Crypto vs Saham: Apa Bedanya? Dan 5+ Hal Wajib Diketahui

Mau trading tapi dilema mau trading mata uang crypto atau saham? Jika iya, simak perbedaan crypto vs saham dibawah ini.

Dalam konteks yang lebih sederhana, trade atau trading, a.k.a perdagangan sudah ada sepanjang sejarah manusia itu sendiri.

Namun bursa saham atau pasar saham seperti yang dikenal sekarang adalah fenonema yang relatif baru.

Dan hari ini, berkat adanya perdagangan jenis ini di setiap negara, pasar saham telah menjelma jadi pasar yang sangat luas untuk beli saham perusahaan, mata uang dan komoditas dari seluruh dunia.

Dengan demikian, trading dibuat untuk memudahkan atau memfasilitasi pembelian dan penjualan mata uang, termasuk mata uang virtual seperti crypto di pasar global.

Jadi baik saham atau mata uang crypto punya satu kesamaan yakni memfasilitasi atau memudahkan perdagangan.

Namun, cara aset diperdagangkan, volatilitas pasar serta faktor-faktor lainnya, aturan misalnya, jadi poin teknis yang membedakan antar keduanya.

Poin inilah yang kemudian jadi alasan mengapa artikel crypto vs saham ini saya buat.

Jika penasaran perbedaan saham dan bitcoin, masih pertimbangkan pertanyaan macam mending bitcoin atau saham, perbedaan saham dan cryptocurrency dan perbedaan cryptocurrency dan forex, simak artikel dibawah ini sampai habis.

Crypto vs Saham: Apa Bedanya?

Ada yang bilang kalau trading mata uang crypto lebih beresiko ketimbang trading saham di sekuritas.

Ada juga yang bilang kalau dua-duanya beresiko terlebih saat beli saham gorengan yang harganya cepat berubah.

Termasuk juga pandangan netral yang mengatakan kalau dua-duanya beresiko karena bergantung pada saham dan jenis mata uang virtual yang diperdagangkan.

Untuk dapat jawaban yang lebih rinci, simak perbedaan crypto vs saham dibawah ini dari lima aspek.

Aspek pertama berkaitan dengan aset yang diperdagangkan, kedua berkaitan dengan kematangan pasar, pergerakan pasar, jangkauan serta aturan dan biaya.

Tanpa perlu berlama-lama, berikut disajikan perbedaan Crypto vs Saham dibawah ini:

1. Aset yang diperdagangkan [Assets traded]

Crypto vs Saham

Perbedaan paling pertama ada pada aset yang diperdagangkan. Untuk jenis aset yang diperdagangkan ini terbagi dalam beberapa bentuk, yakni:

a. Jenis aset [Type of assets]

Jenis aset adalah perbedaan utama antara trading mata uang crypto dan bursa saham. Pasar saham memperjualbelikan saham perusahaan dan asetnya.

Sedangkan, mata uang crypto memperdagangkan uang crypto atau uang digital seperti Bitcoin, Ethereum, Dogecoin dan lain sebagainya.

b. Kepemilikian Aset [Asset ownership]

Saat beli saham suatu perusahaan maka saham yang dibeli itu mewakili ekuitas sebuah perusahaan.

Sebagai contoh nih, anda beli saham PT Bank Central Asia Tbk dengan kode BBCA di bursa efek langsung atau lewat sekuritas, maka anda memiliki saham yang mewakili kepemilikan perusahaan tersebut.

Dengan demikian, apabila kinerja Bank BCA bagus akan mempengaruhi nilai saham yang dialokasikan.

Sebaliknya, saat beli mata uang digital baik itu koin atau token, tidak selalu mewakili kepemilikan perusahaan yang mengeluarkannya.

Alasannya sederhana karena mata uang digital nilainya subjektif. Dan inilah yang mendasari pendapat kalau beli mata uang crypto lebih mudah dibanding beli saham.

c. Penerbitan aset [Issuance of assets]

Sepanjang perusahaan publik tunduk pada hukum dan aturan yang berlaku, maka perusahaan tersebut dapat dengan bebas menerbitkan saham untuk dapat pendanaan publik.

Tapi tidak sebebas yang dibayangkan. Karena ada banyak pertimbangkan saat menerbitkan dan memperjualbelikan saham.

Sebaliknya, jumlah token atau koin mata uang crypto terbatas atau sengaja dibatasi. Dan ini sesuai dengan ilmu ekonomi dasar.

Bahwasanya, dengan pertimbangan jumlah yang terbatas itu maka pertumbuhan dan harga akan meningkat dengan sendirinya sesuai permintaan.

2. Kematangan pasar [Maturity of the market]

Crypto vs Saham

Saham telah lama diperjualbelikan di bursa efek. Artinya, dibanding mata uang crypto, saham sudah lebih matang.

Kata matang ini bisa mempresentasikan kematangan pasar saham, regulasinya, jumlah yang ditransaksikan dan lembaga pengawas.

Artinya, perusahaan publik yang menjual saham di pasar saham juga harus transparan soal keuangan perusahaan agar bisa diakses investor dan trader.

Tujuannya adalah untuk membaut pasar saham tetap terbuka dan akses terhadap laporan keuangan perusahaan per triwulan dapat diakses dengan bebas.

Itu belum lagi tanggal jatuh temponya yang bisa dipertimbangkan sesuai keinginan investor. Dengan demikian, volume dan keragaman investasi sangat besar.


Baca Juga:


Karena saham dianggap lebih matang maka ia secara tidak langsung telah memberi banyak kesempatan bagi trader untuk memahami trading termasuk juga investasi.

Meski demikian, ini cukup merugikan bagi investor kecil karena pasar saham saat ini akan memberi penghargaan kepada investor besar dengan biaya dan komisi yang lebih rendah.

Sementara, trading mata uang crypto baru berusia tahunan alias masih cukup belia dan belum terlalu matang.

Meskipun akhir-akhir ini ada upaya dari pemerintah dan lembaga berwenang untuk meningkatkan aturan terkait mata uang crypto agar meningkatkan kepercayaan investor.

Karena itu, aktivitas trading mata uang crypto atau token belum ada aturan bakunya dan diluar kontrol politik.

Disisi lain, karena usianya yang masih bisa dihitung jari, volume dan keragaman mata uang crypto jauh lebih sedikit dibanding pasar saham.

3. Volatilitas

Crypto vs Saham

Volatilitas, dalam konsep trading, diartikan sebagai kecenderungan perubahan harga dan nilai saham yang diperdagangkan.

Misalnya nih, saat mau beli saham satu perusahaan, bisa pertimbangkan volatilitas pasar apakah positif atau negatif.

Jika volatilitasnya rendah berarti pasar bergerak stabil. Jadi ada kemungkinan dapat capital gain.

Rate harganya pun bisa dilihat dalam jangka waktu tertentu mulai dari 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun sampai dengan 5 tahun.

Jika rencana beli saham untuk di tahan atau hold maka ia disebut investasi. Investasi berarti anda harus tunggu waktu yang lumayan lama agar dapat dividen.

Disisi lain, apabila volume perdagangannya besar maka bisa meningkatkan stabilitas pasar saham dan membuatnya tahan banting dari pengaruh trader besar.

Tapi kembali ke prinsip bursa efek itu sendiri. Mengingat hubungannya dengan pemerintah dan perusahaan dari seluruh dunia yang mudah dipengaruhi oleh peristiwa geopolitik.

Tapi tak separah volatilitas mata uang crypto. Jika mau trading Bitcoin atau Ehtereum misalnya, sia-siap dengan pergerakan harganya yang cepat.

Tak mengherankan sih karena pasar mata uang crypto masih tergolong baru jadi pasang surutnya harga sangat terasa.

Dengan demikian, pasar crypto rentan terhadap aktivitas whale traders alias orang yang punya jumlah bitcoin tersebar.

Karena itu, seluruh pasar bergantung pada keputusan whale traders tersebut. Faktor inilah yang membuat volatilitas crypto lebih cepat berubah.

Sebagai contoh nih, pasti pernah dengar berita CEO Tesla, Inc., Elon Musk yang menginvestasikan $1,5 Miliar ke Bitcoin.

Setelah investasi itu direalisasikan pada Januari 2021, harga bitcoin tiba-tiba melonjak pada 17% yang merupakan rekor tertinggi.

Namun karena mata uang crypto tidak diatur regulasinya oleh pemerintah dan institusi global lainnya, maka trading bitcoin umumnya terisolasasi dari pengaruh politik.

4. Jangkauan pasar [Market reach]

Crypto vs Saham

Saat memilih investasi atau trading di pasar saham, secara psikologis anda melatih diri untuk sabar.

Soal ini kembali ke kematangan bursa itu sendiri dengan berbagai aturan, regulasi dan pengawasan lembaga berwenang.

Dengan kata lain, proses untuk memulai trading bisa memakan waktu dan energi yang ga sedikit.

Selain itu, anda juga harus dapat broker yang tepat atau bisa daftar langsung ke berbagai pialang saham dan sekuritas pilihan.

Disisi lain, anda tidak bisa beli saham sesuka hati karena proses jual beli saham dibatasi pada jam kerja bursa.

Jadi, akses ke pasar saham sangat dikendalikan. Dan ini berbanding terbalik saat trading bitcoin atau mata uang digital lain.

Yang mana, anda bisa trading kapan saja dan dimana saja, 24 jam sehari, entah itu hari libur, hari kerja, acara besar dan lain sebagainya.

Dan siapapun bisa ambil bagian didalamnya. Sehingga, mata uang crypto lebih mudah di akses oleh semua orang dengan status sosial berbeda-beda.

5. Aturan dan biaya [Fees and regulations]

Crypto vs Saham

Perbedaan terakhir, dan yang paling penting, ada pada aturan saat jual dan beli saham atau mata uang virtual.

Diatas sudah saya sebutkan berkali-kali kalau pasar saham telah berkembang jadi pasar regulatif dengan berbagai aturan penyokongnya.

Aturan tersebut sengaja dibuat untuk melindungi investor dan trader sekaligus untuk menjaga agar iklim investasi tetap adil.

Didalam aturan itu juga ada biaya. Karena saham masuk dalam kategori objek pajak. Selain pajak, juga ada biaya komisi.

Selain dua jenis biaya diatas, anda juga bisa dikenakan biaya pembayaran atau pajak dividen jika berhasil cuan.

Dan ini berbeda dengan trading mata uang crypto. Dimana biaya-biaya overhead diatas relatif lebih sedikit.

Kebanyakan sih terkait dengan transaksi atau komisi penjualan. Jika dapat bitcoin dengan cara minning, mungkin ada biaya juga.

Selain beberapa biaya diatas, saat jual atau beli bitcoin pun akan dikenakan biaya termasuk juga saat mencairkannya jadi uang tunai.

Namun, jika dikalkulasikan semua biaya diatas nominalnya lebih rendah ketimbang estimasi biaya dari broker atau dari sekuritas.

Saya juga masih belum tahu pasti apakah sudah ada aturan trading crypto di Indonesia karena sejauh ini masih bebas dari regulasi.

Jadi hanya waktu yang menentukan sifat aturan dan regulasi yang nantinya akan ditetapkan untuk menciptakan iklim trading bitcoin yang lebih aman.


FAQ

Untuk beberapa pertanyaan terkait dengan postingan ini akan saya ulas dalam QnA dibawah, seperti:

1. Apakah saham dan mata uang crypto masih relevan sekarang?

Bagi saya, ya. Mengapa? Karena tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi kedepannya.

Tujuan awal mata uang crypto adalah agar suatu saat nanti, bentuk pembayaran cashless seperti uang tunai atau kartu kredit perlahan dihentikan.

Meskipun itu belum terjadi, tapi ada peningkatan transaksi mata uang crypto. Karena itulah, banyak orang yang menyesal tidak berinvestasi saat harganya masih rendah.

Selain itu, dengan bayar pakai mata uang crypto, jangkauannya sangat luas dan terisolasi dari peristiwa geopolitik serta bebas biaya regulasi alias pajak.

2. Bagaimana cara kerja mata uang kripto?

Sebenarnya, cara kerja mata uang crypto berbeda antar satu koin atau token dengan yang lainnya.

Tapi tetap berpegang pada prinsip umum, dimana ia jadi pasar online dimana anda bisa beli atau jual mata uang crypto.

Biayanya tentu berbeda. Paling populer adalah Bitcoin sehingga bisa ditemukan sebagian besar platform cryptocurrency.

Selain itu, penting juga untuk mengetahui perbedaan antara mata uang crypto dengan dompet crypto termasuk brokernya.

3. Wajibkah berinvestasi ke cryptocurrency?

Gak wajib sih, tergantung anda. Jadi semuanya kembali ke pribadi masing-masing.

Hanya saja, jika mau investasi di sektor yang high risk, bisa di coba. Jika tidak mau ambil resiko, mending ke saham aja, yang penting bukan saham gorengan.

4. Mengapa harga mata uang crypto berbeda antara satu platform dengan platform lain?

Kalau jeli, beberapa dari anda mungkin sadar kalau harga Bitcoin di satu platform dengan platform lainnya berbeda.

Apa penyebabnya? Penyebabnya ada pada pasokan bitcoin yang diperjualbelikan sehingga mempengaruhi harga yang beredar.

Dengan kata lain, platform kecil bisa saja mematok harga yang lebih tinggi karena pasokannya yang sedikit.

Faktor kedua disebabkan oleh cara trader memperdagangkannya karena tidak ada cara pasti untuk menentukkan harga pasarnya berapa.

Dengan demikian, anda tidak tahu pasti berapa uang yang harus dikeluarkan untuk beli mata uang crypto melainkan berdasarkan apa yang orang bersedia bayar.

5. Bagaimana cryptocurrency mempengaruhi pasar saham?

Sekalipun mata uang crypto tidak bergantung pada pasar saham, namun beberapa ahli percaya bahwa keduanya punya korelasi.

Mungkin agak menjengkelkan terlebih beberapa pegiat mata uang ini lebih suka dengan kondisi pasar crypto yang sifatnya swasembada.

Namun ada beberapa bukti yang mengatakan bahwa mata uang crypto punya dampak ke pasar saham.

Sebagai contoh, harga saham Tesla Inc. naik 2% setelah pengumuman bahwa mereka akan berinvestasi dalam Bitcoin, sebelum akhirnya turun 5%.

Bloomberg juga mencatat bahwa korelasi antara bicoin dan indeks saham, S&P 500 misalnya, akan tetap positif.

Artinya, pergerakan harga Bitcoin mungkin akan selalu konsisten dengan pergerakan pasar saham ekuitas.

Penutup

Pada akhirnya, semua kembali ke pribadi masing-masing apakah mau trading saham di bursa efek atau di mata uang crypto.

Namun dengan mengetahui perbedaan keduanya bisa menambah wawasan dan pengetahuan tentang bagaimana mengalokasikan uang ke produk trading yang tepat.

Jadi dua-duanya ada potensi keuntungan dan potensi kerugian. Karena itu, penting untuk mengetahui seluk-beluknya dulu.

Kalau ada tambahan, masukkan atau mungkin pertanyaan lain terkait dengan postingan ini silahkan tinggalkan di kolom komentar.

Demikian artikel tentang perbedaan trading cryptocurrency vs saham. Semoga artikel ini bisa bermanfaat. ***

Tinggalkan komentar