Membaca Sastra Di Era Digital, Suatu Kondisi Paperless

9 Likes Comment
membaca sastra di era digital

Membaca Sastra Di Era Digital – Saat ini, banyak orang yang mulai percaya bahwa sastra sama sekali tidak penting. Hal ini timbul karena pemikiran bahwa membaca itu membosankan dan menghabiskan waktu saja.

Semuanya tentu dimulai dari lembaga pendidikan yang tidak menekankan bahwa membaca, baik itu sastra atau bukan, tidak menjadi hal yang penting dan mendesak untuk dilakukan.

Kita hanya membaca bahan bacaan saja dan tidak memberikan argumen tambahan mengapa membaca itu penting.

Ada juga stigma dalam masyarakat yang menyiratkan bahwa membaca haruslah condong kepada sains atau matematika, karena ada anggapan bahwa dua ilmu tersebut lebih berguna dalam kehidupan.

Nyatanya, yang terjadi adalah sebaliknya. Membaca sastra secara tidak langsung membantu seseorang untuk lebih bergairah dalam menjalani hidup.

Kadang, sastra menjadi motivasi yang kuat agar seseorang juga tidak terlalu berpikir hal-hal yang tidak substansional, seperti tekanan karena gaji yang rendah dan tidak pernah naik.

Dengan kata lain, sastra telah mengambil peran dalam literasi manusia. Ia ada karena manusia membutuhkannya.

Dengan demikian, sastra memiliki fungsi sebagai gerbang kehidupan untuk mempelajari masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Paperles Era

Dalam dunia filsafat, era saat ini disebut dengan era post modern. Dalam pengertiannya, era ini sudah membawa manusia untuk meninggalkan hal-hal yang dianggap modern dan mulai beralih ke hal yang jauh lebih canggih.

Inovasi terknologi memiliki peran penting didalamnya. Bahkan, gara-gara inovasi inilah manusia bisa mengetahui kalau dirinya sudah kelewat modern.

Teknologi ini juga telah mengambil peran yang penting dalam kehidupan manusia, termasuk cara berpikir. Objek cara berpikir inilah kemudian dipahami sebagai sastra.

Baca Juga : Berbahayakah Menjadi Radikal?

Salah satu hal yang paling terasa di era post-modern ini adalah hadirnya buku-buku elektronik sebagai pengganti buku konvensional.

Beberapa orang menyebutnya sebagai Paparles Era, dimana penggunaan kertas telah bergeser ke kertas elektronik.

Banyak orang mengakui bahwa era paperless memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia, terutama soal lingkungan.

Karena sejumlah besar informasi dikirim sebagai lampiran email dengan harapan bahwa orang-orang bisa mencerna dokumen tersebut tanpa harus mencetaknya diatas kertas.

Selain itu, beberapa karya sastra pun harus dibawa ke ranah digital dengan tujuan untuk menggaet pembaca lebih banyak dan meningkatkan efisiensi penggunaan kertas. Beberapa aplikasi hadir sebagai penyedia jasa tersebut seperti Google Book dan juga WattPad.

Meski begitu, masalahnya tentu bukan soal efisiensi dan juga strategi manajemen untuk menggaet pembaca, tetapi ada pada manusia itu sendiri.

Bagaimana mereka memaknai sastra sebagai literatur yang abadi, yang mampu mempengaruhi manusia secara intrinsik.

Dan tidak melulu soal nilai ekonomisnya yang menguntungkan, atau minat baca masyarakat. Meskipun paperless era sudah efisien, bagaimana jika seandainya minat baca itu tetap saja rendah?

Baca Juga : Mengapa Banyak Yang Menyebut Stadium Generale Sebagai Stadium Generale?

Kertas memungkinkan seseorang untuk meningkatkan kreativitasnya secara bebas, lengkap dan memiliki makna mendalam hanya dari sepotong kertas bersih.

Sebagai contoh, coba ambil sepotong arang lalu gosok ke tangan setelah itu tempelkan diatas kertas. Selamat, anda sudah menciptakan kreativitas baru.

Atau, anda juga bisa mengambil lipstik lalu taruh pada bibir anda dan letakan diatas surat cinta yang anda kirim kepada seseorang yang anda cintai.

Sama halnya dengan karya sastra yang ditulis dalam buku akan menghasilkan respon yang sama. Atau juga, tinta merah yang dicoretkan seorang editor novel untuk memangkas draf pertama juga terbentuk dari respon yang sama dan unik.

Semua hal ini adalah contoh sederhana dari kebebasan yang tidak diberikan oleh alat-alat digital pengganti kertas itu.

Disisi lain, solusi tanpa kertas seolah terjebak dalam pergolakan kepentingan perusahaan. Mulai dari hak paten, standar teknis buram hingga manajemen hak digital atau digital rights management [DRM].

Yang berarti, sekalipun anda menggunakan dokumen PDF yang terkenal akan portabilitasnya itu harus tunduk pada kata sandi dan juga DRm konstruktif.

Namun, dengan kertas, tidak ada karya yang diakses menggunakan sandi atau password. Dengan kata lain, seseorang akan membagikan sesuatu yang sudah secara fisik dan eksistensial.

Disisi lain, banyak orang yang saat ini mengaharapkan dunia tanpa kertas, dalam upaya untuk memelihara lingkungan misalnya.

Meski orang-orang ini juga tetap membutuhkan kertas di meja kerja mereka atau mungkin membeli kertas untuk digunakan oleh anak dan sanak saudara mereka yang di bangku sekolah.

Ini adalah contoh dari ketidaksesuaian antara manfaat yang tak terbatas dari dunia tanpa kertas dan kenyataan dari belenggu halus sistem itu sendiri.

Singkatnya, masyarakat tanpa kertas adalah masyarakat yang jauh dari tanpa kertas. Disini bukan berart menyarankan bahwa orang-orang yang menyerahkan komputer dan printer atau kembali ke zaman tanpa komputer, yang adalah suatu kondisi yang gak mungkin bakalan terjadi.

Baca Juga : Daftar Situs Penyedia Gambar Gratis di Internet

Lagi pula, kertas adalah pengganti sementara yang memberikan waktu bagi masyarakat untuk memikirkan masalah yang jauh lebih kompleks.

Yang mungkin pada akhirnya bisa memberikan solusi era tanpa kertas yang sempurna dengan sistem yang benar-benar sesuai di era modern yang kreatif dan bebas ini.

Untuk saat ini, ide paperless era atau zaman tanpa kertas masih cukup sulit diwujudkan. Alasannya, karena masyarakat masih sulit hidup tanpa kertas.

Sastra di era digital

Gabby Wood menyebut bahwa buku digital membunuh halaman secara fisik namun dengan munculnya e-books telah meningkatkan pemahaman manusia tentang kata-kata tertulis dan orang-orang yang ada disekitarnya.

Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Karena Wood sangat menyadari bahwa sekalipun manusia sudah meninggalkan kertas, mereka tetap membutuhkannya.

Tapi era ini rupanya sudah di depan mata. Salah satu contohnya adalah saat banyak penerbit buku yang mengalami defisit karena kurangnya pembeli.

Bukan hanya penerbit buku, tapi juga industri kertas. Dengan kata lain, sebagian besar industri yang menggunakan kertas seperti majalah dan koran juga akan terdampak.

Disisi lain, kondisi ini juga berdampak pada literasi pelajar dan warga negara Indonesia, yang dari tahun ke tahun tidak ada peningkatan yang signifikan.

Membaca memang selalu bersifat pribadi, dan segala aktivitas yang dilakukan saat membaca juga selalu punya motif personal.

Dengan membaca, terlebih karya sastra, orang-orang bisa menjadi berpikir, impresif, agresif, emosional, teliti dan respon lain.

Baca Juga : Strategi Pelestarian Budaya dan Bahasa

Secara luas, hal-hal tentang masalah ini hanya terdiri dari dua bagian yakni fisik dan digital. Dua hal ini memiliki hubungan koperatif yang jauh lebih banyak.

Sebagai contoh, di dunia fisik, orang-orang tetap mencetak foto keluarga mereka diatas kertas sementara digital banyak disimpan di laman media sosial atau di penyimpanan cloud.

Sama halnya dengan digitalisasi, yang mendorong pertumbuhan majalah-majalah kecil, mendorong kreativitas baru dan penerbit tradisional dari sekedar mencetak buku dari permintaan malah mencetak buku melebih target.

Dengan kata lain, permintaan akan buku sastra di era digital tetap ada meskipun layanan itu disediakan secara tradisional.

Anda mungkin membaca buku lebih virtual lain tetapi tetap ada perasaan untuk memiliki novel itu secara fisik.

Bagaimanapun, ada satu hal yang tidak dapat dilakukan oleh buku digital, dimana anda tidak akan pernah memiliki koleksi buku fisik yang ada di lemari rumah atau juga pajangan foto keluarga di dinding rumah.

Ada juga para penulis yang tidak sudi bukunya dibentuk dalam format digital karena alasan seni, jadi para pembaca harus bersedia membelinya di toko buku.

Ini semua tentang karya, sastra di era digital. Yang bukan cuma soal masalah paperless tetapi soal bagaimana karya sastra itu dinikmati dengan cara yang lebih intim.

Sastra telah menjadi pengawal literasi kehidupan manusia dari masa ke masa yang dinikmati dalam bentuk dalil, puisi, novel dan telah membudaya.

Jika sastra harus tunduk pada digitalisasi maka kita akan kehilangan pemaknaan yang spesifik atas seni. Demikian cerita singkat tentang membaca sastra di era digital. ~

You might like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *