Sejarah Dibalik Berdirinya Monumen Trikora Jayawijaya Di Salakan

4 min read

Monumen Trikora Jayawijaya Di Salakan

Sejatinya, monumen adalah sebuah tempat yang selalu di rawat dan dikelola dengan baik. Karena, selain menjadi ikon suatu wilayah juga menjadi saksi bisu perjalanan sebuah daerah. Seperti pula Monumen Trikora Jayawijaya di Salakan Kabupaten Banggai Kepulauan.

Sejarah Dibalik Berdirinya Monumen Trikora Jayawijaya Di Salakan

Monumen Jayawijaya di Salakan adalah salah satu simbol perjuangan bangsa Indonesia untuk merebut kembali Irian Barat (Papua. red) yang dikuasai Belanda setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia.

Mengenai persoalan Irian Barat, berdasarkan kesepakatan dalam sejumlah perundingan maupun kesepakatan pada Konferensi Meja Bundar (KMB) serta usaha-usaha lewat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), wilayah Irian Barat harusnya diserahkan pada Indonesia.

Sayangnya, pihak Belanda tidak patuh pada hasil perundingan tersebut. Akibatnya, mereka tidak mau menyerahkan bumi cendrawasih itu.

Sebelumnya upaya diplomasi terus digalakan pemerintah Indonesia. Namun tiap kali hal itu di lakukan, yang pada dasarnya berupa tuntutan nasional kepada pihak Belanda, selalu buntu.

Tak ada kesepakatan. Alih-alih, Belanda justru makin senter untuk memasukkan Papua Barat kedalam Negara Indonesia Timur (NIT) yang terdiri dari Bali, Maluku, Nusa Tenggara dan Sulawesi sebagian bagian dari kekuasaannya.

Frans Kaisepo, tampil sebagai penentang paling dominan atas maksud Balanda itu. Ia mengganti istilah Papua dari Nederlands Nieuwe Guinea, sebuah nama yang diberikan pihak pemerintah Belanda untuk Papua menjadi Irian, yang merupakan akronim dari ‘Ikut Republik Indonesia Anti Nederlands‘.

Geram atas sikap Belanda, operasi Trikora (Tri Komando Rakyat) kemudian digamborkan, dan menjadi operasi militer terbesar yang pernah dilakukan oleh Indonesia.

Sebelumnya, Pada 19 desember 1961, Presiden Soekarno mengumumkan pelaksanaan Operasi Trikora di alun-alun Utara, kota Yogyakarta, lalu membentuk komando Mandala dengan pucuk pimpinan tertinggi berada di tangan Mayor Jenderal Soeharto sebagian Panglima Komando, yang kelak menjadi presiden Republik Indonesia ke dua.

Tugas komando Mandala ini adalah untuk merencanakan, mempersiapkan dan menyelenggarakan operasi militer demi menggabungkan Papua bagian barat dengan indonesia.

Isi dari operasi Trikora berkaitan dengan tiga poin utama yakni: Melaksanakan Mobilisasi Massa, Mengibarkan bendera merah putih disana lalu Mengusir Belanda dari tanah Papua.

Bisa di bilang, kekuatan utama Indonesia saat itu terletak pada salah satu kapal perang terbesar dan tercepat di dunia buatan Uni Soviet dari kelas Sverdlov, dengan 12 meriam raksasa kaliber 6 inchi.

Kapal ini diberi nama KRI Irian, yang mempunyai bobot 16.640 ton dengan total 1270 awak kapal termasuk 60 perwira didalamnya.

Soviet tidak pernah memberikan kapal sekuat ini pada bangsa lain, kecuali Indonesia. Sekarang, kapal-kapal terbaru Indonesia hanya dari kelas Sigma dengan bobot tak lebih dari 1600 ton.

Jadi ikon Banggai Kepulauan

Monumen Trikora Jayawijaya Di Salakan Kabupaten Banggai Kepulauan
Pemandangan dari Undara lokasi Monumen Trikora Jayawijaya di Salakan, Kabupaten Banggai Kepulauan/via skygrapher.id

Monumen Trikora dengan tinggi 17 meter ini diresmikan oleh Soeharto setelah menjadi Presiden pada 12 Agustus 1995.

Monumen ini tepat menghadap Teluk Ambelang dan Pulau Bakalan, tempat dimana kapal-kapal perang pada tahun 1961 berkumpul. Di kaki bukit, terdapat prasasti berisi ucapan terima kasih masyarakat Tinangkung kepada Soeharto.

Selain itu, tertulis pula kapal-kapal TNI-AL dan pasukan dari berbagai kesatuan seperti Pasukan Pendarat (Pasrat) 45, Batalion III/KKO yang bermarkas di Surabaya, Batalion Kesehatan, pasukan relawan dan puluhan Batalion lain dan sebagainya, semuanya dilibatkan dalam operasi Trikora.

Untuk mencapai monumen berbentuk segitiga ini, pengunjung harus menapaki 214 anak tangga. Di sekitar tugu terdapat halaman berteras sebagai tempat mengenang peristiwa masa lampau, yakni perjuangan bangsa Indonesia dalam upaya untuk memerdekakan diri dari belanggu penjajah.

Dikisahkan, pada Agustus 1962, daerah Banggai Kepulauan adalah daerah terpencil dan sepi dari lalu lintas perhubungan laut ini sekonyong-konyong kedatangan kapal-kapal perang dengan ukuran besar mulai dari kapal perang, sebuah Kapal Selam, dan banyak kapal niaga, yang makin lama makin banyak jumlahnya.

Titiknya berada di Teluk Bakalan, di depan Salakan. Pasukan bersenjata ini sengaja dipusatkan di perairan Teluk Bakalan yang selalu sigap mendukung operasi Trikora.

Teluk bakalan dipilih sebagai pangkalan militer darurat karena letaknya yang strategis untuk mendukung pelaksanaan operasi Trikora Pada saat itu, sebab menjadi penghubung antara pulau Jawa dan Papua.

Prihatin

Boleh di bilang, Monumen ini merupakan titik modernisasi bagi Banggai Kepulauan. Nilai sejarahnya terletak pada kenangan orang-orang Banggai untuk melihat langsung kekuatan militernya sendiri.

Setelah 44 Tahun operasi militer itu dilakukan, monumen itu kini resmi menjadi saksi sejarah. Ironisnya, setelah 23 Tahun sejak di resmikan oleh Suharto, monumen ini kini dilupakan, dan tak terawat.

Monumen yang lokasinya tepat didepan kantor DPRD Kabupaten Banggai Kepulauan itu saat ini terlihat memprihatinkan. Tumbuhan liar menyelimuti jalan menuju lokasi monumen.

Di sekitar area monumen, Batang-batang Pohon yang di lingkari semacam pot ukuran besar yang terbuat dari semen terdapat botol minuman kaleng, botol bir, botol-botol bekas, bungkus rokok, puntung rokok dan sampah-sampah lain.

Di dekat Monumen pagar-pagar telah ditutupi tumbuhan liar. Sekilas kesan sarat sejarah, hilang. Ada juga bungkus cemilan, dan bungkus makanan ringan lain disitu.

Pengunjung harus ekstra hati-hati jika mengambil jalan menuju menumen dari bawah bukit, dimana prasasti berada. Sebab tangga naik tampak berlumut dan licin.

Di dekat monumen trikora jayawijaya di Salakan, ada mesin pengaduk semen berwarna orange yang dibiarkan begitu saja, juga di tutupi tumbuhan liar.

Monumen yang berdiri tegak di atas perbukitan di Salakan itu nyaris hanya berupa susunan batu biasa, yang tak harus dibersihkan dan dikelola, dan seakan tak punya sejarah di baliknya.

Padahal, monumen ini adalah ikon, dan lambang kebesaran Kabupaten Banggai Kepulauan, yang sudah di abadikan menjadi sebuah nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), nama jalan dan berada di kawasan strategis, karena menjadi bagian dari kompleks perkantoran pemerintah.

Tak jauh dari situ juga terdapat Kantor Bupati yang berdiri kokoh dengan interior modern dan bersih, kontras dengan Monumen ini. Di sekitar prasasti, di atas lapangan trikora, pun tak kalah memprihatinkan.

“Sudah Lama. Ini bisanya saat sore banyak yang berkumpul disini. Ada yang santai, babondeng (pacaran. red) sampai minum minuman keras,” Kata Ahmad, salah satu pengunjung yang sempat ditemui.

Lebih lanjut, Ahmad mengatakan bahwa tempat ini sudah cukup lama tak dibersihkan. Ia berharap pemerintah bertindak cepat untuk membersihkan area sekitar monumen.

“Sudah kotor dan tak terawat. Kalau bersih pasti lebih banyak yang datang. Mudah-mudahan pemerintah bisa membersihkan secepat mungkin. Kalau tidak, besok-besok mungkin akan di jumpai kondom disini,” Tandasnya sambil tersenyum pada Senin (22/01/18) kemarin.

Ironis memang. Padahal, dengan maksud untuk menyebarluaskan sejarah mengenai keberadaan Monumen Trikora Jayawijaya ini, beberapa waktu lalu Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan telah meluncurkan sebuah buku karangan Wartawan senior Sulawesi Tengah, Soeria Lasny terkait monumen ini. Buku itu diberi judul, ‘Monumen Jayawijaya Trikora Salakan’.

Saya berusaha berusaha mencari buku tersebut di Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Banggai Kepulauan, sayang buku tersebut tidak ditemui disana.

Membuktikan apa yang dikatakan Ahmad, saya berkunjung di lokasi monumen saat sore sekira pukul 5 dengan mengambil jalur atas melewati kantor Kwarcab Pramuka.

Setelah sampai, benar apa yang dikatakan Ahmad, semua pengunjung adalah anak muda. Terlihat mereka tertawa, sebagian lagi duduk-duduk di tangga area monumen.

Seorang anak muda terlihat sedang mengumpulkan ranting-ranting pohon untuk di bakar. Beberapa muda-mudi menyendiri di atas motor, tepat dibawah tempat penggalian pasir gunung, yang lazim disebut disini sebagai ‘Domato’.

Asap pekat membumbung ke awan, sebab mereka juga membakar sisa-sisa minuman kemasan botol. Saat itu, kesan sarat sejarah juga membumbung, hilang bersama asap yang makin pekat. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *