siapapun kaya materi tetapi memperoleh kekayaan dan keistimewaan dari hati banyak orang. Itulah kekayaan sebenarnya!

Seri puisi esai ini dilanjutkan dengan karya dari M. Anis Kaba dengan judul Elagi Buat Robert Wolter Monginsidi.

Pahlawan asal Sulawesi Selatan ini merupakan satu-satunya pahlawan yang juga secara luas dikenal oleh masyarakat Indonesia yang tewas ditembak oleh penjegal Belanda.

Selain itu, M. Anis Kaba juga mengangkat karakter utama Monginsidi yang rajin baca buku, sehingga, berkat ketekunan itu ia berhasil menguasi sejumlah bahasa sejak kecil.

Potongan cerita dari Pahlawan satu ini diangkat dengan baik oleh M. Anis Kaba ketika membaca karya ini kita seolah membaca otobiografi dari Robert Wolter Mogonsidi sendiri yang disastrakan, atau paling tidak kita seolah diajak mengenal lebih dekat mengenai sosok dan karakter dari pahlawan yang merupakan pentolan dari Barisan Kaum Pergerakan Melawan Penjajah Belanda atau yang lebih di kenal dengan NICA.

Rusdin Tompo menutup kisah-kisah sang penantang dari Sulawesi Tengah dalam seri puisi esai dengan judul Bunga Jalanan.

Berbeda dengan empat karya sebelumnya yang merupakan senjata melawan penjajah, Rusdin hadir dengan warna puisi esai yang lebih segar yang mengangkat tentang penantang untuk melawan kondisi sosia ekonomi di balik hiruk pikuknya kota Makassar.

Dalam puisi esai ini, Rusdin menceritakan bagaimana keadaan ekonomi keluarga yang mempengaruhi emosi dan juga kepribadian ayahnya secara langsung membuat Icha, tokoh dalam karya ini harus terjun dalam dunia hitam prostitusi jalanan.

Karya ini merupakan tamparan keras bagi penghayat kemerdekaan, namun juga merupakan satu bentuk perjuangan sang penantang untuk melawan situasi dan kondisi sosial ekonomi setelah kemerdekaan.

Bagaimana kita menghayati kemerdekaan kalau-kalau belum lepas dari kemiskinan? Kita belum benar-benar merdeka kalau, katakanlah, kemiskinan dan prostitusi jalanan masih ada. Kira-kira itulah yang ingin disampaikan oleh Rusdin.

Pada intinya, lima karya mengangkat tentang kisah-kisah sang penantang, menantang penjajahan dan menantang keadaan sosial ekonomi.

Transisi waktu yang diangkat pun cukup lebar tetapi masih relevan dengan judul dari puisi esai ini, sehingga pembaca akan seolah menghayati dua fenomena yang ada dalam kurun waktu yang juga berbeda.

Puisi esai ini harus disebarluaskan untuk menjadi refleksi bersama dan juga aksi bersama untuk menghayati kemerdekaan dengan baik dan benar, merajut kebersamaan untuk ikut merefleksikan kemerdekaan sementara memberi kesempatan bagi setiap orang untuk merasakan arti kemerdekaan yang sebenarnya, sehingga tidak ada seorang pun yang terjebak dalam kemiskinan, lingkaran hitam prostitusi jalanan dan narkoba di kemudian hari.

Kelemahan Buku

Dalam puisi esai kisah sang penantang ini terdapat beberapa kelemahan buku, antara lain:

  1. Catatan kaki dalam setiap seri puisi esai ini yang bagi saya mengganggu pembaca karena harus membaca catatan kaki terlebih dahulu untuk halaman berikutnya yang membuat cita rasa dan penghayatannya saat membaca puisi hilang. Baiknya catatan kaki ini diletakkan dibagian belakang atau di akhir seri puisi esai ini.
  2. Diksi yang digunakan dalam beberapa paragraf –yang ditemui disetiap puisi esai ini– cukup datar sehingga tidak terlalu dimengerti maksud dan tujuan dari pembaca.
  3. Pengulangan kata seperti meminta-minta tidak peka terhadap kata sebelumnya sehingga bahan bacaan ini seolah merupakan paragraf panjang yang harus dibaca dengan dua tarikan nafas untuk 7 kata

Contoh resensi puisi esai 2 – Gema Hati Mongondow

Judul puisi esai Gema Hati Mongondow 

puisi esai Mongondow

  • Judul Buku : Gema Hati Mongondow
  • Jenis Buku : Kumpulan Puisi Esai
  • Pengantar : Dr. Ratun Untoro, M.Hum
  • Penulis : Deisy Wewengkang, Hamri Manoppo, Muhammad Rifsan Makangiras, Pitres Sambowadile dan Sawiyah Al’ Idrus
  • Penerbit : Cerah Budaya Indonesia
  • Tahun Terbit : Tahun 2018
  • Cetakan : 1
  • ISBN : 978-602-5896-07-1
  • Tebal : 78 Halaman
  • Harga : –

Tak ada sastra yang lahir tanpa refleksi, begitupula dengan puisi esai yang mengambil salah satu nama daerah yang ada di provinsi Sulawesi Utara.

Mongondow adalah salah satu kabupaten yang menjadi batas antara Provinsi Sulawesi Utara dan juga Gorontalo dengan nama lengkap Bolaang Mongondow.

Topografi utama daerah ini adalah daratannya yang rata sepanjang mata memandang, disatu sisi alam yang karismatik disisi lain budaya masyarakat kental digariskan secara luas dalam puisi esai ini.

Pemilihan nama Mongondow dalam puisi esai cukup tepat untuk menggambarkan Sulut. Selain itu, sampul buku ini didesain dengan menarik dimana ada penyatuan antara mode pakaian adat Minahasa yang disebut dengan Kabasaran sedang membopong wanita dengan dress warna warna merah mencolok, seolah hendak menunjukan bahwa sastra harusnya lepas dari batas wilayah, etnis dan juga kepercayaan.

Judul dari puisi esai ini mungkin bisa saja diambil dengan nama lain seperti Sangihe, Minahasa, Bantik ataupun nama lain yang selama ini akrab dengan Sulut namun pengambilan judul Mongondow benar-benar ingin menggambarkan Sulut dari sudut pandang yang berbeda dan itu tertuang dalam seri puisi esai dari Sulawesi Utara ini, yang menjadi salah satu seri puisi esai Indonesia yang termuat dalam 35 karya serupa, yang menceritakan seluruh Indonesia.

Buku kumpulan puisi Esai ini dihantar oleh Dr. Ratun Untoro, M.Hum, yang merupakan mantan kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi utara yang beberapa kajiannya tentang bahasa sudah pernah di muat dibeberapa koran ternama di Sulut seperti Tribun Manado atau Manado Post.

Buku ini ditulis oleh beberapa penulis seperti Deisy Wewengkang, Hamri Manoppo, Muhammad Rifsan Makangiras, Pitres Sambowadile Dan Sawiyah Al’ Idrus lalu diterbitkan oleh Cerah Budaya Indonesia dengan tebal 78 halaman tidak termasuk pengantar, sampul dan juga beberapa halaman lain.

Lantas, mengapa karya sastra ini mampu menggambarkan sudut pandang yang berbeda dari citra Sulawesi Utara ini? Karena sebagian besar karya-karya sastra Sulawesi Utara selalu berputar-putar soal kuliner ekstrem, makanan khas Manado atau juga ciri historisnya.

Begitu juga dengan para penulisnya, yang mungkin hanya berputar pada beberapa nama seperti Iverdixon Tinungki atau Kumajaya Al Katuuk dan Merdeka Gideon tetapi ternyata ada beberapa penulis lain dengan karya sastra yang menarik.

Beberapa penulis hadir dengan memperlihatkan kelihaian berpuisi dengan gaya sastra kontemporer dipadukan dengan kehidupan sosial modern dengan bahasa yang akrab dengan kondisi masyarakat pada umumnya.

Penutup

Dibalik pergolakan dikalangan sastrawan apakah puisi esai merupakan aliran baru dalam sastra atau klaim sepihak dari perintisnya sebagai angkatan baru Sastra Indonesia, puisi esai tetap sebagai karya yang boleh dibaca.

Artinya, mengesampingkan muatan lain dibalik puisi esai adalah langkah yang paling tepat sebelum akhirnya memutuskan apakah ini aliran sastra baru atau bukan.

Demikian artikel tentang Resensi Puisi Esai adalah: Pengertian, struktur dan contoh. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda. ~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *