5 Kriteria Ponsel Yang Cocok Untuk Traveling

5 min read

tanah duan lolad

Emang ada ya kriteria ponsel yang cocok untuk traveling? Jawabannya ada dan banyak tersedia di pasaran. Tapi jika bingung smartphone mana yang cocok digunakan untuk traveling? baca artikel ini sampai habis.

Akhir 2017 lalu, saya memutuskan untuk berangkat ke Saumlaki, Maluku Tenggara Barat (MTB). Ini adalah salah satu wilayah Indonesia yang dulunya disebut Yamdena.

Pulau yang sarat sejarah dan berbatasan langsung dengan lautan Australia. Sebenarnya, Yamdena adalah nama lain dari Pulau Tanimbar. Nama Yamdena sendiri berarti ibu pertiwi.

Menurut penuturan dari beberapa orang yang setelah ditelusuri merupakan penuturan dari seorang Belanda, Gurtjens, Yamdena berasal dari dua kata yakni Yaman (Ayah) dan Renan (Ibu) dalam bahasa Fordata yang merupakan bahasa lokal disana.

Rasanya ingin kembali lagi

Disana saya singgah di Desa Tumbur, Samulaki Selatan. Menginap pada seorang mama angkat yang merupakan ibu dari kawan saya. Sekitar 25 hari saya disana, sebelum melakukan perjalanan ke Makassar di kota Daeng.

Hingga kini, itu adalah tempat yang sekali lagi saya ingin kunjungi dan kesempatan itu akan datang tak lama lagi. Saya sering bertanya, mengapa saya ingin kembali?

Kearifan lokal, bahasa dan kehidupan mereka yang menarik ditambah pantai pasir panjang yang berlokasi tak jauh dari Tumbur membuat saya benar rindu daratan itu.

Sungguh, rindu yang misterius dan subjektif sekali.Sialnya, saat bepergian kesana tak satupun momen yang bisa saya dokumentasikan.

Ini dikarenakan persiapan yang minim dimana sebelumnya smartphone dan kamera saya rusak saat berkunjung ke Gua Hawang yang ada di desa Letvuan di Kei Kecil, Maluku Tenggara.

Ini adalah gua yang penuh carita mistis yang wajib anda kunjungi jika ingin liburan atau lelah dengan pekerjaan yang menumpuk tiap hari.

Salah satu destinasi wisata di Maluku Tenggara Barat tak jauh dari Kota Saumlaki. Ini adalah monumen Kristus Raja Semesta Alam yang dapat ditempuh dengan perjalanan sekitar 10 menit dari pusat kota Saumlaki via medcom.id

Kurang lebih tiga hari saya berada di Letvuan. Disana saya singgah pada salah satu teman waktu kuliah. Ia sekarang menjadi seorang guru honorer di Langgur.

Lalu, saya diajak oleh salah satu teman kuliah untuk ke Saumlaki. Untuk menghemat biaya, saya harus kembali ke Kota Ambon lalu naik kapal KM. Pangrango menuju Saumlaki.

Perjalanan menggunakan kapal PELNI tersebut memakan waktu sekitar tiga hari dua malam, mengarungi lautan. Sejauh memandang, horizon timur dan barat hanya lautan.

Kecuali sudah mendekat ke Pulau Banda, maka pulau-pulau mungil nan eksotik mulai terlihat. Bermunculan satu per satu bak Hobbit yang keluar dari persembunyiannya dengan warna biru merona dan agak malu-malu.

Penumpangnya banyak sekali…

Saat itu penumpang sangat banyak, sesak diatas kapal. Untuk bisa tidur, saya harus menginap di sekoci yang ada dipinggiran kapal. Kata beberapa orang yang senasib dengan saya, ini wajar sebab musim liburan Natal dan Tahun Baru sudah didepan mata.

Temanku yang di Saumlaki selalu menghibur bahwa perjalanan tak jauh, nyatanya sudah satu setengah hari belum sampai juga di Pelabuhan. Tak jauh apanya!

Pukul 8 malam saya tiba di Saumlaki. Sebuah pesan singkat masuk dari handphone jadul yang baru saja ku beli di Ambon dengan harga Rp. 250.0000. Pesan singkat itu dari kawanku, isinya, ia mengatakan bahwa ia ada didepan kantor Syahbandar.

Saya bergegas ke sana, sebab dari atas kapal, kantor Syahbandar bisa terlihat dan jauh lebih terang daripada bangunan disekitarnya termasuk ruang tunggu pelabuhan.

Ia lalu membonceng saya menggunakan motor honda Beat miliknya menuju Desa Tumbur. Perjalanan dari Saumlaki ke Tumbur kurang lebih 15 menit. Jalan disana sudah bagus, sama seperti jalan-jalan di Menteng.

Disela-sela perjalanan, kawanku itu bercerita bahwa desanya di jaman Belanda dikenal sebagai desa wisata. Banyak inlander yang membangun villa dan juga rumah singgah disini namun sejak kemerdekaan rumah-rumah sudah hilang dan tinggal tersisa tanah saja.

Kadang juga, ceritanya, kapal-kapal Putih sering mampir. Ia lalu bercerita tentang salah satu yang bertahan di Tumbur yakni patungnya yang dikenal juga sebagai patung tumbur. Beberapa kali saat masih disana orang-orang dari Australia datang untuk membeli patung tersebut.

Di Tumbur, setiap pagi para tetangga selalu datang berbincang dengan saya di beranda rumah. Mereka menceritakan tentang kehidupan mereka, anak-anaknya yang merantau serta kebun mereka. Kadang pula melawak dengan dialek Papua.

Kadang pembicaran itu ditemani kopi, kadang juga sofi. Kawan, Sofi ini sebenarnya tuak yang telah difermentasi dari air enau dan sialnya saya tidak tahu itu apa.

Ketika saya pertama kali mencobanya, kepala saya tiba-tiba puyeng. Seolah isi didalamnya terkoyak-koyak dengan minuman alkohol paling digemari disana.

Itu terjadi pada hari ke empat saya berada disana. Kawan, saat itu saya mabuk berat karena orang-orang ini memanfaatkan ketidaktahuan saya atas minuman ini. Esok paginya dengan kepala pening saya bangun, mereka menertawai saya.

Hari ketujuh, kawan saya itu mengajak ke tempat patung Tumbur itu dipajang. Patung-patung itu dibuat dari kayu dengan gaya keseharian warga disana seperti memanjat kelapa, berladang dan juga beberapa membangun rumah dan tersimpan didalam lemari kaca yang terdapat di Balai Desa.

Ukurannya bervariasi, ada yang kecil, sedang hingga besar. Harganya? Untuk yang kecil sekitar Rp. 75.000 untuk yang besar sekitar Rp. 300.000. Ini tergantung dari jenis kayunya. Pembuatan patung itu memakan waktu sekitar satu hingga dua bulan dan dibuat oleh anggota Koperasi Desa.

Sayangnya, saya tidak sempat pergi ke tempat pembuatan patung itu. Para pengrajin itu, kata kawanku, masih di kebun. Biasanya mereka datang saat petang.

Jadi kalau hari biasa susah, mereka bisa ditemui saat hari minggu atau ketika ada rapat di Koperasi dan Balai Desa. Jika saya kembali ke sana, yang sebentar lagi akan menjadi kenyataan maka saya harus temui para pengrajin patung tumbur yang eksotis itu.

Kembali ke tanah Duan Lolad

Akhir November nanti saya berencana untuk kembali. Karena pada akhir bulan itu Neles Fernanlampir, yang merupakan kawan saya yang mengajak saya untuk ke Tanimbar akan menikah dengan seorang nona dari Olilit Lama, sebuah desa tak jauh dari Saumlaki, dan saya diundang khusus kesana. Itu berarti saya wajib datang.

Bahkan, Neles bersikeras membayar uang tiket pergi-pulang hanya agar saya bisa datang diacara pernikahannya tersebut. Ayah dan ibunya sendiri juga bersikeras bahwa saya harus datang karena, kata mereka, saya sudah dianggap sebagai anak sendiri.

Apa daya, kalau orang tua sudah bicara begitu, saya hanya punya dua pilihan yakni dengar dan turuti, jangan sampai kualat kata orang tua dulu. Nanti saya tak nikah-nikah.

Karena itu, pertemuan kedua nanti saya harus mendokumentasikan setiap momen disana mulai dari keberangkatan sampai kembali. Itu harus!

Namun, yang menjadi masalah adalah bagaimana saya mendokumentasikan setiap momen saat saya disana untuk kedua kalinya? Kamera besar dengan tripod tentu tidak efektif dan ribet.

Lagipula, warga disana akan memandang saya aneh sebab setiap hari, kemanapun saya pergi, saya menenteng kamera dengan tripod yang bikin pening orang-orang dan bisa saja saya akan dicap pamer.

Lantas, apa solusinya? Tentu saja smartphone. Tapi kriteria handphone seperti apa yang saya butuhkan? ada beberapa kriteria dan sudah diulas pada artikel ini.

5 Kriteria Ponsel Yang Cocok Untuk Traveling

Nah pasti penasaran kan kriteria ponsel yang cocok untuk traveling? Tanpa perlu berlama-lama, berikut disajikan 5 kriteria ponsel yang cocok untuk traveling. Ini daftarnya:

1. Ukuran

Ukuran adalah segalanya, terutama jika anda ingin melancong ke wilayah-wilayah yang belum pernah anda kunjungi sebelumnya.

Satu lagi yang paling penting, gunakan peralatan yang memiliki bobot ringan dan jangan bawa perlengkapan yang terlalu berat.

Untuk smartphone atau ponsel yang biasa digunakan untuk traveling, usahakan untuk tidak memiliki ukuran terlalu besar, terlebih semacam iPad.

2. Berat

Rata-rata ponsel yang beredar saat ini memiliki berat rata-rata sekitar 250 gram keatas dengan keunggulan masing-masing dilengkapi perangkat lunak yang mengagumkan.

Jika ada yang lebih ringan, bolehlah anda membelinya. Yang terpenting, harganya tidak bikin kantong anda jebol seketika.

3. Baterai

Ini adalah bagian yang harus anda pertimbangkan dengan matang jika ingin bepergian. Daya tahan baterai sangat krusial terutama saat hendak melakukan perjalanan jauh yang memakan waktu berhari-hari tanpa anda tahu dimana tempat untuk mengisi baterai.

Apalagi jika ditempat yang anda tuju belum tersentuh listrik atau sudah tersentuh namun sering padam, kesal kan? Nah, daya tahan baterai dari smartphone itu harus tahan lama.

4. Harga

Ini jelas jadi pertimbangan utama. Harga dari handphone yang dibawa harus sesuai dengan spesifikasi yang ditawarkan.

5. Spesifikasi

Kecepatan loading ponsel, memori, grafik, kamera dan sebagainya. Saat ini memilih handphone dengan kriteria seperti itu tidak terlalu sulit. Namun biasanya, kriteria ini harus mencakup harga tertentu dengan spesifikasi lebih banyak tentu harganya lebih tinggi.

6. Keamanan

Soal ini tentu adalah pertimbangan utama. Perjalanan yang memungkinkan anda menjadi sasaran pencurian, mengamankan handphone anda dengan pola sidik jari dan juga pola lain adalah solusinya. Jadi usahakan anda memilih smartphone yang benar-benar aman.

Penutup

Dalam traveling, ponsel punya banyak manfaat. Selain digunakan sebagai media untuk mendokumentasikan perjalanan, juga bisa digunakan untuk pesan kamar hotel, menunjukan jalur, dan lain sebagainya.

Jika anda suka bepergian ke luar daerah, sementara masih menggunakan ponsel yang tidak masuk kriteria diatas, sebaiknya ganti deh.

Nah demikian artikel tenang 6 kriteria ponsel yang cocok untuk traveling. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda ~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *