Kudis Adalah: Pengertian, Gejala Dan Pengobatan

5 min read

kudis adalah

Kudis adalah suatu kondisi kulit yang disebabkan oleh infestasi tungau gatal pada manusia. Secara medis, kudis dikenal sebagai sarcoptes scabiei.

Tungau berukuran mikroskopis ini tersembunyi dibalik kulit manusia dan menyebabkan gatal-gatal serta ruam kulit.

Kudis bisa berada diseluruh bagian tubuh entah itu di tangan, kaki, selangkangan, ketiak dan lain sebagainya.

Pengertian kudis adalah

Secara awam, kudis punya dua pengertian dasar yakni:

  • Penyakit kulit yang gatal dan menular
  • Penyakit kulit yang menular terutama pada ternak seperti domba dan sapi, disebabkan oleh tungau yang hidup di dalam kulit dan dapat menular pada manusia

Dengan demikian, penyakit kulit ini disebabkan oleh tungau berbentuk parasitik yang hidup bersembunyi dibalik kulit yang menyebabkan kulit terasa gatal.

Tungau sendiri adalah hewan seperti kutu berukuran kecil, berwarna merah dan terdapat di seluruh dunia.

Selain manusia, hewan seperti anjing, kucing, sapi, kambing hingga kera besar bisa terkena kudis.

Bagaimana seseorang bisa terkena kudis?

Setiap orang berpotensi terkena scabiei dan infestasi biasanya terjadi lewat kontak langsung dari satu orang yang sudah terinfeksi ke orang lain.

Penyakit kulit ini ditemukan diseluruh dunia dan memang ditularkan lewat kontak langsung berkepanjangan dengan seseorang yang sudah terinfeksi.

Kontak seksual adalah cara paling umum penularan scabiei. Penularan juga dapat terjadi dari orang tua ke anaknya, ibu ke bayi contohnya.

Kutu yang menyebabkan kudis hanya bertahan hidup selama 48-72 jam tanpa kontak dengan manusia sehingga penularannya jarang terjadi.

Dalam kondisi tertentu, kemungkinan kutu bertahan hidup lebih lama terutama di tempat tidur, pakaian yang dikenakan, handuk, furnitur rumah dan lain sebagainya.

Dengan demikian, saat seseorang terkena kudis maka ia berpotensi menjangkiti orang lain yang ada di dekatnya secara langsung.

Berapa lama kudis bertahan didalam kulit?

Kudis hanya bertahan hidup selama 72 jam tanpa kontak dengan manusia. Dalam kondisi tertentu, kutu penyebab kudis bisa bertahan hidup lebih dari dua bulan atau mungkin lebih lama.

Jika tungau bisa bertahan lebih dari dua bulan kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Seperti tempat tinggal yang beriklim tropis dengan tingkat kelembapan tinggi.

Saat seseorang melakukan kontak dengan kutu, ia akan masuk ke bagian kulit. Dan kutu akan tinggal selama beberapa lama di balik kulit.

Gejala awal kudis akan muncul tiga sampai enam minggu setelah infestasi pertama terjadi.

Bisakah terjangkit kudis dari hewan?

Hewan sebenarnya tidak secara langsung menularkan tangau jenis tertentu yang menyebabkan kudis pada manusia.

Dengan kata lain, seseorang tidak mungkin terjangkit kudis dari hewan, terlebih dari hewan peliharaan seperti anjing atau kucing.

Umumnya, kudis yang menjangkit hewan peliharaan disebut dengan mange. Dalam beberapa kasus, mange bisa menjangkiti manusia dengan gejala yang sama disekitar tubuh.

Namun mange tidak dapat bertahan hidup atau bereproduksi pada kulit manusia dan akan hilang dengan sendirinya.

Dan seseorang yang tidak terkena kudis tidak perlu di rawat intensif. Tetapi pada hewan, ada baiknya di rawat dengan baik.

Karena kudis pada hewan peliharaan bisa membuat bulu-bulunya rontok dengan kulit yang terlihat bersisik dan gatal.

Tanda dan gejala

kudis
via hellosehat.com

Tanda awal kalau seseorang terkena kudis adalah kulit yang terlihat kemerah-kemerahan seperti ada benjolan kecil dan lepuh di kulit.

Gejala utama kudis adalah rasa gatal yang cenderung intens di malam hari. Gejala lainnya adalah ruam kulit yang terlihat seperti jerawat.

Kudis bisa muncul dibagian tubuh manapun dan ada bagian tubuh yang paling sering terkena kudis seperti tangan, siku, ketiak, kuku dan kulit diantara jari tangan atau kaki.

Sementara, untuk anak-anak dan bayi, bagian tubuh yang paling sering terkena kudis adalah kepala, wajah, leher dan telapak tangan.

Dalam beberapa kasus, seseorang yang terkena kudis dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah bisa menyebabkan ruam kerak pada kulit.

Tampilan Kudis

Kulit yang terkena kudis akan terlihat seperti ada goresan papula atau benjolan diatas kulit atau juga seperti ada titik gelap di bagian kulit yang terinfeksi.

Terkadang, kulit akan terlihat seperti ada benjolan kecil serupa jerawat dan benjolan ini makin lama makin keras.

Baca Juga : Penyebab Bau Mulut dan Cara Mengatasinya

Disisi lain, kudis juga terkadang disertai dengan lubang atau garis-garis tips berwarna abu-abu, cokelat atau kemerah-merahan yang timbul dari benjolan di kulit.

Dalam beberapa kasus, Kudis mungkin akan susah terlihat dengan mata telanjang karena hanya berupa goresan biasa.

Ciri-ciri infeksi Kudis

Ciri paling umum kalau seseorang sudah terinfeksi kudis adalah kulit terasa gatal dan makin intens di malam hari atau menjelang tidur.

Rasa gatal ini tentu sangat mengganggu kualitas tidur seseorang. Dengan kata lain, kudis bisa menyebabkan penderita susah tidur.

Cara diagnosa

Kudis biasanya didiagnoasa berdasarkan riwayat pasien dan pemeriksaan fisik lesi [benjolan]. Selain itu, ada juga beberapa tes yang lazim dilakukan untuk mendiagnosa kudis pada kulit, diataranya:

  • Mengikis kulit untuk mengidentifikasi telur tungau
  • Menggunakan alat dermoscope genggam untuk memeriksa kulit secara visual guna melihat infestasi lebih detail
  • Uji pita perekat dimana dokter akan menggunakan pita perekat yang kuat dan ditempatkan pada lesi kulit lalu ditarik untuk kemudian dilihat pakai mikroskop

Cara mengobati kudis

kudis

Sebenarnya tidak ada metode atau cara pengobatan khusus yang bisa dilakukan agar seseorang tidak terinfeksi kudis.

Oleh karena itu, pencegahan sangat penting dilakukan. Dan untuk anda yang ingin mengobati infestasi kudis, ada beberapa cara yang bisa anda lakukan, diantaranya:

a. Pakai krim Topikal

Salah satu jenis krim topikal yang bisa mencegah infestasi kudis adalah Permethrin [Elimite] yang bisa dioleskan langsung ke kulit, leher dan telapak kaki.

Untuk hasil yang lebih baik, ada baiknya krim tersebut digunakan sebelum tidur atau selama 8-12 jam sebelum dibilas pakai air.

Jika anda sudah terkena kudis, ada bisa pakai krim yang sama untuk mengurangi gatal. Atau menggunakan metode perawatan lain dengan teknik yang sama.

Seperti menggunakan krim scabiei topical, lotion crotamiton [crotan dan erurax], lindane [biasanya tidak digunakan sebagai pengobatan pertama karena bisa menimbulkan risiko kejang], salep belerang dan benzyl benzoate [tidak tersedia di beberapa negara].

b. obat oral

Dalam beberapa kasus, untuk mengobati scabiei, orang-orang mengkonsumsi obat seperti ivermectin oral.

Hanya saja, obat seperti diatas hanya digunakan apabila infeksi kudis sudah menjalar ke seluruh tubuh penderita.

Obat oral semacam ini sering digunakan di Panti Jombo karena kemungkinan infestasi kudis cukup tinggi begitu juga dengan penularannya.

Jika anda menggunakan obat semacam ini baiknya pakai dosis tunggal sebesar 200mcg/kg yang terus digunakan selama dua minggu.

Keuntungan dari penggunaan ivermection oral adalah penggunaannya yang mudah dan tidak menyebabkan masalah kulit lain.

Namun ada efek samping yang akan dirasakan oleh beberapa orang sehingga cara yang satu ini tidak direkomendasikan kepada semua orang.

c. Antihistamin

Pil antihistamin bisa digunakan oleh anda yang sudah terinfeksi dengan tujuan untuk mengurangi gatal akibat kudis.

Ada beberapa jenis pil antihistamin yang dijual bebas di apotek atau toko obat termasuk diphenhydramine [Benadry].

Cara agar tidak terjangkit kudis

Salah satu cara untuk menghindari kemungkinan infeksi kudis adalah dengan melakukan pencegahan sejak dini.

Dan ada beberapa cara yang bisa anda lakukan untuk mencegah agar anda, anak atau orang lain tidak terinfeksi kudis, diantaranya:

a. Cuci seprei secara berkala

Ingat, tungau scabiei bisa bertahan lebih dari 72 jam tanpa kontak dengan manusia. Oleh karena itu, untuk menghindari infestasi, sebaiknya anda rajin cuci seprei.

Saat mencuci, upayakan anda merendamnya dalam air panas. Jika tak ingin repot, anda tidak perlu merendamnya pakai air panas yang terpenting anda tidak melakukan kontak dengan barang-barang yang dicurigai terdapat tungau lebih dari 72 jam.

b. Hindari pakai baju, handuk dan kaus kaki yang sama dengan orang lain

Cara ini cukup efektif untuk menghindari infeksi kudis dari orang lain. Karena menggunakan baju, handuk atau kaus kaki yang sama dengan orang lain bisa meningkatkan risiko infeksi.

Selain bisa meningkatkan resiko infeksi kudis, ada kemungkinan anda akan terkena penyakit kulit lain seperti panu.

c. Hindari kontak dengan hewan yang mungkin terkena kudis

Jika ada hewan peliharaan yang terindikasi terkena kudis sebaiknya hindari kontak langsung dengan hewan tersebut.

Meskipun potensi penularan kudis dari hewan ke manusia kecil, tapi tidak menutup kemungkinan infestasi terjadi.

d. Rajin-rajinlah potong kuku

Kuku adalah salah satu sarang utama kutu yang menyebabkan kudis. Kuku juga jadi tempat tinggal mereka sekaligus tempat bereproduksi atau berkembang biak.

Untuk mengurangi infestasi sebaiknya anda rajin potong kuku secara berkala, minimal satu atau dua bulan sekali.

Kudis Norwegia

kudis norwergia
Seorang pasien menderita scabiei norwergia/via onhealth.com

Salah satu kudis yang cukup mengerikan dengan tingkat penularan tinggi adalah kudis Norwegia. Kudis ini biasanya menginfeksi orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah bisa disebabkan oleh penyakit atau kondisi tertentu seperti Kanker atau HIV/AIDS, termasuk mereka yang punya kondisi medis tertentu, Sindrom Down misalnya.

Selain menular, Scabies berkrusta yang merupakan nama lain dari Kudis Norwergia ini bisa menjalar ke sebagian besar area tubuh.

Juga akan akan mengeluarkan bau yang tidak sedap dari seluruh tubuh yang terinfeksi dengan kuku yang terlihat lebih tebal, bisa berubah warna.

Meski demikian, pasien scabies berkrusta, dalam beberapa kasus, tidak mengalami rasa gatal seperti pada kudis biasa.

Penutup

Setiap orang bisa terkena kudis atau scabies. Pola hidup yang tidak sehat bisa meningkatkan risiko infestasi tungau pada kulit.

Dan jika anda sementara mengalaminya, anda bisa mengikuti berbagai metode pencegahan dan pengobatan diatas.

Jika semakin intens, silahkan berkonsultasi ke dokter terdekat. Demikian artikel tentang kudis adalah: pengertian, gejala dan pengobatan. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda.

Sumber:
  • Chen ZZ, et al. (2014). Studies on the acaricidal mechanism of the active components from neem (Azadirachta indica) oil against Sarcoptes scabiei var. cuniculi. DOI: 10.1016/ j.vetpar.2014.05.040
  • Crusted scabies. (2016). rarediseases.info.nih.gov/ diseases/12151/ crusted-scabies
  • Marcuse EK. (1982). The burrow ink test for scabies. pediatrics.aappublications.org/ content/69/4/457
  • Mayo Clinic Staff. (2018). Scabies. mayoclinic.com/ health/scabies/DS00451
  • Oyelami OA, et al. (2009). Preliminary study of effectiveness of aloe vera in scabies treatment. DOI: 10.1002/ptr.2614
  • Pasay C, et al. (2010). Acaricidal activity of eugenol based compounds against scabies mites. DOI: 10.1371/journal.pone.0012079
  • Scabies. (n.d.). aad.org/public/diseases/ contagious-skin-diseases/scabies
  • Lymphatic filariasis. (n.d.). who.int/lymphatic_filariasis/ epidemiology/scabies/en/
  • Scabies frequently asked questions (FAQs). (2019). cdc.gov/parasites /scabies/gen_info /faqs.html
  • Thomas J, et al. (2016). Therapeutic potential of tea tree oil for scabies. DOI: 10.4269/ajtmh.14-0515
  • https://www.healthline.com/health /scabies

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *