Resensi Novel Adalah: Pengertian, Tujuan, Metodologi Dan Contoh

5 min read

resensi novel adalah

Resensi novel adalah ulasan tentang suatu cerita atau tulisan yang dikemas menjadi novel. Untuk anda yang hendak membuat resensi novel, baca artikel ini sampai habis.

Jika ada beberapa dari anda yang sudah pernah meresensi entah itu buku, puisi esai, dan lain sebagainya pasti tahu dong metodologi dan caranya.

Dengan kata lain, anda tahu darimana harus memulai dan mengerti bahwa enggak setiap materi yang mau diresensi itu punya pendekatan yang sama.

Dengan kata lain, anda sepakat bahwa tidak mudah untuk membuat resensi novel yang bagus, kritis dan menarik.

Diperlukan pemahaman yang mendalam tentang novel baik dari segi latar belakang cerita, situasi jaman, pesan dan lain sebagainya.

Dan minimal anda sudah pernah membaca novel tersebut sekali saja. Kalau perlu, anda membacanya berulang-ulang sampai paham.

Di artikel kali ini saya hendak mengulas pengertian resensi novel, jenis, metodologi dan contoh resensi. Berikut artikelnya untuk anda.

Pengertian resensi novel adalah

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, Resensi novel adalah pertimbangan atau pembicaraan tentang novel.

Pertimbangan ini bisa diartikan sebagai ulasan. Ulasan didalamnya berisi pendapat atau tanggapan dari satu pihak tentang hasil kesustaraan atau tulisan.

Secara etimologis, resensi berasal dari istilah latin, Revidere dalam kata kerja recensere. Recensere secara eksplisit berarti melihat kembali.

Dalam konteks melihat kembali dapat diartikan sebagai pemberian pertimbangan [menimbang] atau memberi penilaian [menilai].

Kata ini kemudian di serap ke dalam berbagai bahasa seperti bahasa Belanda menjadi recensie, bahasa Inggris jadi review atau bahasa Indonesia menjadi resensi.

Apapun konteks bahasa yang digunakan pada akhirnya mengerucut pada kegiatan yang sama, yakni:

  • Memberikan penilaian
  • Mengungkap makna dan isi novel secara singkat
  • Memberikan bahasan
  • Memberikan kritikan
  • Dan lain sebagainya

Intinya, resensi novel adalah untuk memberikan informasi yang singkat, jelas dan padat kepada khalayak ramai atau masyarakat.

Resensi juga tidak terbatas pada novel tetapi juga pada sebagian besar karya manusia, seperti:

  • Buku
  • Komik
  • Majalah
  • Film pendek
  • Film
  • Puisi
  • CD, DVD atau VCD
  • Podcast atau rekaman suara
  • Dan lain sebagainya

Setiap materi diatas punya cara resensi sendiri-sendiri yang berbeda karena konteks dan jenis filenya yang berbeda.

Dengan kata lain, anda enggak bisa menggunakan teknik resensi buku pada novel atau teknik resensi novel pada rekaman suara atau podcast.

Tujuan resensi novel

Dalam konteks resensi novel, setidaknya ada beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh peresensi atau orang yang melakukan resensi, diantaranya:

  • Memberikan pendapat dari sudut pandang tertentu kepada pembaca atau calon pembaca
  • Memberikan ulasan singkat tentang materi novel
  • Melibatkan relevansi novel dengan nilai-nilai kehidupan saat ini
  • Memberitahukan tentang materi-materi dasar resensi seperti data-data penulis, sinopsis, pembahasan, kritik atau hal lain yang dilupakan penulis
  • Dan lain sebagainya
Jenis resensi

Agar hasil resensi novel jadi lebih bagus, setidaknya harus memenuhi tiga kriteria dasar dibawah ini seperti:

a. Informatif

Informatif berarti resensi novel yang dibuat itu harus menyampaikan isi dengan padat, singkat, jelas dan mudah dimengerti.

Tujuannya agar pembaca resensi bisa mengetahui tujuan dan maksud resensi sekaligus untuk memahami isi novel secara singkat.

b. Deskriptif

Deskriptif berarti isi resensi harus bisa menyampaikan novel itu dengan detail. Kalau perlu penyampaiannya dilakukan dari bab per bab agar lebih mudah dipahami.

c. Kritis

Kritis berarti novel yang diresensi tidak dibuat untuk tujuan promosi atau hal lain yang menguntungkan penulis dari sisi materi.

Kritis disini berarti peresensi melakukan resensi untuk tujuan pengetahuan dengan metode resensi sesuai dengan kaidah yang berlaku.

Tujuannya agar hasil resensi jauh lebih kritis dan objektif dalam memberikan penilaian terhadap isi cerita atau novel.

Meski terkadang tiga jenis resensi novel diatas digunakan secara bersamaan karena saling terkait satu dengan yang lain.

Jika metodologi resensi memungkinkan anda untuk meresensi berdasarkan jenis akan lebih bagus karena hasilnya lebih terstruktur.

Metode resensi novel yang baik dan benar

Untuk anda yang ingin melakukan resensi, ada cara dan metodologi yang harus diikuti. Artinya, resensi tidak boleh dilakukan sembarangan.

Nah berikut disajikan metodologi resensi novel yang baik dan benar, diantaranya:

  • Memilih novel mana yang mau di resensi
  • Setelah itu menentukan judul resensi. Untuk poin ini anda bisa buat belakangan setelah resensi jadi. Ingat juga, judul harus mewakili seluruh isi dan materi resensi yang dilakukan
  • Menyusun novel. Di tahap ini, anda mengenali materi-materi kunci pada novel seperti judul [apakah novel terjemahan atau bukan], pengarang, penerjemah, editornya atau penyuntingnya jika terdapat di katalog.
  • Menyertakan katalog penerbitan lain seperti nama penerbit, tahun diterbitkan, tebal, harga [jika ada], dan unsur-unsur lain
  • Membuat pembukuan. Di tahap ini, anda bisa memperkenalkan profil pengarang, karya yang dibuat sebelumnya, prestasinya dan lain sebagainya. Anda juga bisa membandingkan dengan novel yang ia tulis sebelumnya, dan hal-hal lain dibutuhkan seperti keunikan novel
  • Setelah itu beri tanggapan kritis terhadap kelemahan novel termasuk kesan anda setelah membacanya

Selain materi-materi diatas, anda juga bisa melibatkan berbagai aspek eksternal yang ada didalam novel seperti penerbit, pertanyaan yang mau diajukan, dialog dan lain sebagainya.

Anda juga bisa melibatkan berbagai konteks lain namun tergantung pada tujuan anda meresensi, apakah untuk digunakan secara formal atau untuk di posting di blog misalnya.

Jika tujuannya untuk digunakan pada kegiatan formal, tugas kuliah contohnya, silahkan libatkan beberapa aspek lain seperti:

  • Sinopsis dan isi novel dalam konteks bernas atau kronologis
  • Ulasan singkat novel dengan mengutip kata-kata didalamnya secara singkat
  • Keunggulan novel dibanding kategori lain
  • Kelemahan novel dibanding novel dalam kategori serupa
  • Kerangka novel
  • Konteks atau tinjauan bahasa, apakah mudah dibaca atau justru berbelit-belit
  • Bagaimana kualitas cetakannya, apakah ada kesalahan atau tidak
  • Dan lain sebagainya

Jangan lupa sertakan penutup resensi agar hasilnya lebih bagus dan menarik. Usahakan penutup berisikan kesimpulan tentang resensi yang anda buat.

Setela mengetahui pengertian, janis dan metodologi resensi, berikut disajikan contoh resensi novel yang saya buat beberapa waktu lalu.

Resensi ini dibuat bukan untuk tujuan formal tetapi untuk postingan di blog. Sehingga menggunakan teknik resensi biasa atau standar saja.

Contoh Resensi Novel Ibunda dan Ibu Indonesia Karya Maxim Gorki

contoh resensi novel

Resensi Novel ‘Ibunda’ karya Maxim Gorki ini diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer pada tahun 1955 dan diterbitkan pertama kali oleh Yayasan Pembaruan pada tahun 1956.

Menurut catatan, novel ini termasuk novel yang diminati pada masa itu dan dipilih untuk di terbitkan kembali guna menjawab tantangan sosial kemasyarakatan Indonesia yang makin parah akibat konflik dan kekerasan; dimana setiap anak yang mengalami masa sulit akan mencari sosok Ibunda.

Latar belakang novel ini mengambil rentang waktu awal abad ke-20 di Rusia dalam suasana kehidupan kaum buruh yang keras dan menyedihkan.

Hal ini juga terjadi pada keluarga Michail Vlassov seorang montir tercakap di pabrik namun memiliki kelakuan yang buruk karena sering memukuli istrinya, Pelagia Vlassov, sang Ibunda.

Ibunda sebagai tokoh utama digambarkan pada posisi yang paling lemah yang selalu mengalami perlakuan kasar dari suaminya.

Digambarkan secara fisik Ibunda yang agak bungkuk dan terkesan lebih tua dari usianya yang baru empat puluh tahun.

Ia memiliki seorang anak bernama Pavel Vlassov yang amat kecewa dengan perilaku ayahnya meski awalnya ia ingin mengikuti jejak ayahnya untuk bekerja di pabrik dan mabuk-mabukkan.

Setelah kematian Michail, sesuatu terjadi pada Pavel. Dia menjadi berbeda dan aneh dibandingkan dengan pemuda seusianya.

Di kala rutinitas kerja di pabrik tiap harinya dan pada hari Minggu, dia seolah-olah menghilang entah kemana. Ia menjadi tidak banyak bicara dan sibuk membaca sendiri diatas ranjangnya yang kaku.

Ibunda menjadi khawatir terhadap Pavel, namun juga merasa bahagia karena anaknya tidak lagi mabuk-mabukan

Kekhawatiran itu terjawab seat beberapa orang datang ke rumahnya dan mulai berbincang-bincang tentang hal yang Ibunda tidak ketahui apa itu termasuk beberapa kosa kata aneh.

Pavel dan beberapa orang temannya kemudian memulai pergerakan buruh. Mereka mulai menulis selebaran-selebaran perlawanan yang sontak membuat pihak pabrik geram.

Perjalanan gerakan ini tentu saja tidak mulus. Penggeledahan dan penangkapan mulai terjadi sampai akhirnya Pavel ikut ditangkap.

Ketakutan sang Ibunda selama ini menjadi kenyataan. Pavel dan kawan-kawannya ditangkap dan disiksa di depan matanya sendiri.

Ibunda tidak bisa diam setelah kejadian itu. Ia mulai belajar baca dan tulis dan mulai memahami hal-hal aneh yang membuat anaknya selalu berapi-api.

Semangat ibunda tidak dapat dibendung lagi, terlebih rasa cintanya pada Pavel yang begitu besar karena hanya Pavel lah yang Ibunda miliki saat ini.

Semangat revolusioner ibunda pun tidak hanya terbatas untuk anaknya saja. Karena itulah Ia menjadi aktivis sejati.

Yang menarik dalam novel ini adalah cerita perjuangan Ibunda sebagai aktivis namun tidak mengorbankan sisi religiositasnya yang mendalam.

Ibunda juga mampu mengaitkan persaudaraan kaum buruh dengan sosok yang diimaninya dan mulai paham tentang perbedaan dari ajaran mencintai.

Lebih ironis lagi saat Ibunda sadar bahwa kaum religius atau pendeta saat itu hanya memanfaatkan kekuasaan dan kemewahan diatas penderitaan orang miskin.

Ibunda berdiri untuk memilih tidak hanya patuh dan setia pada ritual-ritual gereja, melainkan terus menggali iman kepercayaannya secara mendalam tanpa tergoyahkan oleh kaum revolusioner lainnya yang pada umumnya tidak percaya lagi dengan Tuhan.

Gerakan yang dimulai oleh Pavel dan kawan-kawan adalah sebuah gerakan  yang menitikberatkan pada perubahan kesadaran melalui bacaan, diskusi dan penyebaran informasi.

Termasuk juga perlawanan tanpa kekerasan melalui pemogokkan pabrik atau cara-cara lain. Itulah sebabnya, Pelagia, sang Ibu menjadi tokoh dalam novel klasik ini.

Ibunda mulai masuk dalam kencah revolusi dengan membantu distribusi selebaran-selebaran dengan cara menyelipkan pada keranjang-keranjang yang ada di pasar.

Hingga pada titik klimaksnya ia ditangkap Polisi Militer dengan tuduhan pencurian dan di siksa dengan keras.

Pada saat itu ibunda berteriak, “Bahkan samudera pun takkan mampu menenggelamkan kebenaran!

Sudut pandang orang ketiga yang digunakan dalam novel ini seolah-olah mengamati gerak tokoh dengan teliti dan membuat pembaca masuk dalam cerita serta menggoyangkan rasa dan pikiran.

Sang narator ibarat mata dan telinga dari setiap tokoh yang ada. Novel klasik ini sangat menarik dari alur hingga ceritanya. Bahkan, ini menjadi referensi perjuangan kaum buruh dan juga aktivis perempuan.

Hingga kini, novel ini masih relevan dengan perjuangan kaum wanita atau feminis, terlebih khusus wanita yang ada di Indonesia.

Meski disadari masih banyak perempuan Indonesia yang mengalami kepahitan dan kekerasan yang hampir sama dengan yang dialami Ibunda.

Namun terkadang para perempuan itu menyerah pada keadaan dan memilih untuk diam dan tak bertindak.

Penulis sendiri masih belum tahu apakah novel ini masih di produksi sekarang atau tidak. Namun, novel langka ini masih tetap menjadi buruan banyak orang, termasuk penulis.

Penutup

Resensi novel sebenarnya agak sulit, apalagi jika anda belum memahami isi atau pesan yang mau disampaikan oleh penulis.

Oleh karena itu, sebelum meresensi pastikan anda sudah membaca novel secara keseluruhan sehingga bisa menangkap pesan dari setiap kata yang disampaikan penulis.

Demikian artikel tentang resensi novel adalah: pengertian, tujuan, metodologi dan contoh. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda ~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *