Tata Cara Penulisan Dialog Dalam Novel [Aturan, Tanda Baca dan Contoh]

7 min read

Menulis dialog

Salah satu tantangan terbesar saat menulis novel adalah penulisan dialog. Bukan hanya dalam novel tetapi untuk jenis cerita lain seperti cerpen, cerber [cerita bersambung] dan lain sebagainya.

Dalam sebuah cerita, dialog adalah elemen penting yang tidak boleh dipisahkan dengan isi cerita. Bahkan, percakapan dapat menjadi nilai tambah cerita tersebut.

Sementara, kata aturan disini bukan sebuah aturan wajib yang harus diikuti oleh seluruh penulis. Penggunaan istilah aturan ini mengacu pada kebiasaan lazim yang digunakan saat menulis.

Hal-hal dibawah ini pun dapat dengan mudah diterapkan pada tulisan yang sedang anda buat. Yang akan membantu pemca untuk lebih paham dengan poin-poin cerita yang anda buat.

Secara umum, ada 6 aturan tanda baca yang berlaku untuk sebuah novel, antara lain:

  1. Posisi inden yang digunakan setiap kali ada orang baru yang berbicara
  2. Perjelas siapa yang sedang berbicara
  3. Tanda kutip hanya ditaruh di awal dan akhir ucapan
  4. Jika ada dialog dari orang yang sama tidak usah pakai paragraf baru
  5. Gunakan ragam bahasa dan kata ganti sifat
  6. Untuk kutipan yang panjang

Jika anda penasaran tentang tata cara penulisan dialog, sebaiknya simak artikel ini. Karena pembahasannya agak panjang, anda boleh siapkan kopi, cemilan dan rokok untuk yang perokok.

Tata Cara Penulisan Dialog Dalam Novel [Aturan, Tanda Baca dan Contoh]

Tanpa perlu berlama-lama, berikut saya sajikan artikel tata cara penulisan dialog dalam novel, termasuk aturan, tanda baca dan juga contohnya. Berikut artikelnya:

1. Gunakan inden setiap kali ada orang baru berbicara

Hal paling pertama yang harus diperhatikan saat membuat dialog adalah Inden. Banyak penulis yang salah paham soal ini, apalagi penulis pemula.

Oleh karena itu, setiap kali ada orang baru yang berbicara anda harus membuat paragraf baru atau indentasi.

Indentasi bertujuan untuk memberi tanda bahwa kalimat tersebut tidak diucapkan oleh orang yang sama dalam dialog.

Baca Juga : 5 Situs Tempat Jual Foto Terbaik Dengan Bayaran Tinggi

Sekalipun dalam dialog, orang yang ada tidak mengucapkan satu kata pun, atau mungkin menggunakan frasa atau kata yang pendek, tetap perlu indentasi.

Juga sertakan deskripsi yang mungkin menyertai tindakan orang yang sedang terlibat dialog di paragraf awal sebelum kutipan dibuat. Untuk lebih paham, silahkan lihat contoh dibawah ini.

Ariel berkata, “Luna, apakah kamu dengar suara-suara aneh tadi malam?” Ariel mendorongnya ketika Luna tidak menanggapi.

“Suara apa?” tanya Luna, “Dengkuranmu?”

Ariel melotot padanya. “Bagaimana aku dengar kalau aku tidur sambil mendengkur? Seolah-olah semua yang aku lakukan itu salah di matamu!”

Luna tahu dia marah karena tidurnya tidak nyenyak tadi malam. Meski sebenarnya Luna hanya berupaya agar Ariel tahu bahwa dengurannya tersebut mengganggu tidurnya.

Diatas hanyalah contoh kecil dari indentansi. Sampai disini sudah paham atau belum? Kalau belum paham, sebaiknya baca kembali deh. Kalau sudah paham, izinkan saya melanjutkan.

Mengapa indentansi itu penting dalam sebuah dialog?

Secara umum, tujuannya untuk membantu pembaca mengikuti alur percakapan yang ada. Dengan demikian, inden membantu pembaca mengetahui jika saat ada orang baru yang bercerita.

Dalam sebuah film, petunjuk visual dan audio dapat membantu penonton untuk mengetahui ketika ada orang baru yang berbicara.

Namun dalam tulisan, jika tidak menggunakan inden, maka pembaca akan kesulitannya menentukan siapa yang berbicara.

Baca Juga : Cara Menulis Esai Deskriptif Tentang Orang Atau Tempat

Untuk contoh diatas lebih akrab pada novel-novel terjemahan, yang bahasannya agak sedikit kaku. Saya yakin anda pernah baca novel-novel yang sudah diterjemahkan, kan?

Inden juga berlaku secara internasional. Coba anda perhatikan dialog-dialog dalam novel-novel mutakhir seperti karya-karya Dee.

2. Tulis dengan jelas siapa saja yang sedang berbicara

Untuk hal ini tidak ada aturan yang pasti tentang berapa kali anda perlu menyebut nama orang saat dialog terjadi.

Aturan paling dasar untuk hal ini adalah usahakan tidak membuat pembaca bingung dengan dialog yang anda buat, yang mungkin bisa membuat pembaca membaca ulang cerita.

Setelah membaca ulang dan pembaca belum tahu siapa yang berbicara, kemungkinan mereka akan lompat ke dialog berikutnya atau paragraf selanjutnya.

Namun, setelah saya perhatikan pada beberapa novel, jika ada dialog singkat yang terjadi pada dua orang, namanya ditulis sebanyak 5-6 kali, terkadang lebih untuk novel-novel tertentu.

Untuk anda penulis pemula, usahakan gunakan hal yang sama. Jangan lebih dan jangan kurang. Proporsional istilahnya. Agar lebih mudah paham, anda bisa lihat percakapan dibawah ini.

“Sudah bangun, Ariel?” tanya Luna.

“Apa?”

“Kamu sudah bangun apa belum?”

“Belum”

“Maksudnya?”

“Maksudnya kamu ingin membangunkan saya” guman Ariel sambil lalu mendengus.

“Oh”

“Jadi apa yang kamu mau?” dia tergagap.

“Tidak apa-apa,” kata Luna. “Kembalilah tidur.”

Jika anda perhatikan, setiap kalimat yang ditandai paragraf baru berarti orang baru yang berbicara. Pola inilah yang harus anda libatkan dalam dialog.

Agar penekanannya jelas, anda bisa menggunakan kata sifat yang bisa membantu pembaca untuk mengetahui suasana dan emosi yang sedang terjadi pada dialog.

3. Tanda kutip

Setiap novel atau cerita selalu menggunakan tanda kutip sebanyak dua kali saat dialog. Tanda kutip itu terjadi saat ada tokoh dalam cerita mulai berbicara dan juga saat ia berhenti bicara.

Oleh karena itu, gunakanlah tanda kutip yang tepat dan pastikan ditempatkan sebelum kata-kata diucapkan dan setelah selesai diucapkan.

Penting juga diingat, jangan pernah memasukkan nama orang yang sedang berbicara dalam tanda kutip. Sebagai contoh:

Penggunaan tanda kutip yang salah:

“Ariel berkata saya akan mengambil cucian saya hari setelah pulang dari studio.”

“Bagus, kalau begitu aku bisa psan Grab Food untuk makan malam nanti, jawab Luna.”

Penggunaan tanda kutip yang benar:

Ariel berkata, “ saya akan mengambil cucian hari ini setelah pulang dari studio.”

“Bagus, kalau begitu aku bisa pesan Grab Food untuk makan malam nanti,” jawab Luna.

4. Jika ada pembicara yang sama tidak perlu buat paragraf baru

Terkadang saat membangun dialog, penulis ingin menambahkan deskripsi atau informasi lain yang mungkin akan diucapkan oleh seseorang dalam cerita.

Untuk situasi semacam ini, ada perlu memperhatikan dua hal penting ini, yakni:

  • Tanda kutip digunakan setelah mulai berbicara dan saat berhenti berbicara.
  • Jika orang yang sama sedang berbicara, anda tidak perlu memulai paragraph baru.

Agar lebih mudah paham, anda bisa lihat pada contoh dibawah ini:

Nadiem lu, sepupu suami saya, punya potongan rambut yang tidak biasa: membulat di depan, mencuat diatas, dan pendek. “Jelas,” kata suamiku, “Menarik! sangat keren.” Saya sama sekali tidak terkesan, namun saya dapat mengerti maksud suami saya untuk memotong rambutnya dengan gaya yang sama. Akhirnya, dia mengaku, “Saya sebenarnya meminta anda untuk memotong rambut saya seperti Nadiem, karena menurut saya, gaya itu bisa membuat saya terlihat lebih sopan.”

“Oh… maaf,” kataku. Meskipun sebenarnya saya tidak dapat membayangkan bagaimana rupa suami saya dengan gaya seperti itu.

5. Gunakan ragam bahasa seperti katakanlah

Jika anda rajin baca novel, ada bagian-bagian kata tertentu yang bikin bosan, salah satunya adalah dialog. Jika anda adalah penulis, usahakan jangan membuat kata-kata yang mungkin membuat bosan pembaca.

Untuk mengatasinya, anda bisa menggunakan kata seperti ‘Katanya‘ dan ‘dia berkata‘ atau percakapan yang berusaha menempatkan identitas pembicara di awal kalimat.

Salah satu tujuan penggunaan ragam kalimat seperti ini adalah untuk membuat tulisan anda terasa lebih profesional dan bagus. Pada poin ini, ada beberapa bagian yang harus anda perhatikan dengan seksama, antara lain:

a. Perhatikan variasi kata

Membuat dialog secara tidak langsung sama dengan membuat variasi. Disini, anda harus mengetahui dimana anda akan meletakkan dialog, apa itu diawal, tengah atau akhir paragraf.

Yang paling umum adalah menempatkan dialog ini pada awal, tengah dan akhir kalimat. Tetapi perhatikan tanda kutip. Sebagai contoh:

Awal kalimat:

Akhirnya, dia mengaku, “Saya akan meminta anda untuk memotong rambut seperti milik Nadiem, karena saya pikir itu mungkin membuat saya terlihat lebih sopan.”

Namun, saya akhirnya berubah pikiran setelah sepupu jauh saya itu memberi tahu kalau potongan rambut tersebut membuatnya di ejek teman-temannya.

Akhir dari kalimat :

“Oh… maaf,” kataku.

Di tengah-tengah:

“Jelas,” kata suamiku, “sangat canggih dan keren.”

b. Baiknya gunakan banyak kata ganti

Cara paling efektif untuk membuat pembaca tidak bosan dengan dialog yang anda buat adalah dengan menggunakan banyak kata ganti yang berbeda.

Kata ganti ini berfungsi untuk memberi gambaran emosi yang tepat tentang orang tersebut. Berikut beberapa contoh kata ganti dalam penulisan novel:

  • Untuk pronomina subjek, kata saya bisa diganti Aku dan daku untuk orang pertama [bentuk jamaknya kita dan kami]
  • Kamu bisa diganti anda dan kau untuk orang kedua [bentuk jamaknya Kalian atau kamu sekalian]
  • Ia bisa diganti dengan dia dan beliau untuk orang ketiga [bentuk jamaknya adalah Mereka]
c. Gunakan kata yang terintensifikasi

Sebenarnya, kata terintensifikasi adalah kata yang punya banyak fungsi. Kata ini bisa digunakan untuk memberi keterangan tentang suasana atau emosi orang dalam dialog tersebut.

Beberapa contoh kata terintensifikasi adalah Mengejutkan, cepat, serius dan lain sebagainya. Tujuannya adalah agar mampu menintensifkan emosi dalam dialog sekaligus membantu pembaca untuk paham apa yang sedang terjadi.

6. Untuk kutipan yang panjang dalam dialog

Setiap penulis memang ingin hemat kata, namun sebaiknya perhatikan lagi deh. Ada tulisan yang boros kata namun ternyata menarik dan laku keras dipasaran. Salah satu contoh tulisan yang boros kata adalah novel Ayu Utami, Tabula Rasa.

Ada tulisan juga yang hemat kata, dengan pendekatan emosi yang kuat, juga sama menariknya. Apabila anda ingin menulis novel sebaiknya gunakan kata-kata yang singkat dan jelas. Meski sebenarnya ini adalah tantangan terbesar dalam menulis.

Ada satu hal yang ingin saya katakan disini, bahwa menggunakan kutipan yang panjang bisa mempengaruhi emosi pembaca. Yang berarti, kutipan tersebut spesial dan jelas harus menarik.

Untuk anda yang sedang menulis dan tersandera dengan kutipan pendek, berikut ada beberapa tips yang bisa anda coba terapkan untuk bisa membuat kutipan yang panjang, antara lain:

a. Gunakan paragraf reguler

Tapi jangan gunakan cara mengutip sumber seperti pada koran atau tulisan ilmiah saat menggunakan kutipan yang panjang ini. Oleh karena itu, cukup gunakan format paragraf seperti biasa kecuali untuk dialog.

b. Perhatikan tanda kutip

Diatas sebenarnya sudah disinggung soal ini. Tetapi, jangan lupakan tanda kutip. Oleh karena itu, gunakanlah tanda kutip sebelum memulai atau mengakhiri dialog.

Terkadang juga, dalam tulisan tersebut ada dialog dimana seseorang yang sedang berbicara dalam jangka waktu yang lama.

Seperti misalnya salah satu tokoh dalam novel yang sedang menceritakan sebuah kisah perjuangan saat naik Kapal Putih milik Residen Hindia Belanda ke Batavia.

Dengan kata lain, cara menekankan cerita tersebut harus berbeda. Jika ada orang yang berbicara lebih dari satu paragraf, sebaiknya terapkan 4 tips ini:

  • Masukan tanda kutip sebelum kata pertama
  • Jangan menaruh tanda kutip di akhir paragraf jika ia sedang berbicara
  • Sebagai tanda, anda juga bisa memasukkan tanda kutip lagi diawal paragraf sebagai kode bahwa tokoh dalam cerita masih berbicara
  • Setelah itu, beri tanda kutip lagi apabila tokoh tersebut sudah selesai bercerita

5 Cara buat percakapan dalam novel yang efektif dan menarik

Sebelum menutup artikel ini, saya juga akan memberikan beberapa tips menulis dialog yang efektif dan menarik dalam novel, termasuk juga untuk cerpen, cerber dan semua jenis karangan lain.

Tips-tips dibawah ini sangat sederhana, sehingga bisa diterapkan langsung pada cerita anda, baik yang baru di buat atau sudah dibuat. Berikut tipsnya:

1. Tambahkan kata sifat

Soal ini sebenarnya saya sudah jelaskan dibagian atas. Kata sifat berfungsi untuk menjelaskan bagaimana seseorang sedang melakukan atau mengatakan sesuatu.

Usahakan juga untuk menambahkan minimal 1 kata sifat saja dalam kalimat atau dialog yang sedang anda buat.

2. Gunakan kata semantik

Agar tidak bertele-tele dan terlalu boros kata, anda bisa menggunakan kalimat atau kata dengan arti yang sama.

Istilahnya, gunakanlah ragam semantik dalam tulisan tersebut. Ini juga bisa membuat tulisan anda lebih renyah dan tidak membosankan.

Agar anda lebih paham tentang dua poin ini, berikut saya berikan contohnya untuk anda:

  • Ariel berkata, “Anda mau kemana sekarang?”
  • “Anda mau kemana sekarang?” Kata Ariel.
  • Dengan suara halus, Ariel bertanya, “Anda mau kemana sekarang?”
  • Ariel terisak, “Anda mau kemana sekarang?”
  • Ariel dengan senang bertanya, “Anda mau kemana sekarang?”
  • “Di mana,” Ariel tiba-tiba menyela, “Kamu pergi sekarang?”

Poin diatas hanyalah contoh ya. Anda bisa sesuaikan dengan cerita atau novel yang sedang anda buat. Oh iya, jangan lupa tanda kutip.

3. Tunjukkan saja siapa yang sedang berbicara

Agar dialog tidak monoton, sebaiknya tunjukkan kepada pembaca siapa saja yang sedang berbicara sehingga anda tidak perlu menyebutkan namanya beberapa kali.

Apabila ada lebih dari dua orang yang sedang berbicara, sebaiknya beri tahu pembaca siapa yang lebih sering berbicara atau lebih dominan. Yang penting, tanda kutip jangan dilupakan.

4. Perbanyak kosa kata

Sebagai penulis, anda wajib menguasai banyak kosa kata. Oleh karena itu rajin-rajinlah baca buku untuk menambah preferensi kosa kata anda.

Saat novel atau cerita tersebut sudah selesai dan siap diterbitkan, anda tidak bakalan tahu siapa yang akan dan sudah membaca novel tersebut, dari kalangan usia mana dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, jika novel anda bergenre romantic atau fiksi, gunakanlah kata yang sesuai. Sekali dua kali dalam dialog anda boleh gunakan kata rayuan atau ilmiah. Asal jangan berlebihan.

5. Rajin baca novel pada genre yang diambil

Ada banyak genre atau aliran dalam novel, yang paling populer adalah sains-fiksi, romantic dan petualangan, songlit dan lain sebagainya.

Jika anda ingin menjadi seorang penulis yang profesional, pilih salah satu genre saja. Lalu, perbanyak preferensi untuk genre tersebut.

Baca juga novel-novel yang sesuai dengan genre yang diambil. Misalnya, apabila anda mengambil genre scie-fi, anda bisa  baca novel semacam A Space Odsysey.

Pelajari teknik penulisan dalam novel tersebut, termasuk juga penggunaan dialog, kata ganti dan kata sifat. Yang paling terakhir, jangan beritahukan tetapi tunjukkan [show, don’t tell].

Penutup

Aturan-aturan penulisan dialog yang saya ulas diatas sebenarnya bukanlah aturan baku. Namun, umumnya semua teknik penulisan menggunakan cara diatas.

Yang paling terakhir, usahakan untuk fokus pada tulisan anda, terlebih pada dialog tersebut. Saat menulis, jangan pikirkan soal teknisnya dulu. Ada waktunya, yakni saat proses pengeditan nanti.

Nah demikian artikel tentang Tata cara penulisan dialog dalam novel [aturan, tanda baca dan contohnya]. semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda ~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *