6+ Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Tukar Mata Uang

7 min read

faktor yang mempengaruhi kurs mata uang

Pernah gak ada bertanya-tanya, kok mata uang Rupiah naik turun ya? Faktor apa saja yang mempengaruhi nilai tukar mata uang? Dan pertanyaan lain serupa.

Ada banyak hal yang menyebabkan rate mata uang, Rupiah misalnya, naik turun mulai dari faktor internal sampai faktor eksternal.

Dalam konteks internal ia bisa dipengaruhi oleh daya beli masyarakat, suku bunga, tingkat inflasi, keadaan geopolitik dan lain sebagainya.

Nilai ini semakin fluktuatif karena sebagian besar negara di dunia sudah menerapkan sistem perdagangan bebas antar wilayah.

Apabila nilai tukar mata uang ini terus-menurus turun, tentu akan berdampak pada portofolio dan return investasi negara tersebut.

Dan ini berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi secara langsung sehingga pembangunan negara jadi mendek, lapangan kerja semakin kecil, pendapatan negara berkurang dan lain sebagainya.

Di artikel kali ini saya hendak mengulas beberapa hal yang menyebabkan nilai tukar mata uang naik turun. Termasuk juga beberapa aspek yang berkaitan dengannya, seperti:

  • Faktor yang mempengaruhi naik turunnya nilai uang
  • Faktor yang mempengaruhi hubungan kurs uang rupiah dengan valuta asing
  • Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar menurut para ahli
  • Apa yang menyebabkan nilai mata uang rupiah menguat dan melemah
  • Penyebab turunnya nilai tukar mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing
  • Siapa yang menentukan nilai tukar mata uang
  • Kontrol nilai tukar mata uang
  • Dan lain sebagainya

6+ Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Tukar Mata Uang Suatu Negara

Lantas, faktor apa saja yang mempengaruhi nilai tukar mata uang suatu negara? Secara umum ada tiga faktor.

Mulai dari faktor politik, ekonomi dan geopolitik global. Agar lebih rinci, di artikel ini saya sudah menjabarkannya menjadi 6 faktor, diantaranya:

1. Faktor politik

Salah satu faktor yang pengaruhnya sangat besar terhadap nilai tukar mata uang dengan pemulihan cenderung lambat adalah faktor politik.

Karena faktor ini berkaitan dengan kebijakan moneter negara secara politis, kontrol terhadap uang dan lain sebagainya.

Faktor politik ini juga tidak diketahui dengan pasti kapan akan terjadi, bagaimana akan terjadi dan kapan akan berhenti.

Karena itu para investor biasanya akan mempertimbangkan pergerakan politik suatu negara apakah stabil atau tidak saat akan berinvestasi.

Salah satu contoh yang mungkin masih membekas di ingatan sebagian besar masyarakat Indonesia adalah momen jatuhnya mata uang Rupiah pada pertengahan tahun 1998 yang dampaknya masih terasa sampai kini.

Pada waktu itu, Rupiah berada dalam kisaran 3.000 lalu melemah perlahan-lahan, kemudian naik dikit sampai akhirnya jatuh lagi pada kisaran 17.000 per 1 USD.

Lantas, apa yang menyebabkan nilai mata uang Rupiah jatuh? Sentimen politik dalam negeri yang titik klimaksnya terjadi saat Soeharto untuk kesekian kalinya terpilih menjadi Presiden.

Sebelum itu, masalah ekonomi, politik dan sosial juga sedang gonjang-ganjing dimana harga barang semakin mahal, korupsi dimana-mana, pengangguran semakin tinggi dan masalah-masalah lain.

Krisis politik ini akhirnya memicu krisis multidimensi yang berimbas pada harga mata uang Indonesia terhadap US$ Dollar dalam waktu singkat.

2. Faktor ekonomi

Di negara maju, faktor ekonomi sudah dijadikan tolak ukur untuk menilai tingkat kesejahteraan dan stabilitas politik dalam negeri.

Kesejahteraan dan stabilitas ini pada akhirnya bisa mempengaruhi nilai mata uang suatu negara secara langsung.

Dalam konteks ekonomi, nilai mata uang ditentukan oleh beberapa faktor kunci dibawah ini, seperti:

a. Keseimbangan pembayaran

Keseimbangan pembayaran atau balance of payment merupakan suatu neraca yang mencatat seluruh aktivitas ekonomi suatu negara.

Aktivitas ini mencakup pembayaran yang dilakukan dari negara-negara lain ke dalam negeri dan dari dalam negeri ke negara-negara lain.

Ada beberapa faktor yang digunakan untuk mengukur keseimbangan pembayaran, diantaranya:

  • Penerimaan dari ekspor dan pembayaran untuk impor barang dan jasa
  • Aliran masuk modal asing dan penanaman modal ke luar negeri
  • Aliran masuk dan keluar modal dalam jangka pendek seperti mendepositkan uang ke luar negeri

Untuk mengukur keseimbangan pembayaran tersebut, ada dua neraca yang digunakan, yakni:

  • Neraca perdagangan. Neraca perdagangan adalah perimbangan antara ekspor dan impor
  • Neraca keseluruhan. Neraca keseluruhan adalah perimbangan antara keseluruhan aliran pembayaran keluar negeri dan aliran pembayaran dari luar negeri
b. Inflasi

Inflasi bisa dikategorikan sebagai suatu proses meningkatnya harga komoditas secara terus menerus dalam kurun waktu singkat.

Tingkat inflasi ini bisa menunjukan bahwa suatu negara punya masalah perekonomian yang cukup pelik. Yang bisa disebabkan oleh beberapa faktor dibawah ini, seperti:

  • Permintaan barang lebih tinggi dibandingkan penawaran
  • Kenaikan bahan baku
  • Meningkatnya biaya operasional
  • Aliran impor yang terbatas oleh regulasi
  • Faktor keamanan wilayah

Masalah ini kemudian jadi sangat kompleks apabila dikaitkan sama daya beli masyarakat, naiknya upah kerja atau buruh, kemampuan produksi perusahaan, tingginya angka pengangguran dan lain sebagainya.

Pada akhirnya, inflasi akan menimbulkan masalah yang lebih serius terhadap pembayaran dan pembiayaan negara.

Sehingga barang-barang impor jauh lebih murah dibanding barang yang dihasilkan dalam negeri akibatnya barang impor jauh lebih berkembang.

Dan ini berdampak pada aliran modal dimana yang keluar lebih banyak ketimbang yang masuk dan tentu saja berefek pada merosotnya nilai mata uang.

Dalam tingkat tertentu, inflasi jadi simulator penting pertumbuhan ekonomi suatu negara. Hanya saja, apabila kenaikan harganya tidak bisa dikendalikan lagi maka akan timbul masalah yang jauh lebih kompleks dalam perekonomian.

Karena itu, kebijakan pemerintah sangat penting disini untuk menekan laju inflasi sekaligus mengontrol semua hal diatas agar tetap terkendali.

c. Consumer Price Index [CPI] dan Producer Price Index [PPI]

CPI dan PPI adalah indikator yang digunakan untuk menentukan tingkat inflasi yang terjadi pada suatu negara.

Duanya-duanya bisa dipakai untuk mengukur tingkat perubahan harga komoditas yang akhirnya berdampak pada nilai mata uang.

Dengan penjelasan sebagai berikut:

  • CPI adalah indeks harga barang-barang yang sering digunakan konsumen atau suatu kebutuhan yang paling banyak dicari masyarakat
  • PPI adalah indeks rata-rata perubahan harga yang diterima produsen domestik untuk setiap output yang dihasilkan pada tiap tingkat proses produksi yang terjadi.

Dalam proses perhitungannya, data biasanya dikumpulkan dari berbagai sektor entah itu ekonomi, pertambangan, pertanian dan manufaktur.

Dengan demikian, setiap perubahan harga yang terjadi akan berdampak pada laju inflasi. Perubahan harga dan laju inflasi ini dipakai sebagai pertimbangan untuk mengukur besaran suku bunga.

Sebagai contoh, anda meminjam uang ke bank sebesar 500 juta yang digunakan untuk membeli rumah di salah satu kawasan pemukiman kelas menengah di Jakarta.

Anda kemudian berjanji akan melunasinya tahun depan. Apabila CPInya 2% per tahun, Bank akan menetapkan besaran suku bunga agar mereka tidak mengalami kerugian.

Alasannya, karena uang dalam nominal tersebut belum tentu bisa digunakan untuk membeli barang yang sama di tahun depan.

Penetapan suku bunga ini tergantung pada laju inflasi, yang juga dipengaruhi oleh nilai mata uang yang sedang beredar dalam masyarakat.

3. Gross Domestic Bruto [GDP]

GPD sebenarnya masih jadi bagian dari faktor ekonomi yang sudah saya jelaskan diatas. Namun saya ingin membahasnya secara terpisah karena faktor ini cakupannya agak luas.

Dalam ilmu ekonomi, GDP adalah penjumlahan seluruh barang dan jasa yang bisa diproduksi oleh satu negara, baik oleh perusahaan dalam negeri [BUMN dan BUMS] dan perusahaan asing yang operasionalnya ada didalam negara tersebut.

Fungsinya sebagai alat untuk mengukur aktivitas ekonomi secara komprehensif suatu negara yang akan menjadi cerminan kesehatan pertumbuhan ekonomi negara yang bersangkutan.

Pada prinsipnya, jumlah barang dan jasa yang diproduksi mengacu pada keseimbangan antara penawaran dan permintaan.

Banyaknya jumlah barang dan jasa yang diproduksi mencerminkan kehidupan perekonomian suatu negara yang punya kaitan erat dengan seni perekonomian yang didalamnya meliputi:

  • Pendapatan
  • Penggunaan atau serapan tenaga kerja
  • Investasi
  • Dan lain sebagainya.

Data ekonomi seperti GDP akan menjadi tolok ukur bagi investor dan calon investor untuk memutuskan apakah akan berinvestasi pada negara tersebut atau sebaliknya.

Disisi lain, peningkatan GDP jadi prestasi ekonomi tersendiri untuk negara bersangkutan. Sejarah perekonomian Amerika Serikat mencatat bahwa antara tahun 1929-1933 nilai GDP merosot tajam dari $104 millar US$ jadi 56 Miliar US$.

Penurunan yang tajam ini berimbas pada kemunduran perekonomian negara dimana pada saat itu jumlah pengangguran semakin tinggi, penurunan harga saham perusahaan, kebangkrutan, kerusuhan dan politik internal yang makin runyam.

4. Pengangguran [Unemployment]

Pengangguran merupakan salah satu masalah paling umum dalam ekonomi. Faktor utama yang menyebabkan pengangguran adalah kurangnya lapangan kerja.

Produsen memproduksi barang dan jasa tentu saja dengan harapan untuk memperoleh keuntungan atau profit.

Dengan kata lain, semakin besar permintaan barang dan jasa yang diproduksi, cuan semakin meningkat.

Apabila ada peningkatan produksi maka kebutuhan atau serapan tenaga kerja juga semakin besar. Sebaliknya, kurangnya permintaan atas barang dan jasa akan memicu pengangguran.

Secara umum, masalah pengangguran menimbulkan berbagai implikasi, diantaranya:

  • Berimbas pada pendapatan lokal dan nasional karena semakin banyak penggunaan tenaga kerja dalam ekonomi semakin tinggi pendapatan nasional
  • Dari segi individu, masalah pengangguran akan menurunkan daya konsumsi, mengganggu taraf kesehatan keluarga dan punya efek sosial yang kuat. Dan ini punya korelasi dengan tindak pidana kejahatan, premanisme, narkotika dan lain sebagainya
  • Apabila pengangguran di suatu negara amat sangat tinggi, akan terjadi kekacauan politik dan sosial yang berimbas pada kesejahteraan masyarakat secara umum dan proses pembangunan jangka panjang

5. Kebijakan moneter

Secara awam, kebijakan moneter adalah istilah yang merujuk pada campur tangan pemerintah dengan tujuan untuk mengontrol nilai tukar mata uangnya.

Ada dua langkah yang biasa dilakukan pemerintah untuk mempengaruhi nilai tukar mata uang, diantaranya:

a. Mengubah tingkat suku bunga

Langkah yang paling sering dilakukan oleh pemerintah untuk mempengaruhi nilai tukar mata uang adalah dengan mengubah tingkat suku bunga.

Perubahan tingkat suku bunga sering membawa dampak yang signifikan terhadap nilai tukar mata uang.

Dan ini jadi aturan umum terhadap kebijakan moneter suatu negara. Karena semakin tinggi tingkat suku bunga maka semakin kuat nilai tukar mata uang tersebut dengan mata uang lainnya.

b. Operasi pasar terbuka

Selain itu, operasi pasar terbuka sering ditempuh dengan harapan untuk mengontrol jumlah uang yang beredar [JUB/jumlah uang beredar].

JUB pada dasarnya adalah mata uang yang dalam peredaran [currency] ditambah dengan jumlah uang giral dan uang kuasi.

definisi uang adalah

Uang giral ini mencakup saldo rekening koran atau giro milik masyarakat umum baik itu perseorangan, perusahaan atau badan milik pemerintah yang tersimpan di bank.

Sementara, uang kuasi adalah uang yang terdiri dari deposito berjangka, tabungan dan rekening [tabungan] valuta asing milik swasta domestik.

JUB juga merupakan hasil interaksi antara permintaan dan penawaran uang yang bisa naik atau turun tergantung dari hasil tarik menarik permintaan dan penawaran tersebut.

Oleh karena itu bukan hal yang tidak mungkin jika JUB ini mempengaruhi nilai tukar mata uang.

Sementara, bentuk operasi pasar terbuka yang dilakukan pemerintah bergantung pada masalah ekonomi yang dihadapi.

Apabila negara tersebut mengalami inflasi, untuk mengurangi kegiatan ekonomi yang berlebihan maka JUB harus dikurangi.

Hal ini akan dilakukan oleh bank sentral dengan cara membeli surat-surat berharga karena dengan penjualan surat berharga maka tabungan giral masyarakat dan cadangan yang dipegang oleh bank-bank umum akan berkurang.

6. Faktor eksternal

Selain beberapa faktor diatas, nilai uang juga bisa dipengaruhi oleh faktor eksternal atau faktor yang berada diluar kendali negara, diantaranya:

a. Perang dagang

Perang dagang adalah suatu kegiatan ekonomi yang melibatkan dua negara dengan kebijakan moneter yang berbeda-beda yang umumnya berkaitan dengan tarif atau bea masuk suatu komoditas.

Sebagai contoh, perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina yang terjadi akibat pemberlakuan tarif yang ditetapkan oleh AS kemudian dibalas oleh Cina dan seterusnya.

Perang dagang ini tentu berdampak pada negara lain karena kebijakan dua negara tersebut akan mempengaruhi tarif perdagangan negara lain.

b. Kondisi ekonomi suatu negara

Selain perang dagang, kondisi internal suatu negara juga berdampak pada nilai tukar mata uang. Kondisi ini dianggap sebagai suatu perubahan ekonomi yang terjadi dalam suatu negara dan membawa dampak ke negara-negara lain di kawasan yang sama.

Di era globalisasi ini, modal dapat berpindah dengan cepat dari satu negara ke negara lain, sehingga bilamana iklim perekonomian suatu negara dianggap tidak kondusif maka para investor dengan cepat akan memindahkan dananya ke negara lain yang dianggap lebih menguntungkan.

Oleh karena itu penting bagi seorang investor untuk mencermati perkembangan perekonomian global.

Sebagai contoh, apabila pertumbuhan ekonomi AS mengalami perlambatan yang disebabkan oleh kebijakan ekonomi negara tersebut akan berimbas pada perekonomian dalam negeri.

Dan ini berdampak pada negara lain di dunia karena ekonomi AS dianggap sebagai acuan ekonomi dunia yang punya dampak luar biasa terhadap perekonomian global.

c. Gejala alam

Selain perang dagang, gejala alam juga mempengaruhi nilai tukar mata uang. Misalnya, suatu wilayah yang tiba-tiba dilanda gempa bumi atau gejala alam lainnya.

Hal ini tentu menghambat kegiatan ekspor impor negara tersebut yang menimbulkan kelangkaan barang dan berimbas pada pendapatan negara bersangkutan.

Gejala non-alam juga bisa mempengaruhi nilai tukar mata uang. Sebagai contoh, pendemi Covid-19 yang melanda sebagian besar negara dunia yang akhirnya memicu perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara-negara terdampak.

Penutup

Semua faktor yang mempengaruhi nilai mata uang diatas pada akhirnya bermuara pada hukum dasar ekonomi yakni permintaan dan penawaran.

Dan ini tidak bisa dihindari oleh siapapun. Dan jika tidak dibarengi kebijakan yang tepat akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi negara secara langsung.

Dalam dunia investasi, faktor-faktor diatas bisa digunakan sebagai bagian dari analisis fundamental trading forex, saham, obligasi dan lain sebagainya.

Demikian artikel tentang faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar mata uang suatu negara di dunia. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda. ~

Sumber artikel:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *