Perbedaan Skala Richter dan Skala Momen Magnitudo

Untuk anda yang sampai hari ini masih penasaran sama perbedaan antara Skala Richter [SR] dan Skala Momen Magnitudo [Mw], baca artikel ini sampai habis.

Saya sering melihat berita terkait gempa bumi di media massa menggunakan skala yang berbeda saat menyebutkan kekuatan gempa.

Misalnya, media A menggunakan skala Richter sementara media B menggunakan Momen Magnitudo.

Dua-duanya memang menunjukan besaran gempa dalam angka tapi apakah perhitungannya sama?

Pertanyaan itulah yang memotivasi saya untuk cari referensi sana sini guna mengetahui apa sih perbedaan skala Richter dan skala Momen magnitudo.

Sekaligus untuk menjawab pertanyaan lain yang cukup teknis seperti bagaimana cara menghitung magnitudo gempa? Apa yang dimaksud dengan skala Richter? rumus skala Richter dan lain sebagainya.

Jawaban dari beberapa pertanyaan teknis diatas sudah saya ulas di artikel sebelumnya tentang 3+ skala yang sering digunakan untuk mengukur kekuatan gempa.

Karena itu, di artikel ini saya fokus pada perbedaan antara skala Richter dan Mangitudo. Penasaran apa perbedaannya? Berikut penjelasannya untuk anda.

Apa sih perbedaan Skala Richter dan Momen Magnitudo dalam gempa?

Logaritma yang memungkinkan orang untuk mengetahui besaran kekuatan gempa muncul pertama kali pada 1930 saat Charles Richter membuat Stasiun Seismografi di California Selatan.

Tujuannya tak lain adalah untuk mengukur besaran gempa bumi dari data-data frekuensi yang berhasil direkam seismograf terdekat.

Kelak, skala ini kemudian disebut ML, dimana M merupakan akronim dari Magnitudo sementara L merupakan kependekan local [lokal].

Karena itu, terkadang, ada beberapa ahli yang menyebut Skala ini sebagai Magnitudo Richter.

Seiring waktu berjalan dan dengan makin banyaknya seismograf, muncul satu masalah baru saat ahli dan praktisi lapangan menggunakan skala ini untuk mengukur besaran setiap gempa di dunia.

Masalah ini berkaitan dengan kinerja magnitudo Richter sendiri, yang hanya berlaku pada rentang dan jarak tertentu.

Artinya begini, Skala Richter hanya mampu mendeteksi gempa secara terbatas dan terkadang hasilnya tidak akurat.

Karena itu, untuk mengetahui dengan pasti titik dan lokasi gempa, diperlukan pendistribusian data secara global.

Kalau begitu, dibutuhkan skala baru yang mampu mendistribusikan data-data tersebut untuk mengetahui titik gempa dimana, panjang gelombangnya berapa dan lain sebagainya.

Beberapa ahli kemudian menelurkan ide untuk membuat skala magnitudo baru yang merupakan pengembangan dari ide Richter.

Kemudian lahirlah dua skala seperti body wave magnitude atau gelombang tubuh [Mb], surface wave magnitudo atau gelombang permukaan [Ms].

Masing-masing skala itu mengukur gelombang permukaan pada rentang frekuensi dan jenis sinyal seismik tertentu.

Untuk validitasnya tak jauh beda dengan skala Richter begitu juga dengan akurasinya.

Ini Perbedaan Antara Perhitungan Skala Richter dan Magnitudo
Ilustrasi perhitungan Skala richter via usgs.gov 

Karena keterbatasan tiga skala diatas, yakni ML, Mb dan Ms, maka diperlukan suatu skala yang mampu mewadahi semua logaritmik itu.

Inilah yang kemudian jadi cikal bakal lahirnya skala momen magnitudo [Mw].

Setelah diperkenalkan, hingga sekarang, Mw sudah jadi salah satu metode pengukuran yang banyak digunakan di ruang-ruang diskusi ilmiah atau dalam rilis pers terkait gempa bumi.

Dan ini sudah terbukti di lapangan, dimana, magnitudo momen mampu memberi perkiraan yang akurat terhadap kekuatan satu gempa bumi.

Ada dua parameter utama yang diterapkan dalam skala Momen Magnitudo untuk mengukur besaran gampa, yakni:

  • Moment yang mewakili kuantitas fisik slip saat terjadi pergerakan sesar dibawah tanah. Dengan kata lain, ini berkaitan dengan energi total yang dilepaskan saat pergerakan itu terjadi. Hal ini semakin diperkuat dengan data awal dimana seismogram memungkinkan penyajian data geodetik
  • Momen tersebut kemudian diubah menjadi angka yang akan dijadikan rumus standar besaran gempa. Hasilnya disebut momen besaran kekuatan gempa
  • Besaran momen ini memberikan perkiraan ukuran gempa yang berlaku dan kisaran luasnya, termasuk karakteristik lain yang tidak ada dalam skala Richter

Penutup

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan kalau skala momen Magnitudo lebih akurat ketimbang Skala Richter.

BMKG sendiri sejak tahun 2008 sudah menggunakan skala Magnitudo untuk memberi informasi seputar gempa bumi kepada masyarakat Indonesia.

Artinya, skala Richter mulai ditinggalkan meski masih banyak orang, termasuk beberapa media massa, tetap menggunakan SR untuk menggambarkan besaran gempa.

Demikian artikel tentang perbedaan Perbedaan Skala Richter dan Skala Momen Magnitudo. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda. ***

Glosarium
  • Skala Richter adalah skala yang dikembangkan Charles F. Richter pada tahun 1935. Richter merupakan peneliti dari Institut Teknologi California yang berhasil menciptakan perangkat matematis untuk membandingkan ukuran gempa bumi. Besar gempa bumi dari skala ini berasal dari logaritma gelombang amplitude yang direkam Seismograf. Seismograf sendiri adalah alat yang mampu mendeteksi gempa bumi. Lalu disesuaikan dengan jarak antar seismograf dengan episentrum gempa bumi. Dalam skala Richter, besar gelombang dinyatakan dalam bilangan bulat dan bilangan desimal. Sebagai contoh, 5,3 skala Richter masuk dalam kategori moderat dan gempa kuat dapat dinilai lebih dari 6,3 masuk dalam kategori Magnitudo. Karena basisnya logaritma maka setiap kenaikan jumlah angka mewakili peningkatan sepuluh kali lipat aplitudo terukur, yang merupakan perkiraan energi yang dilepaskan
  • Frekuensi adalah berapa kali suatu gelombang terjadi dalam satu periode, seperti tanah yang berguncang dalam 30 detik atau yang terjadi secara berulang
  • Gelombang tubuh adalah gelombang seismik yang bergerak didalam perut bumi, sebagai lawan gelombang permukaan yang bergerak didekat permukaan bumi, yang biasa disebut gelombang P dan S. Setiap gelombang akan mengguncang tanah dengan cara berbeda
  • Gelombang permukaan adalah gelombang seismik yang terperangkap di permukaan bumi
  • Gelombang seismik adalah gelombang elastis yang dihasilkan oleh implus seperti gempa bumi atau ledakan bom. Gelombang ini bisa terjadi di sepanjang permukaan bumi (gelombang Rayleigh dan Love waves) atau melalui interior bumi (gelombang P dan S). Gelombang Rayleigh sendiri adalah gelombang permukaan seismik yang menyebabkan tanah berguncang dalam gerakan elips tanpa gerak melintang atau gerak lurus.
  • Gelombang cinta atau love waves adalah gelombang dengan gerakan horizontal yang melintang (agak tegak lurus) ke arah yang dilalui gelombang
  • Gelombang P atau gelombang AP adalah gelombang kompresi atau gelombang tubuh seismik yang mampu mengguncang tanah ke depan atau ke belakang dari arah yang sama atau arah yang berlawanan
  • Sementara, gelombang S atau gelombang geser adalah gelombang seismik yang menguncang tanah secara berturut-turut dan tegak lurus terhadap arah gelombang bergerak
  • Slip adalah perpindahan relatif dari titik-titik yang sebelumnya berdekatan pada sisi-sisi yang berlawanan, yang diukur pada permukaan patahan
  • Fault adalah patahan fraktur dimana kerak bumi berpindah relatif satu sama lain dan sejajar dengan fraktur. Faktur terbagi antar sesar-sesar, normal dan sesar balik
  • Kerak adalah lapisan utama terluar bumi, yang terletak dalam kisaran 10 hingga 65 kilometer dari permukaan bumi di seluruh dunia. Kerak paling tinggi bisa mencapai 13-35 km kerak namun cukup rapuh, yang jadi salah satu sumber utama gempa
  • Seismogram adalah rekaman yang ditulis oleh seismograf sebagai respon terhadap gerakan tanah yang dihasilkan oleh gempa bumi, ledakan atau sumber gerakan tanah lainnya.
  • Geodetik mengacu pada penggunaan geodesi untuk pengukuran. Sementara, geodesi adalah ilmu yang menentukan ukuran dan bentuk bumi serta lokasi titik-titik yang ada di permukaannya. 

Tinggalkan komentar