Metafisika Adalah: Pengertian, Asal-Usul dan Objek Studi

6 min read

metafisika

Sederhananya, metafisika adalah adalah bidang ilmu filsafat yang mempelajari penyebab terakhir atau ultimate causa.

Karena itu banyak orang yang kemudian bertanya-tanya, metafisika itu apa sih? Bagaimana cara mempelajarinya? Dan pertanyaan lain serupa

Untuk anda yang sedang mempertanyakan metafisika, di artikel kali ini akan saya ulas secara singkat tentang definisi metafisika.

Ulasan ini memang belum secara lengkap membahas pengertian metafisika karena cakupan ilmunya yang sangat luas.

Karena itu butuh pembelajaran lebih lanjut dari anda. Nah tanpa perlu berlama-lama, berikut disajikan definisi metafisika termasuk asal-usul dan objek studinya.

Pengertian metafisika adalah

Dalam kamus besar bahasa Indonesia [KBBI] metafisika adalah ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hal-hal nonfisik atau tidak kelihatan.

Dalam praktiknya, ilmu ini selalu berusaha mempertanyakan prinsip asali dari realitas. Dan prinsip asali ini pada akhirnya akan mengantar orang pada pemahaman mengenai the many dan the one.

The many terletak pada bagian indrawi-empiris sedangkan the one terletak pada lapisan meta indrawi. Dua hal ini dipandang sebagai landasan metafisika dalam praktiknya.

Aristoteles dianggap sebagai peletak dasar atau orang pertama yang berusaha mempertanyakan hakekat metafisika.

Baginya setiap ilmu selalu berusaha mencari penjelasan (causa) tentang suatu permasalahan. Walaupun masing-masing ilmu mencari penyebabnya sendiri tapi bagi Aristoteles pasti ada satu penyebab pertama atau causa prima.

Dan penyebab pertamanya adalah metafisika atau filsafat pertama. Metafisika adalah penyebab prima dan ilmu lain adalah penyebab particular atau filsafat kedua.

Dari sini kemudian dipahami bahwa dalam perjalanan filsafat di era-era awal sudah ada topik tentang lapisan indrawi dan meta indrawi.

Dengan kata lain, metafisika adalah cabang filsafat yang juga mempertanyakan tentang filsafat itu sendiri.

Dan ada dua hal penting yang harus diketahui oleh anda yang ingin belajar metafisika, diantaranya:

  • Perlunya penjelasan tentang proximate cause dan ultimate cause. Proximate cause bersifat langsung, terbatas dan partikular. Sedangkan ultimate cause bersifat universal atau menyangkut realitas secara keseluruhan dan tidak bersifat empiris atau radikal
  • Disamping itu, sekalipun metafisika mempelajari prinsip pertama namun tetap berangkat dari prinsipnya yang secara langsung berbeda dengan penyebab. Karena kalau si A adalah penyebab maka si B adalah efek. Artinya penyebab tidak merupakan bagian intrinsik dari efek. Prinsip berarti konsep yang karenanya segala sesuatu dapat diulang atau dimengerti. Dan metafisika bertugas menjelaskan prinsip-prinsip tersebut agar manusia bisa memahami realitas secara keseluruhan.

Dalam perjalanannya kemudian, metafisika terbagi menjadi dua aliran utama, diantaranya:

  • Metafisika Materialisme yang bertumpu pada pandangan hidup untuk mencari dasar segala sesuatu, termasuk hidup manusia di alam dalam konteks benda semata-mata namun mengesampingkan segala hal yang mengatasi indera
  • Metafisika spiritualisme yang termasuk aliran filsafat yang mengutamakan kerohanian atau akrab disebut spiritisme

Objek studi Metafisika

Setiap ilmu pengetahuan, termasuk filsafat, tentu punya objek studi sendiri. Dengan kata lain, metafisika juga demikian.

Secara spesifik, metafisika adalah bidang ilmu yang mempertanyakan arti dari pengada dan mengada.

Dengan demikian, objek penelitian metafisika ada pada tataran tersebut yang dikenal sebagai being as being.

Hanya saja, objek studi metafisika masih memiliki banyak kendala dalam penerapannya, seperti:

a. Pembelajarannya fokus pada objek yang tidak ada

Tidak ada ilmu pengetahuan yang mampu bertanya tentang apa itu to be atau being selain metafisika.

Karena itu objek metafisika adalah sebagai ilmu yang mempertanyakan tentang being atau objek yang merupakan lapisan terdalam dari realitas secara rasional.

Kalau begitu bagaimana cara menjelaskan objek studi metafisika pada tataran “pengada” atau “mengada”?

Setiap ilmu mempelajari bagian tertentu dari realitas. Artinya setiap ilmu memiliki pandangan tersendiri tentang satu sudut pandang dari objek.

Misalnya realitas tentang manusia dijelaskan oleh setiap ilmu dari sudut pandang atau pendekatan yang berbeda.

Namun masing-masing ilmu tidak pernah bertanya mengapa objek itu ada selain metafisika. Maka dari itu, objek studi metafisika adalah ada sebagai prinsip riil yang paling universal untuk mengerti segala sesuatu.

Dengan demikian, objek studi yang paling pertama adalah mempelajari objek yang tidak ada atau being pada dirinya sendiri [being as being].

b. Persoalan bahasa

Ada beberapa istilah yang sering digunakan untuk menjelaskan objek studi ini salah satunya adalah to be-being atau esse-eus (“ada” yang “mengada”).

Secara filosofis penalaran ini tidak tepat maka digunakan istilah being yang kemudian diterjemahkan menjadi “pengada”.

Dan untuk menjelaskan pengada merujuk pada aktivitas mengada. Dengan demikian, suatu aktivitas mengada dan pengada merupakan suatu yang bereksistensi.

Namun pengada harus dibedakan dari benda Pengada yang merupakan suatu yang ada atau bahwa sesuatu itu menyatu dengan aktivitas mengada.

Jadi istilah pengada merujuk pada suatu eksistensi dan ini harus dibedakan dengan benda yang secara esensial berarti benda atau barang.

Dengan kata lain, jika anda menyebut itu adalah burung maka sebutan itu merujuk pada esensi dari burung itu.

Tapi barang atau benda itu punya hakekat yang dimengerti sebagai the whatness atau the quality yang merupakan esensi dari keapaan.

d. Bertanya maksud pengada apakah sekadar pengada?

Selanjutnya adalah bagaimana mempertanyakan pengada itu sebagai sesuatu yang ada atau sekedar mengada?

Untuk menjawab ini harus dilihat objek pertanyaannya, seperti:

  • Objek formal metafisika atau yang lazim disebut being as being
  • Atau objek material dari metafisika yang adalah realitas sebagai suatu totalitas
e. Mempelajari karakteristik

Disisi lain, metafisika juga mempelajari karakteristik namun pembelajaran karakteristik ini masih terbatas pada beberapa unsur.

Artinya, apakah karakterisik dasar pengada secara total adalah pengada atau mengada. Jika iya, apakah punya punya hubungan kesatuan, kausalitas atau keindahan dengan mengada.

f. Hubungan dengan Tuhan

Metafisika spiritualisme juga coba mempelajari atau menghubungkan antara ilmu filsafat ini dengan kepercayaan secara teologis.

Dalam metafisika, Tuhan dianggap atau dimengerti sebagai prinsip metafisika dari realitas secara total.

Ruang lingkup

Secara umum, ada beberapa ruang lingkup metafisika, diantaranya:

  • Mempelajari tentang sifat manusia secara kontekstual termasuk hubungannya dengan alam sekitar baik fisik dan nonfisik
  • Mengetahui sifat dan fakta untuk mencapai tujuan demi memahami aturan alam semesta
  • Mengetahui penyebab dan masalah untuk mencapai kebebasan berpikir tentang hidup
  • Mencari tahu apa yang menyebabkan manusia itu ada

Dari ruang lingkup inilah akhirnya muncul berbagai cabang metafisika, seperti:

  • Metafisika teologi yang berusaha mempelajari Tuhan, agama dan kepercayaan manusia tentang sesuatu yang ada diluar manusia
  • Metafisika eksakta adalah bidang ilmu metafisika yang secara khusus mempelajari hal-hal konkret yang bisa diselidiki atau diketahui termasuk penyebab mengapa hal-hal konkret itu ada
  • Ontologi yang secara khusus mempelajari hakekat hidup manusia

Pengertian metafisika menurut para ahli

Ada beberapa ahli yang sudah mendefinisikan metafisika, diantaranya:

1. Pra Socrates

Beberapa filsuf yang hidup di era pra Socrates sebagian besar pusat studinya berada pada dunia empiris atau fisik.

Karena itu, filsafat pertama yang lahir di era itu adalah kosmologi. Selanjutnya, di zaman Aristoteles semua ilmu disebut filsafat karena juga tetap mempelajari dunia fisik.

Tapi harus ada filsafat lain yang mempelajari being dari realitas itu atau harus ada filsafat pertama yang menjadi dasar dari filsafat lainnya.

Kalau begitu apa objek studi dari filsafat pertama itu? Objek studi dari filsafat pertama dimengerti dalam dua arti, yakni:

  • ta hyper ta physika (yang melampaui dunia fisik)
  • ta meta ta physika (yang melandasi dunia fisik)

Sampai disini Aristoteles sepakat bahwa filsafat sendiri mempelajari dua objek formal di atas, meski disadari masih ada perbedaannya.

2. Menurut Plato

Kedua objek diatas bagi Plato sama saja dan ia menyebutnya sebagai dunia ide. Dengan kata lain, ide adalah filsafat pertama.

Dan dunia ide adalah dunia yang melatarbelakangi dunia fisik karena tanpa dunia ide tidak ada dunia fisik atau sebaliknya.

3. Menurut Aristoteles

Aristoteles membantah teori Plato dengan teori substansi. Ia mengatakan bahwa teori hilemorfisme bukan untuk membedakan fisik dan ide.

Artinya, fisik selalu menyatu dengan dunia ide meski Aristoteles percaya bahwa tetap ada perbedaan ta hyper ta physika dan ta meta ta physica.

Namun keduanya harus menjadi satu bagian dengan asumsi tidak pernah ada materi yang terbentuk tanpa bentuk.

Dengan kata lain, ta hyper ta physica tidak harus berpisah dari ta meta ta phyica dan hal ini ia sebut sebagai being.

Dengan demikian, Aristoteles menyebut kalau metafisika secara langsung mempelajari tentang being meski ia tidak menggunakan istilah metafisika.

4. Andronicus of Pannonia

Kalau begitu, kapan kata metafisika mulai digunakan? Metafisika pertama kali digunakan oleh Andronicus of Pannonia dalam karangan-karangannya.

Dalam perkembangannya kemudian, metafisika dibedakan menjadi dua cabang ilmu yakni metafisika khusus dan metafisika umum.

Kadang juga metafisika disebut sebagai ontology [ontologi]. Penggunaan kata ganti metafisika menjadi ontologi bersumber dari pemikiran Christian Wolf.

Metafisika sebagai sumber pengetahuan manusia [human knowledge]

Pertanyaannya kemudian, bagaimana hubungan metafisika dan pengetahuan manusia entah itu pengetahuan spontan dan pengetahuan sistematis?

Untuk menjawab pertanyaan diatas, perlu dilihat dari sudut pandang metafisika itu sendiri, yakni:

  • Pengetahuan spontan berarti pengetahuan yang diperoleh manusia tentang alam semesta berdasarkan kemampuan kodrati untuk bernalar. Yang berarti, manusia punya kemampuan untuk membedakan apa yang benar dan salah. Perbedaan tentang manusia dan alam semesta ada pada sisi substansi dan aksidental. Sehingga pengetahuan spontan adalah pengetahuan yang berada di permukaan. Pada level lain ilmu pengetahuan berefleksi secara sistematis tentang objek partikular alam semesta
  • Sedangkan pengetahuan sistematis adalah cabang filsafat yang berbicara tentang hakekat objek tertentu (secara partikular) seperti filsafat manusia. Metafisika sebagai ilmu mempelajari being sebagai being yaitu prinsip universal yang mendasari seluruh realitas

Kalau sudah ada pengetahuan spontan dan sistematis apakah masih perlu metafisika? Untuk menjawab ini ada beberapa hal yang juga perlu anda diketahui, seperti:

  • Karena pengetahuan spontan seringkali tidak lengkap, maka manusia membutuhkan pengetahuan yang lebih mendalam dan bersifat ilmiah
  • Pengetahuan spontan dan ilmiah membutuhkan pertanggungjawaban secara fundamental dan metafisis
  • Pengetahuan spontan dan ilmiah pada umumnya hanya mengandalkan objek-objek sebagai pengada tanpa menyelidiki status pengada. Karena itu metafisika butuh analisis yang lengkap dan mendalam tentang realitas

Hubungan Metafisika dan Moral

Metafisika juga punya hubungan yang erat dengan moral. Dalam pengalaman orang yang kehilangan keyakinan moral cenderung kehilangan dasar intelektualnya.

Dalam keadaan ini, ia akan terjebak dalam skeptisisme kebenaran. Karena kebenaran moral diyakini selalu berada dalam level metafisis.

Tanpa keyakinan moral dan metafisis, orang tersebut akan terjebak pada tiga prinsip:

  • Skeptisisme terhadap kebenaran yang direlativir
  • Agnostisisme terhadap kebenaran tentang Tuhan entah itu ada atau tidak
  • Bersikap realatif tentang hukum moral yang universal

Hubungan metafisika dan Teologi

Teologi adalah refleksi ilmiah tentang iman. Karena itu metafisika dibutuhkan untuk menjelaskan tentang apa itu iman dan bagaimana iman itu ada.

Hubungan metafisika dan teologi punya sejarah yang sangat panjang dan ada beberapa filsuf yang mencari hubungan dua hal ini, diantaranya:

  • St. Agustinus yang membedakan rasio interior (tingkatan pengetahuan ilmiah) dan rasio superior (instrumen iman dan teologi). Artinya, ia mendudukkan teologi di atas filsafat dan metafisika. Artinya, teologi dianggap sebagai puncak dari segala pengetahuan yang ada
  • Anselmus dari Contebery yang terkenal karena perkataannya fides querens inteklectum. Ia juga menempatkan teologi secara istimewa yang melampaui pengetahuan rasional
  • St. Thomas Aquinas adalah filsuf pertama yang menghargai fungsi filsafat dan metafisika. Namun penghargaan itu berada dalam dua level yakni level empiris dan level filosofis. Artinya wilayah teologi tidak dapat dimasukkan oleh filsafat meski disadari ada wilayah teologis yang bisa dijelaskan secara rasional
  • Agus Comte dalam teorinya tentang tiga zaman yang dimulai dari [1] zaman positivisme (berbicara tentang hal-hal kongkrit), [2] zaman filsafat (lebih maju, rasional tapi abstrak dan tidak relevan) dan [3] zaman mitos (level yang tidak rasional dan tidak masuk akal). Karena itu, ia berpandangan kalau metafisika tidak selalu penting tetapi bila dibandingkan dengan teologi, metafisika tentu lebih maju
  • Lt Wina yang memegang prinsip verifikasi untuk melegitimasi positivisme. Suatu hal bisa diterima apabila ia relevan dan bisa diukur. Di kemudian hari, ide ini dipandang sebagai dasar teori Language games
  • Kelompok Whithead yang menjelaskan perbedaan Tuhan teologis dan Tuhan metafisis. Bagi mereka, filsafat ketuhanan selalu berada dalam konteks percakapan tentang kehidupan dari realitas sebagai sesuatu kesatuan sementara metafisika tidak lain dari upaya untuk memahami pengalaman hidup secara keseluruhan dan dalam pengalaman ini juga melibatkan Tuhan
  • Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Fides et ratio yang didalamnya menjelaskan hubungan iman dan rasio. Bahwa teologi dogmatis membutuhkan filsafat karena bahasa yang rasional dan komunikatif
  • Teologi moral membutuhkan filsafat karena teologi membutuhkan instrumen rasional atau moderat

Penutup

Mempelajari metafisika berarti anda berusaha memahami filsafat, rasio dan hal-hal lain baik yang dapat dilihat secara fisik atau tidak.

Intinya, metafisika berusaha mencari kebenaran secara ilmiah tentang hal-hal yang ada dalam diri manusia dan atau yang diluar dari dirinya.

Demikian artikel tentang metafisika adalah: pengertian, asal-usul dan objek studi. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda. ~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *