Uniknya Cerita Danau Tendetung, Salah Satu Destinasi Wisata Alami Di Kabupaten Banggai Kepulauan

3 min read

Ada banyak tempat wisata alami di Banggai Kepulauan, salah satunya Danau Tendetung. Danau unik ini terletak di Kecamatan Totikum Selatan, Kabupaten Banggai Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tengah.

Meski potensinya belum dimaksimalkan dengan baik namun danau satu ini tetap populer dan jadi salah satu tempat wisata favorit disana.

Danau ini sendiri dikelilingi oleh beberapa desa seperti Desa Nulion, Desa Peley, Desa Tobungku, Desa Kanali dan juga Desa Batangbabasal.

Desa Kanali sendiri merupakan desa dengan lokasi paling dekat untuk sampai di tempat ini. Jalur menuju Tendetung belum beraspal, dengan demikian, untuk anda yang hendak melancong ke tempat ini harus ekstra hati-hati terlebih saat hujan.

Oh iya, nama Tendetung sendiri diambil dari salah satu jenis rumput yang tumbuh disekitar Danau.

Proses terbentuknya danau Tendetung

Ada beberapa catatan yang bisa dijadikan rujukan untuk mengetahui proses terbentuknya danau Tendetung salah satunya dari SLHD [Status Lingkungan Hidup Daerah].

Disebutkan bahwa Danau Tendetung digolongkan sebagai danau Resevoar atau danau yang ada di perbukitan.

Dengan kata lain, Tendetung sama seperti danau pada umumnya yang merupakan bagian dari komponen air permukaan bumi.

Atau, sebagai tempat limpasan air permukaan dan mungkin juga rembesan air tanah yang terkumpul ditempat rendah.

Jadi, bukan karena air yang membentuk danau tersebut terperangkap namun karena air yang memasuki danau datang lebih cepat daripada yang keluar atau menguap.

Dari bentuknya, danau ini seperti dolinee atau sebuah danau yang terbentuk akibat reruntuhan atap gua.

Ini bisa dilihat dari struktur lipatan yang membentuknya. Meski demikian, masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut apa dan bagaimana proses terbentuknya danau Tendetung.

Danau tendetung sendiri memiliki luas ± 230 ha dengan debit air mencapai 4.800 liter/detik.

Salah satu hal yang membuat danau ini unik adalah kandungan airnya yang berubah-ubah.

Dimana, saat musim hujan, airnya akan surut sementara saat musim kemarau, airnya akan pasang.

Beberapa catatan menyebutkan kalau fenomena ini terjadi akibat estavelle yang disebabkan oleh hidrologi permukaan danau yang mungkin saja terhubung ke satu atau lebih sungai bawah tanah.

Cerita rakyat tentang danau Tendetung

Ada satu cerita rakyat yang terus bertahan sampai sekarang yang isinya menceritakan proses terbentuknya danau Tendetung.

Dikisahkan kalau Tendetung terbentuk karena cinta yang terlarang antara dua manusia yakni Sundano dan Kokiap.

Dua pasangan ini menjalin cinta yang tidak direstui oleh keluarga Kokiap.

Cinta mereka terlarang menurut hukum dan adat sehingga mereka tidak diperbolehkan untuk bersatu.

Tetapi karena sudah terlanjur sayang, dua sejoli ini berjanji untuk tetap bersama apapun yang terjadi bahkan sampai maut memisahkan.

Untuk memisahkan mereka, orang tua Kokiap menjodohkan anaknya dengan seorang pria yang sudah dipilih.

Gayung menyambut, sang pria tersebut kemudian mempersunting Kokiap.

Sundano tentu saja sakit hati mendengar perjodohan tersebut. Ia lalu berusaha menggagalkan pernikahan tersebut.

Jauh hari sebelumnya, Sundano sudah menceritakan rencana tersebut kepada Kokiap dan Kokiap setuju.

Bahwasanya, kalau perjodohan tetap dilangsungkan maka mereka berdua terpaksa harus melarikan diri.

Agar rencana bisa berjalan dengan baik, Sundano pergi ke laut dan mengumpulkan hewan-hewan yang ditemuinya disana ke dalam bambu.

Di hari pernikahan, ia menyusup ke bawah Rumah Kokiap lalu menempatkan hewan-hewan laut tersebut dibawah rumah Kokiap.

Rumah Kokiap sendiri adalah rumah panggung, seperti rumah zaman dulu pada umumnya.

Berdasarkan cerita itu juga diketahui apabila seseorang meletakan hewan-hewan laut ditempat orang yang sedang berpesta maka akan terjadi malapetaka besar.

Baca Juga : 30 Negara Yang Paling Banyak Dikunjungi Di Dunia

Dalam bahasa daerah disebut Pamali atau hal yang tidak boleh dilakukan. Tak jauh dari tempat tersebut, Sundano juga sudah menyiapkan perahu agar ia dan Kokiap bisa pergi ke tempat yang jauh.

Malapetaka pun terjadi, hujan yang amat deras turun dari langit dan menyebabkan banjir besar. Petir dan angin ribut mengiring hujan.

Saat orang-orang sedang berpesta, mereka dikejutkan oleh malapetaka yang sedang terjadi.

Saat itulah Kokiap lari ke tempat yang sudah direcanakan. Disana, Sundano sudah menunggu kekasihnya itu.

Mereka berdua kemudian naik perahu, lalu pergi sejauh mungkin. Sialnya, asmara itu bukan saja tidak restui oleh orang tua kokiap tetapi juga oleh oleh Alam.

Setiap kali Sundano mendayung ada saja pohon yang merintangi perjalanan mereka.

Pada belokan ke seratus atau pada rintangan yang ke terakhir seketika tercipta sebuah lubang yang besar yang menjadi muara dari banjir besar, yang juga jadi tempat peristirahatan terakhir mereka.

Sampai hujan reda, tak seorang pun yang tahu dimana dua sejoli itu berada. Tidak diketahui juga apakah ayah dan ibu dari Kokiap juga ikut selamat, yang pasti cerita ini tetap bertahan sampai sekarang.

Setiap kali danau surut akan terlihat kelokan-kelokan dan dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai bekas dari perahu yang digunakan oleh Sundano dan Kokiap.

Tak jauh dari Tendetung, tepatnya di desa Kanali, muncul dua mata air jernih. Jarak antara satu mata air dengan mata yang lain kira-kira 300 meter.

Oleh penduduk setempat, dua mata air itu diberi nama Sundano dan Kokiap karena dipercaya sebagai perwujudan dua manusia tersebut.

Keunikan danau Tendetung

Keunikan danau Tendetung tak lepas dari cerita rakyat dan juga berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan.

Tiap enam bulan sekali, air yang mengalir disana seperti tersumbat sesuatu sehingga seluruh daratan digengangi air yang tingginya mencapai puluhan meter diatas pemukaan tanah.

Enam bulan berikutnya, air surut tiba-tiba hingga setinggi lutut orang dewasa. Pada saat air ini turun, biasanya masyarakat berbondong-bondong untuk mencari ikan segar sekaligus untuk berwisata.

Salah satu jenis ikan yang banyak ditemui disana adalah Mujair yang merupakan jenis ikan air tawar dari ordo Perciformes.

Selain mujair juga terdapat ikan Gabus atau Channa striata dan belut air tawar.

Potensi Wisata Kabupaten Banggai Kepulauan yang harus dimaksimalkan

Dibalik cerita tersebut, danau Tendetung kini menjadi salah satu tempat dengan potensi wisata yang cukup menjanjikan di Kabupaten Banggai Kepulauan dan harus dimaksimalkan oleh pemerintah setempat.

Jika dimaksimalkan, danau Tendetung juga bisa menjadi salah satu sektor bernilai ekonomis .

Potensi ekowisata juga besar, termasuk sebagai danau alami yang bisa menjadi destinasi wisata berskala nasional.

Yang jadi masalahnya adalah lokasi desa ini yang mencakup beberapa desa sehingga pengelolaannya terhambat karena setiap desa mengklaim punya hak pengelolaan.

Disisi lain, pandangan masyarakat soal pariwisata yang masih kurang padahal ia bisa dijadikan tulang pungguh ekonomi masyarakat pedesaaan pada umumnya.

Harapannya agar masyarakat bisa melihat potensi tersebut dan diskusi alot tentang siapa yang paling berhak mengelola bisa cepat diselesaikan.

Penutup

Untuk diketahui, danau ini sendiri lokasinya tak terlalu jauh dari tempat saya lahir. Waktu kecil saya dan teman-teman sering berburu ikan disini.

Jaraknya sendiri tak terlalu jauh. Kalau dulu, kami harus menempuh perjalanan 1 jam lebih dengan jalan kaki sekarang tidak lagi.

Sudah tersedia jalan yang bisa dilewati kendaraan roda dua dan roda empat. Jadi waktu tempuhnya tidak terlalu lama. Sekira 15-20 menit.

Jika anda pengen berkunjung ke wisata alami, yang belum terjamah namun tetap eksotis, yuk ke Danau Tendetung. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *