Perkembangan Puisi Indonesia: Periodisasi Waktu, Tokoh dan Karakteristik

Perkembangan puisi Indonesia dapat dilacak sejak era balai pustaka, yang merujuk pada perusahaan percetakan dan penerbitan era Belanda.

Di era ini lahir berbagai puisi konvensional yang memiliki karakteristik tetap mulai dari panjang, jumlah baris, larik, rima dan irama.

Setelah periode balai pustaka, lahir beberapa angkatan puisi yang tidak lagi patuh pada aturan-aturan lama dari balai pustaka tersebut.

Karena itu, ia dianggap sebagai puisi baru yang memiliki beberapa penyebutan mulai dari puisi modern, puisi kekinian, puisi mutakhir hingga puisi kontemporer.

Dan jika dilihat dari periodisasi waktu, perkembangan puisi Indonesia dapat dibagi menjadi tiga bagian bagian. Pertama, Sastra melayu lama, Balai Pustaka dan angkatan sesudahnya.

Oleh karena itu, untuk anda yang sedang cari perkembangan puisi Indonesia, sejarah singkat puisi indonesia sampai periodisasi puisi sastra, simak artikel ini sampai habis.

Perkembangan Puisi Indonesia: Periodisasi Waktu, Tokoh dan Karakteristik

Tanpa perlu berlama-lama, berikut disajikan perkembangan puisi Indonesia termasuk tokoh-tokoh, waktu dan karakteristiknya, seperti:

1. Puisi Melayu Lama

Puisi melayu lama, yang juga bisa disebut sastra Melayu lama adalah karya sastra termasuk puisi yang dibuat pada periode waktu antara tahun 1870-1920an.

Pada periode ini, sastra-sastra berkembang cukup pesat di beberapa wilayah di Indonesia seperti Langkat, Padang, Tanapuni dan beberapa wilayah di Pulau Sumatera lainnya.

Hanya saja, sastra tersebut hanya dibuat oleh orang-orang terpelajar seperti dari kalangan Tionghoa dan juga keturunan Indonesia-Eropa yang telah mengenyam pendidikan.

Ada beberapa contoh dari puisi melayu lama mulai dari syair, hikayat dan beberapa diantaranya merupakan terjemahan dari cerita-cerita luar meski untuk poin yang terakhir ini kebanyakan berupa novel.

Periode1870-1920
TokohTidak diketahui
JenisPantun, peribahasa, gurindam dan lain sebagainya

2. Angkatan Balai Pustaka

Seperti yang sudah disebutkan diatas yang mana Balai Pustaka adalah perusahaan percetakan dan penerbitan negara yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Tujuan dari pendirian perusahaan ini adalah untuk mengembangkan bahasan-bahasa daerah utama dan mencegah pengaruh buruk sastra melayu rendah.

Dimana, pada waktu itu, sastra melayu banyak terinspirasi dari kehidupan pernyaian atau cabul, dan beberapa diantaranya mengandung alasan politis, yang dianggap berbahaya.

Baca Juga:

Artinya, dalam periode ini, muncul banyak puisi yang dicetak berdasarkan dari sastra masyarakat yang telah berkembang dari waktu ke waktu dan diwariskan secara turun temurun.

Secara periode, angkatan Balai Pustaka dimulai pada 1920-an, setelah perusahaan itu berdiri dan berakhir pada 1933. Hanya saja, pengaruhnya masih dijumpai sampai tahun 1950-an setelah kemerdekaan.

Contoh dari angkatan balai pustaka ini ada banyak mulai dari balada, pantun, gurindam dan lain sebagainya.

Periode1920-1923
TokohSanusi Pane, Rustam Effendi dan Muhammad Yamin
JenisSajak, Pantun, Syair

3. Angkatan Baru (1933-1970)

Angkatan sesudahnya, merujuk pada periode kemunculan puisi setelah era Balai pustaka diatas. Di era ini, lahir beberapa angkatan, seperti:

a. Angkatan pujangga baru (1933-1945)

Pujangga baru adalah angkatan yang tidak lagi patuh pada aturan-aturan pembuatan puisi yang dikeluarkan oleh Balai pustaka.

Artinya, puisi-puisi buatan mereka jauh lebih bebas. Inilah yang kemudian mendasari penyebutan angkatan ini sebagai pengarang sastra baru.

Pada periode ini, lahir beberapa jenis puisi yang saat ini dikenal seperti distikon, terzina, quatrain sampai dengan soneta.

Perbedaan antara setiap jenis puisi dari angkatan baru hanya ada pada jumlah barisnya. Contohnya, distikon yang hanya terdiri dari dua baris, terzina tiga baris sampai dengan soneta yang terdiri dari 14 baris.

Periode1933-1945
TokohAmir Hamzah: Nyanyi Sunyi (1937), Sutan Takdir Alisjahbana: Tebaran Mega (1936), Armijn Pane: Jiwa Berjiwa (1939) dan lain sebagainya
JenisDistikon (2 baris), Terzina (3 baris), Quatrain (4 baris), Quint (5 baris), Sektet (6 baris), Septima (7 baris), Oktaf (8 baris) dan Soneta (14 baris)

b. Angkatan 45

Setelah angkatan pujangga baru, munculah angkatan 45 yang juga punya ciri khas sendiri dalam karya-karya buatan mereka.

Pada umumnya, puisi angkatan 45 masih menggunakan pendekatan yang sama dengan angkatan sebelumnya dimana puisi buatan mereka tidak lagi terikat pada aturan-aturan dari pujangga baru.

Ciri utama dari angkatan ini ada pada kebebasan struktur pembuatan puisi namun karya-karya mereka banyak dipengaruhi oleh ekspresionisme dan realisme.

Penggunaan diksi juga lebih dalam karena melibatkan pengalaman banti pujangga serta bahasa yang digunakan lebih luwes karena menggunakan bahasa sehari-hari.

Hanya saja, dari segi isi, puisi dalam angkatan ini kebanyakan berkaitan dengan ironi dan sinisme. Artinya, mayoritas merupakan kritikan sosial, kemasyarakatan atau kemanusiaan.

Periode1945-1953
TokohChairil Anwar: Krikil Tajam (1949), Sitor Situmorang: Surat Kertas Hijau (1954) dan lain sebagainya
JenisSatire, balada, elegi, epigram, himne dan lain sebagainya

c. Angkatan 53

Setelah angkatan 45 berakhir, munculah angkatan 53 yang mayoritas puisi di dalamnya masih dipengaruhi oleh semangat revolusioner kemerdekaan.

Artinya, pengaruh dari angkatan 45 pada periode ini masih terasa tapi sudah tidak terlalu kental. Dengan demikian, jika angkatan 45 sisi patriotisme diangkat maka periode ini merujuk pada nasionalisme.

Hanya saja, karena situasi sosial masyarakat mulai terbentuk, isi dalam angkatan ini kebanyakan menyoroti romantisme dan balada.

Dengan kesan puisi yang subkultur dan muram tapi tetap menggunakan pendekatan dari masalah-masalah sosial, cerita rakyat sampai dengan mitos.

Ini terlihat dari puisi-puisi buatan Atmo Karpo dan Paman Ddoblang. Lantas, apa yang membedakan angkatan 53 dan angkatan berikutnya? Sisi politiknya.

Yang juga memicu lahirnya organisasi-organisasi sastra dan kebudayaan seperti LKN, LEKRA, LESBUMI, LKK dan beberapa organisasi lain.

Ciri utama dari angkatan 53 ini ada pada puisi mereka yang isinya menceritakan atau epic dan dipengaruhi oleh gaya mantra, yang usah dimasukkan ke dalam balada.

Selain itu, terdapat juga gaya repetisi serta retorik. Suasana muram masih terdapat dalam puisi angkatan ini, dengan sorotan utama pada masalah-masalah sosial, kemiskinan, kepercayaan dan penciptaan.

Periode1945-1953
TokohToto Sudarto Bachtiar: Suara (1956), Ramadhan Karta Hadimadja: Priangan Si Jelita (1958) dan lain sebagainya
JenisSatire, balada, elegi, epigram, himne dan lain sebagainya

d. Angkatan 66

Pada periode ini, objek utama puisi kebanyakan berkaitan dengan masalah-masalah sosial kemasyarakat, yang memang, pada waktu itu cukup memprihatinkan.

Ini ditandai dengan demonstrasi besar-besaran dari kalangan mahasiswa, transisi pemerintahan dari Soekarno ke Soeharto dan lain sebagainya.

Umumnya, pada angkatan ini, puisi dibuat untuk mendorong atau meningkatkan semangat pemuda dan mahasiswa saat akan berdemonstrasi.

Dan di era inilah lahir beberapa penulis kenamanaan seperti W.S. Rendra dan Taufiq Ismail, yang membacakan sajak mereka di podium aksi.

Periode ini juga ditandai dengan lahirnya beberapa fasilitas sastra seperti Majalah Horison pada 1966, Budaja Djaja pada 1968 serta pembangunannya Taman Ismail Marzuki, yang dianggap sebagai pusat kebudayaan.

Hanya saja, pada periode ini, ada dua aliran besar sastra yang mendominasi yakni neo-romantisme yang fokus pada sisi-sisi kepahlawanan dan cinta, yang bersifat metafisik dan keduniawian.

Contoh dari karya-karya neo-romantisme ini bisa dilihat dari karya-karya buatan Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi W.M dan lain sebagainya.

Aliran besar kedua adalah intelektualisme, yang fokusnya ada pada kritik sosial berdasarkan pengalaman pribadi pujangga.

Contoh dari aliran intelektualisme dari angkatan 66 ini bisa dilihat dari karya-karya seperti Subagio Sastrowardoyo, Toeti Heraty, Soe Hok Gie dan lain sebagainya.

Periode1945-1953
TokohSapardi Djoko Damono: Dukamu Abadi (1969), Taufiq Ismail: Tirani (1966), W.S Rendra: Empat Kumpulan Sajak (1961) dan lain sebagainya
Jenis

3. Puisi Kontemporer

Puisi kontemporer, yang kadang juga disebut puisi mutakhir, merujuk pada angkatan kepuisian setelah angkatan 66 diatas.

Artinya, jika angkatan 66 berakhir pada 1970, maka secara eksplisit, puisi kontemporer dimulai pada periode ini.

Ciri utama dari puisi kontemporer ada pada gaya dan bentuknya yang tidak lagi patuh atau mengikuti kaidah-kaidah kepuisian yang sudah ada sebelumnya.

Artinya, orang-orang bisa buat atau rangkai kata sesuai keinginan mereka, sebebas-bebasnya dan sekreatif mungkin.

Dengan demikian, ada suasana eksplorasi kemungkinan baru dalam puisi kontemporer. Karena itu, umum dijumpai penjungkirbalikan kata-kata dan penggunaan idiom.

Atas alasan inilah, puisi kontemporer dianggap sebagai puisi inkonvensional. Selain itu, pemilihan temanya juga sangat bebas.

Artinya, tidak ada tema-tema sentral dalam puisi kontemporer karena penyair bisa fokus ke masalah protes, lalu pada puisi berikutnya soal romantisme, humanisme, religiositas, kemanusian dan lain sebagainya.

Penutup

Sejarah puisi di Indonesia sangat panjang tapi yang baru mulai terdokumentasi dengan baik setelah tahun abad ke-20.

Ini ditandai dengan lahirnya Balai Pustaka. Sebelum itu, puisi baru diwariskan secara lisan, sama seperti dongeng atau fabel.

Demikian artikel tentang periodisasi perkembangan puisi Indonesia termasuk tokoh dan karakteristiknya. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda. ***

Tinggalkan komentar