Contoh Karya Tulis Ilmiah dan Penjelasannya Lengkap

Karya tulis ilmiah (KTI) adalah karangan atau tulisan yang didasarkan pada data atau fakta dengan mengikuti kaidah ilmiah.

Kaidah ilmiah, dalam konteks ini, merujuk pada penggunaan struktur tulisan, data serta referensi atau sumber rujukan.

Dengan demikian, karya tulis ini memiliki daftar pustaka. Dalam konteks yang lebih luas, KTI dianggap sebagai laporan singkat tentang suatu penelitian.

Ada juga yang menyebutnya sebagai laporan atau catatan tertulis yang didalamnya mengulas tentang suatu topik penelitian utama.

Karena penulisannya menggunakan kaidah penulisan ilmiah, maka ia juga layak disebut sebagai tulisan akademis atau academic writing.

Mengapa demikian? Karena kaidah tersebut biasanya ditulis oleh guru, dosen dan mahasiswa di perguruan tinggi dengan tujuan yang disesuaikan sama topik penelitian.

Dan untuk anda yang sedang cari contoh karya tulis ilmiah lengkap beserta struktur dan daftar pustaka, contoh KTI lengkap, simak artikel dibawah ini sampai habis.

Contoh Karya Tulis Ilmiah dan Penjelasannya Lengkap

Sebenarnya ada banyak sekali contoh karya tulis ilmiah di internet dengan berbagai topik mulai dari pendidikan, kesehatan, sosial kemasyarakatan dan lain sebagainya.

Formatnya sendiri cukup variatif dimana pengguna bisa download langsung entah yang menggunakan format PDF (.PDF) atau mungkin Microsoft Word (.DOC, dan .DOCX).

Untuk contoh KTI dibawah ini dibuat sebagai salah satu syarat menjadi pembina asrama di salah satu sekolah swasta dimana pelamar harus memiliki latar belakang lulusan psikologi atau pernah menjadi pembina asrama sebelumnya.

Judulnya sendiri adalah: Peran dan fungsi pembina asrama seperti yang terlihat lewat kolom dibawah ini:

KATA PENGANTAR
 
Puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, karena berkat dan tuntunan-Nya saya berhasil menyelesaikan karya tulis ilmiah dengan judul, “Peran dan Fungsi Pembina Asrama”. Karya tulis ilmiah ini dibuat untuk memenuhi syarat untuk mendapat pekerjaan menjadi Pembina asrama di SMP Lokon St. Nikolaus Tomohon.

Diharapkan pula, karya tulis ilmiah ini mampu menjelaskan kepada khalayak umum sebagai dasar pengetahuan soal tugas dan tanggung jawab Pembina asrama. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan saran atas penyusunan karya tulis ilmiah ini.

Sebagai manusia biasa, Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam menyusun karya tulis ilmiah ini. Penulis mengharapkan masukan dan saran, yang berguna dalam menyempurnakan karya tulis ilmiah ini. Semoga karya tulis ilmiah ini dapat berguna untuk penulis dan para pembaca.                                                                                           
                                                                                                                                                        
Jakarta, 15 Juni 2022
 
 
 
Penulis,

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dari kehidupan dan merupakan hak asasi manusia yang bersifat wajib. Artinya, perhatian dan usaha nyata untuk memajukan pendidikan menjadi prioritas utama dalam kehidupan sosial. Pendidikan menjadi sangat penting karena bukan hanya untuk kebutuhan formal, tetapi sebagai salah satu cita-cita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai amanat UUD 1945. 

Dalam pendidikan penanaman norma-norma tertentu perlu diadakan demi membentuk manusia dengan wawasan kebangsaan dan moral yang baik, membentuk perilaku dan budi pekerti luhur. Dan demi mewujudkan nilai-nilai dari pendidikan itu sendiri, peran dari tenaga pendidik dan Institusi Pendidikan sangatlah diperlukan. 

Tenaga pendidik harus mampu menjadi contoh, teladan,  teman dan guru bagi para murid. Dalam beberapa sekolah yang berbasis asrama, peran pendidik ini tidak hanya ada dalam diri guru tetapi juga ada dalam diri pembina asrama. Jadi, diperlukan adanya pembina asrama yang memiliki wawasan dan paham betul akan peran, fungsi, tugas dan tanggung jawabnya. Pembina asrama juga berperan penting dalam menjamin mutu pendidikan sehingga, secara tidak langsung, akan ikut serta dalam menjaga mutu kualitas dari pendidikan sekolah yang diperoleh penghuni asrama. Boarding school model[1] atau sekolah berbasis asrama merupakan suatu lembaga yang berupa sekolah namun memiliki suatu keistimewaan dimana dalam lembaga tersebut terdapat asrama yang dijadikan sebagai tempat tinggal peserta didik. 

Sekolah berasrama dapat dijadikan acuan dalam peningkatan kualitas sekolah. Orang tua pada zaman ini, benar-benar menginginkan keberlangsungan pendidikan putra atau putrinya menjadi seorang yang berhasil di masa depan. Inilah yang mendorong orang tua memilih sekolah yang benar-benar menampung putra-putrinya salah satunya di sekolah berasrama.

Dalam sekolah berasrama, dibutuhkan tenaga kerja pendamping yang secara sementara berfungsi untuk menggantikan peran orang tua sekaligus guru selama peserta didik berada di asrama. Tenaga kerja ini berfungsi untuk membina para pelajar di asrama, sehingga mampu ikut serta menjaga mutu kualitas pendidikan sekolah.

Berdasarkan fungsi tersebut maka sangat diharapkan pembina asrama dapat membantu penanganan dan pembentukan pendidikan karakter dari peserta didik di asrama. Salah satu aspek yang memainkan peranan sangat penting dalam penanganan dan pembentukan karakter, yakni psikologi. Melalui pendekatan psikologi, karakter seseorang dapat diketahui, dibimbing, dan diarahkan sehingga menjadi pribadi yang berkualitas.

Dari berbagai konsep psikologi perkembangan anak yang dinilai cocok dalam pengembangan dan pendidikan karakter berasrama adalah konsep sosiokultural yang digagas oleh Lev Vygotsky[2]. Menurut Vygotsky, perkembangan manusia adalah sesuatu yang tidak boleh terpisahkan dengan berbagai jenis kegiatan sosial dan budaya. Penekanannya bahwa segala perkembangan meliputi kognitif, afektif dan psikomotorik seorang anak dipengaruhi oleh penemuan atau sosial budaya yang terjadi di masyarakat seperti bahasa, ingatan dan lain-lain.

Konsep perkembangan sosiokultural ini sangat baik jika diterapkan dalam sistem pendidikan berasrama di Yayasan Pendidikan Lokon mengingat visi yang diembannya, yakni menjadi institusi unggulan yang tangguh, kreatif dan inovatif dalam bidang pendidikan yang mengintegrasikan kebenaran, kebajikan dan iman, serta mampu memperkasa anak dan meningkatkan kesejahteraan sumber daya manusia. Karakter peserta didik akan berkembang dengan beragam rangsangan yang diberikan oleh pihak penyelenggara pendidikan berdasarkan interaksi langsung.

Hal ini tercipta karena adanya hubungan timbal balik antara pembina dengan peserta yang dibina dalam berbagai aspek yang ditemui secara bersama-sama dalam proses pembelajaran tersebut. Peserta didik menimbah langsung pengetahuan dari pertemuannya dengan pendidik maupun teman sebaya yang lebih unggul dimana ia berada, sebaliknya pendidik dapat mendorong dan memotivasi perkembangan pengetahuan maupun menciptakan lingkungan yang sehat bagi penyerapan pembentukan karakter peserta didik.

Dengan kemampuan pembina asrama dalam menerapkan konsep tersebut maka proses pendidikan dan pengembangan karakter anak asrama dapat terbentuk secara baik. Oleh karena itu karya tulis ini mencoba menggambarkan tentang KONSEP SOSIOKULTURAL/KONSTRUKTIVISME VYGOTSKY DALAM MENUNJANG PERAN DAN FUNGSI PEMBINA ASRAMA.
 
B. Rumusan Masalah
1. Apa peran pembina asrama sehingga mampu ikut serta menjaga mutu pendidikan?
2. Apa saja fungsi pembina asrama sehingga para Pembina bisa menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik?
3. Apa tantangan pembina asrama dalam masa saat ini, sehingga mampu memahami karakter penghuni asrama?
4. Bagaimana mengimplementasikan konsep sosiokultural dalam pembinaan siswa di asrama?

C. Tujuan
1. Mengetahui peran dari pembina asrama, sehingga dapat memberi pengetahuan bagaimana menjadi Pembina asrama yang baik dan benar
2. Mengenal fungsi-fungsi menjadi Pembina asrama
3. Mengetahui tantangan yang dihadapi pada era saat ini, sehingga pembina asrama mampu menyesuaikan dengan karakter para siswa
4. Menerapkan sistem pendampingan anak asrama oleh pembina berdasarkan konsep sosiokultural
 
 
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Asrama
Asrama memiliki banyak definisi. Misalnya, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia Asrama berarti tempat pemondokan (Poerwadarminta, 1976). Asrama, yang dalam Bahasa Inggris disebut Dormitory adalah bangunan tempat tinggal bagi kelompok orang yang bersifat homogen (Balai Pustaka, 1995). Jadi, asrama bisa dipahami sebagai suatu tempat penginapan yang ditujukan untuk anggota suatu kelompok, umumnya murid-murid sekolah. 

Asrama biasanya merupakan sebuah bangunan dengan kamar-kamar yang dapat ditempati oleh beberapa penghuni di setiap kamarnya. Para penghuninya menginap di asrama untuk jangka waktu yang lebih lama dibanding di hotel maupun losmen. 

Ada banyak alasan mengapa siswa atau peserta didik memilih tinggal di asrama mulai dari tempat tinggal yang terlalu jauh atau biaya yang terbilang murah dibandingkan dengan penginapan jenis lain seperti apartemen. Sementara, orang tua lebih memilih memasukkan anak-anaknya di asrama dengan tujuan untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan yang lebih tinggi dan lebih bagus lagi.
 
B. Pengertian Pembina Asrama
Pembina berasal dari kata dasar bina. Pembina adalah sebuah homonim karena arti-artinya memiliki ejaan dan pelafalan yang sama tetapi maknanya berbeda. Pembina memiliki arti dalam kelas nomina atau kata benda sehingga pembina dapat menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata pembina adalah pangkat struktural Pegawai Negeri Sipil golongan IV/a, satu tingkat dibawah pembina tingkat satu, satu tingkat di atas penata tingkat satu. 

Arti lainnya dari pembina adalah orang yang membina. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pembina asrama adalah orang yang mempunyai kedudukan dan diberi tugas untuk membina berdasarkan peran dan fungsinya. 

Pembina asrama membina tempat atau wilayah yang dibinanya atau tempatnya bekerja, untuk membina suatu kelompok tertentu dalam sebuah bangunan penginapan, serta terlibat aktif dalam pendidikan luar sekolah yang berkualitas.
 
C. Peran dan Fungsi Pembina Asrama

1. Peran Pembina Asrama
Pembina asrama berperan sebagai orangtua kedua bagi anak selama mereka berada di lingkungan asrama (Hamdani, 2021). Berbeda dengan guru yang hanya bertugas saat jam pelajaran berlangsung, pembina asrama berkewajiban mendampingi anak sejak sebelum pagi sampai mereka kembali tidur malam. 

Pembina asrama bertanggung jawab atas terlaksananya seluruh kegiatan rutin yang dilakukan oleh anak setiap harinya. Kesehatan fisik dan mental anak yang dibinanya juga menjadi bagian penting dari tugasnya sebagai orangtua kedua bagi anak.

Dalam hal pembentukan karakter anak, pembina asrama bertugas untuk menanamkan nilai-nilai positif kepada anak didiknya dengan tetap memastikan agar kebutuhan religius-agama dari penghuni asrama terpenuhi.

Sementara nilai-nilai dasar yang harus ditanamkan di asrama mencakup kemandirian, gotong royong, kerjasama, solidaritas serta sikap saling menghargai satu sama lain. Untuk itu seorang pembina asrama perlu memahami karakter dan kepribadian masing-masing orang. Perbedaan asal daerah serta latar belakang ekonomi dan sosial orangtua tentunya berpengaruh terhadap karakter yang dimiliki masing-masing anak.

Adapun ilmu yang berkaitan dengan pedagogik serta psikologi pendidikan menjadi modal dasar bagi pembina asrama dalam menjalankan tugas-tugasnya. Berbagai macam permasalahan menyangkut anak dapat dengan mudah ditemukan dalam kehidupan asrama.

Anak yang tidak siap untuk hidup dan belajar bersama di sekolah asrama biasanya sering membuat masalah agar mereka dikeluarkan oleh sekolah dan juga asrama. Dalam hal ini seorang pembina asrama berperan penting dalam memberikan semangat dan dukungan kepada anak. Karena itu, sebagai pembina asrama, ia harus mampu menjadi pendengar sekaligus penasihat yang baik bagi anak-anak yang dibinanya.

Selain memiliki bekal pedagogik dan pengetahuan yang berkaitan dengan psikologi, pembina asrama juga harus mampu memposisikan dirinya sebagai teladan atau role model bagi anak-anak tersebut. Kepribadian seorang pembina asrama akan sangat mempengaruhi pembentukan karakter anak.
 
2. Fungsi Pembina Asrama
Saat pembina asrama mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, rasa menghargai serta mampu memberikan rasa aman, maka anak pun akan tumbuh menjadi pribadi yang senantiasa menyayangi dan menghormati orang-orang yang ada di sekitarnya. 

Sebaliknya, ketika seorang pembina asrama selalu mengedepankan hukuman bagi anak-anak yang dianggap bermasalah, tidak mustahil anak pun akan melakukan hal serupa kepada orang lain.

Besarnya tanggung jawab yang diemban oleh para pembina asrama nyatanya belum didukung oleh sistem pendidikan yang ada. Padahal, jumlah sekolah asrama di Indonesia semakin bertambah banyak. Hal tersebut terjadi karena tingginya kepercayaan masyarakat kepada sekolah-sekolah jenis ini. Sekolah tersebut dinilai sebagai tempat yang ideal untuk membentuk karakter anak. Hal ini patut dimaklumi mengingat banyaknya potensi gangguan yang mengancam masa depan anak saat orangtua tidak mampu membimbing anak-anaknya ketika mereka berada di rumah.

Menyikapi kondisi semacam ini, melaksanakan program peningkatan kompetensi secara berkala bagi para pembina asrama menjadi sebuah keniscayaan. Para pengelola sekolah asrama hendaknya terus meningkatkan kompetensi profesional serta spiritual para pembina asramanya. 

Berbagai kegiatan pelatihan, seminar, sampai dengan pembinaan keagamaan sebaiknya dilaksanakan secara rutin. Upaya tersebut diharapkan akan mampu meningkatkan kinerja pembina asrama sekaligus akan mampu menjauhkan mereka dari berbagai potensi penyimpangan.
 
3. Tantangan Pembina Asrama
Di era serba digital ini, ada banyak tantangan yang dihadapi termasuk dalam dunia pendidikan, yang berkat teknologi, ada dorongan agar pendidikan Indonesia semakin maju. Tapi diperlukan persiapan yang matang dan sistem yang kuat untuk memaksimalkan peluang tersebut.

Persiapan dan sistem itu mencakup infrastruktur, kebijakan, kurikulum, sumber daya manusia, lembaga pendidikan yang berkualitas, biaya pendidikan yang terjangkau serta kesiapan peserta didik dan masyarakat untuk mengimbanginya.

Peserta didik saat ini, yang sudah termasuk generasi milenial, terbiasa sejak dini dengan teknologi dan cenderung lebih cepat paham. Dengan demikian, tinggal mengarahkan mereka untuk menggunakan potensi alamiah tersebut agar dimanfaatkan sebaik mungkin. Karena sekalipun anak-anak milenial lebih mudah paham dengan dunia digital, namun memiliki kecenderungan ke arah yang negatif, maka hal ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan agar potensi yang luar biasa ini bisa dikembangkan ke arah yang positif sehingga mendukung tercapainya tujuan pendidikan.

Pendidikan karakter di era digital memiliki berbagai tantangan dan peluang. Promosi pendidikan karakter hendaknya tidak hanya sekedar lompatan layanan tetapi memiliki rencana aksi dan praktik. Secara bersama-sama, orangtua, guru, dan pengurus sebagai pemangku kepentingan, harus mendorong siswa mewujudkan nilai-nilai luhur tersebut dalam kehidupan mereka.

Tantangannya adalah bagaimana memberi kesempatan belajar kepada semua siswa untuk meningkatkan cara siswa belajar dan apa yang mereka pelajari tanpa dipengaruhi oleh latar belakang, geografi, ras, suku, agama atau kondisi ekonomi mereka. 

Para pembuat kebijakan pendidikan perlu berperan aktif dalam pengembangan berkelanjutan pembelajaran karakter secara digital untuk memastikan penerapan pembelajaran digital yang efektif. Negara-negara dengan strategi pembelajaran digital yang kuat akan bergerak maju untuk membantu siswa mencapai potensi penuh siswa di era digital.

Melihat tantangan yang ada maka pembina asrama perlu untuk menyusun program-program pembinaan di asrama yang berbasis teknologi. Karena pada saat ini, teknologi yang terus berkembang, tidak akan lepas dari aktivitas sehari-hari para murid kedepan. Dipihak pembina asrama, kita harus mencoba menambah wawasan kita secara berkelanjutan sehingga pembina asrama mampu mengikuti pola perubahan karakter para murid.
 
F. Konsep Sosiokultural dan Implementasi Dalam Berasrama
1. Konsep Sosiokultural
Konsep sosiokultural atau konstruktivisme merupakan sebuah teori yang dikembangkan oleh Lev Vygotsky, seorang psikolog Rusia. Teori ini memberikan penekanan pada Zone of Proximal Development (ZPD), Scaffolding serta bahasa dan pemikiran.

Zone of Proximal Development atau Zona Perkembangan Proximal adalah Zone of Proximal Development (ZPD) merupakan jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang ditunjukkan dalam kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat kemampuan perkembangan potensial yang ditunjukkan dalam kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu. Dengan kata lain, ini merupakan rantang dimana keadaan seorang anak mampu memecahkan masalah sendiri dengan saat dibantu oleh yang lebih berpengalaman dan berpengetahuan

Konsep ZPD dalam teori konstruktivisme Vygotsky memiliki empat tahap, sebagai berikut:

Tahap I: Tahap dimana peserta didik mengandalkan bimbingan dari pendidik atau instruktur untuk mengembangkan pemahaman sesuai dengan studi mereka.

Tahap II: pada tahap ini, berbekal pengetahuan sebelumnya pelajar melaksanakan tugas tanpa bimbingan apapun. Dengan kata lain mereka berlatih sendiri. Akan tetapi ini belum mencapai tahap kemampuan sempurna karena terkadang memerlukan beberapa bantuan.

Tahap III: di tahap ini peserta didik tidak lagi membutuhkan bantuan dari orang dewasa tetapi lebih banyak melakukan latihan untuk memperkuat pengetahuannya yang telah ada.  

Tahap IV: dalam tingkatan ini, peserta didik telah mampu menggunakan segala pengetahuan sebelumnya dan pegembangannya guna menyelesaikan masalah baik sebelumnya maupun menerapkan hasil pemecahannya secara mandiri. Dan ini dapat dilakukan berulang-ulang kali.

Konsep lain dalam teori Konstruktivisme Vygotsky, yaitu Scaffolding. Scaffolding adalah metode mengajar dengan jalan menyesuaikan tingkat dukungan guru agar sesuai dengan potensi kognitif seorang murid. Dengan begitu, ketika di dalam kelas guru dapat menyesuaikan tingkat bimbingannya dengan potensi masing-masing siswa. Ketika tugas yang akan dipelajari murid merupakan tugas yang baru, maka orang yang lebih ahli dapat menggunakan teknik instruksi langsung. Akan tetapi saat kemampuan peserta didik meningkat, maka semakin sedikit bimbingan yang diberikan. Vygotsky menganggap bahwa anak mempunyai konsep yang kaya tetapi tidak sistematis, tidak teratur, dan spontan. Anak akan bertemu dengan konsep yang sistematis dan logis serta rasional yang dimiliki oleh orang yang lebih ahli yang membantunya.

Selain kedua konsep tersebut, Vygotsky pun menitik beratkan bahasa dan pemikiran dalam teori sosiokulturalnya. Menurutnya bahasa tidak hanya untuk komunikasi sosial tetapi juga untuk merencanakan dan memonitor perilaku manusia dengan caranya sendiri yang dinamakan pembicaraan batin (inner speech). Siklus dari masa kanak-kanak, inner speech digunakan sebagai alat penting bagi pemikiran sebelum berkomunikasi secara eksternal. Anak kecil hanya menggunakan bahasa sebelum fokus pada pemikirannya ketika berkomunikasi hingga mencapai tahap dimana ia menggunakannya pengolahan pembicaraan eksternal ke internal. Informasi yang dikumpulkan dari luar dirinya diolah melalui inner speech itulah yang menjadi pemikirannya.  Teori Vygotsky mengemukakan bahwa anak yang menggunakan inner speech merupakan proses awal menjadi komunikatif secara sosial dan juga menegaskan bahwa seorang anak yang menggunakan inner speech akan lebih kompeten secara sosial daripada anak yang tidak menggunakannya.
 
2. Implementasi Dalam Berasrama
Berdasarkan pemaparan peran dan fungsi pembina asrama serta konsep konstruktivisme Vygotsky di atas, maka terdapat beberapa hal yang dapat diimplementasikan dalam rangka menunjang kinerja pembina asrama, sebagai berikut:

a. Memberikan Teladan
Siswa harus mendapatkan contoh bagaimana berperilaku yang baik kapan saja dan di mana saja. Pembina asrama yang merupakan orang tua siswa di asrama harus selalu bertingkah laku baik dan berhati-hati dalam setiap berucap atau berbuat sesuatu supaya dapat menjadi teladan yang baik bagi siswa.

2. Memberikan Penghargaan/Apresiasi
Strategi pendidikan karakter yang dapat pamong terapkan adalah dengan memberikan apresiasi pada siswa. Ucapan selamat dan terima kasih jangan hanya diberikan saat siswa berhasil mengukir sebuah prestasi. Berikan apresiasi pada setiap kemajuan yang siswa buat sekecil apapun. Misalnya saat siswa datang tepat waktu, bersedia membantu temannya, atau berani jujur. Pembentukan karakter siswa dengan cara seperti ini tidak hanya membuat siswa lebih percaya diri, siswa juga akan semakin bersemangat dalam belajar karena merasa diakui dan dihargai. Bagi siswa lain hal ini dapat menjadi inspirasi sehingga mereka juga kan berusaha lebih baik selama proses belajar.

3. Menyisipkan Pesan Moral
Pengembangan karakter peserta didik dapat dilakukan dengan menyisipkan pesan moral. Dengan demikian siswa akan tumbuh dan siap menghadapi masalah hidup, serta selalu berpikir optimis, dan berusaha untuk menyelesaikan masalahnya.
 
4. Jujur dan Open-Minded
Strategi pendidikan karakter di asrama  dapat dilakukan dengan memberitahu siswa bahwa setiap manusia tentu pernah luput dari kesalahan, tak terkecuali sebagai pembina di asrama. Saat melakukan kesalahan jangan pernah malu untuk mengakui dan meminta maaf pada siswa. Hal ini penting untuk dilakukan karena terbuka menerima kritik, berani berkata yang sebenarnya, dan bersedia mengakui kesalahan adalah bentuk contoh perilaku yang harus siswa teladani. Dengan begitu siswa dapat melakukan yang yang sama saat mengalami pengalaman serupa.

5. Mengajarkan Sopan Santun
Strategi pendidikan karakter di sekolah dan asrama salah satunya dengan menerapkan 5S yaitu salam, senyum, sapa, sopan dan santun. Mengajarkan sopan santun tidak hanya dengan menuliskannya di lorong-lorong sekolah atau di dinding kelas. Sopan santun dapat diajarkan lagi-lagi dengan teladan. Pembina asrama harus menegur siswa yang bertindak kurang sopan supaya siswa tahu apa yang dilakukan atau dikatakan tidak tepat. Ada kalanya siswa melakukan hal yang tidak sopan bukan karena sengaja melainkan karena mereka belum tahu yang mereka lakukan itu tidak baik. Berikan teguran dengan cara yang lemah lembut dan tidak menghakimi karena itu juga bentuk memberikan pelajaran sopan santun.

6. Menanamkan Leadership
Leadership atau jiwa kepemimpinan adalah salah satu karakter siswa yang harus dibangun. Sifat kepemimpinan dapat dilatihkan melalui pendidikan karakter. Memberikan kesempatan pada siswa untuk menjadi pemimpin secara bergantian adalah salah satu contoh pendidikan karakter. Cara lainnya untuk menanamkan leadership pada siswa dengan cara memberikan tugas secara berkelompok. Setiap kelompok harus memiliki pemimpin dan anggota. Tanamkan bahwa leadership bukan berarti harus selalu menjadi pemimpin orang lain. Ketika menjadi anggota kelompok dan dapat memberikan kontribusi pada kelompok artinya siswa sudah dapat memimpin dirinya sendiri.

7. Menceritakan Pengalaman Inspiratif
Pembina asrama dapat menceritakan pengalaman inspiratif baik pengalaman diri sendiri atau tokoh-tokoh terkenal. Hal ini akan menginspirasi siswa  untuk menjadi lebih baik. Cerita inspiratif tidak hanya tentang keberhasilan seseorang saja, cerita tentang kegagalan seseorang dan bagaimana ia bangkit dari keterpurukannya akan memberikan pelajaran yang berharga bagi siswa. Dengan saling berbagi cerita dan pengalaman, siswa akan belajar satu sama lain sehingga terbit cita-cita untuk menjadi seperti orang yang diceritakan dan memiliki solusi saat menghadapi masalah yang sama.

8. Melalui Kegiatan Literasi
Literasi tidak melulu tentang kemampuan membaca dan menulis. Saat ini definisi Literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengelola dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Diharapkan siswa dapat memahami dan memetik pelajaran dari buku yang dibacanya. Pengembangan karakter peserta didik di asrama dapat dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya dengan membuat pojok baca, membaca nyaring (read aloud), pohon Literasi, lain sebagainya.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesimpulan dari karya tulis ilmiah ini adalah pembina asrama harus memahami peran dan fungsinya sebagai pembina asrama. Sebagai pembina asrama, mereka dituntut untuk mampu melakukan pendekatan-pendekatan yang nyata dan positif dalam proses pembinaan yang dilakukan.

Mereka juga harus bisa menyusun program yang berguna bagi siswa yang jadi penghuni asrama dengan tetap memperhatikan perkembangan zaman. Sehingga pengaruh-pengaruh negatif dari teknologi dihilangkan lalu digantikan dengan pendidikan moral yang berkualitas sebab pembina asrama juga ikut terlibat dalam menjaga mutu pendidikan sekolah.

B. Saran
Sebenarnya, kita semua memiliki pikiran yang positif dalam memerangi dampak teknologi dan pengaruh lingkungan. Namun, untuk melawan itu kita harus mempunyai sistem pendidikan yang kuat dan harus dilakukan oleh setiap orang yang terlibat dalam dunia pendidikan. Dengan harapan, pada akhirnya, kita mampu memerangi bersama dampak-dampak negatif. Diharapkan pembina asrama mampu menjadi contoh bagi murid yang pada akhirnya ikut mendorong kualitas moral dunia pendidikan pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA
 
Poerwadarminta W.J.S. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia, PN Balai Pustaka, Jakarta

Balai Pustaka. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua. Jakarta: Depdikbud.

Nurdin, Rahmawati. 2018. Undergraduate Thesis UIN Raden Intan Lampung. Peran Pembina Asrama Dalam Pelaksanaan Program Pengembangan Kepribadian Berbasis Keislaman Di Asrama Putri Man 1 Bandar Lampung. Dalam http://repository.radenintan.ac.id/4569/ diakses pada 15 Juni 2022

Agustina, Siska. 2014. Artikel. Pengorganisasian Layanan Khusus Asrama Berbasis Sekolah. Dalam http://www.mbscenter.or.id/site/page/273 diakses pada 15 Juni 2022

Hamdani, Ramdan. 2021. Artikel. Peran Strategis Pembina Asrama. Dalam kompasiana.com/ramdhanhamdani3862/617f567806310e6050547ae2/peran-strategis-pembina-asrama/ diakses pada 15 Juni 2022
 

Catatan Kaki

[1] Model sekolah ini dinilai sebagai model pendidikan yang efektif dalam mendidik kecerdasan, keterampilan, pembangunan karakter dan penanaman nilai moral pada peserta didik. https://siarpedia.com/?s=boarding+school

[2] Lev Semyonovich Vygotsy adalah seorang psikolog Rusia yang lahir pada tanggal 17 November 1896 di Orsha, Belarus. Ia merupakan anak kedua dari delapan bersaudara dari Simkha Vygotsky dan Cecelia Moiseievna. Di tahun 1925, ia memperoleh gelar doktor setelah menyelesaikan tesisnya berjudul “The Psychology of Art” sebelum akhirnya meninggal pada 11 Juni 1934 akibat Tuberkulosis (TBC). Banyak tulisannya dalam bentuk esay namun tak sempat dipublikasikan. Karya-karya terkenalnya antara lain: teori sosiokultural, the psychology of art, materi ajar pedagogical psychology, Myshlenie i rech” (Thinking and Speech). Daffa Dhia, Lev Vygotsky: Psikolog Berpengaruh Dalam Dunia Pendidikan, https://www.zenius.net/blog/biografi-lev-vygotsky, November 2021.

FAQ

Beberapa pertanyaan yang mungkin akan diajukan terkait postingan ini bakal diulas dalam bentuk QnA dibawah, berikut daftarnya:

1. Apa yang dimaksud dengan karya tulis ilmiah?

Seperti yang sudah disebutkan di pembuka artikel yang mana karya tulis ilmiah adalah tulisan yang dalam prosesnya menggunakan pendekatan-pendekatan kepenulisan ilmiah pada umumnya.

Pendekatan ilmiah itu seperti apa? Seperti ada penelitian singkat terkait dengan topik dalam penelitian. Bicara soal penelitian juga terkadang berbicara soal metode pengolahan datanya.

Tapi, atas alasan waktu dan efisiensi, banyak KTI yang hanya menggunakan berbagai data dan fakta penelitian yang sudah ada sebelumnya.

Strukturnya sendiri tetap dimana harus terdapat minimal tiga bab dan setiap bab memiliki topik pembahasan berbeda-beda yang kemudian disebut sebagai struktur.

Tidak lupa juga dibagian bawah harus ada daftar pustaka yang dijadikan sebagai rujukan. Dalam beberapa kasus, mungkin diperlukan catatan kaki.

Dalam format standar, catatan kaki biasanya berada di bawah page atau halaman. Bisa juga ditempatkan di akhir halaman atau setelah daftar pustaka.

2. Apa saja jenis-jenis karya tulis ilmiah (KTI)?

KTI atau karya tulis ilmiah, bisa dibedakan dalam dua kategori uama yakni berdasarkan bentuk dan fungsinya, seperti:

a. Karya tulis ilmiah berdasarkan fungsinya

Jika dilihat berdasarkan bentuknya, karya tulis ilmiah dibedakan menjadi tiga bagian, diantaranya:

  • Karya tulis ilmiah populer adalah tulisan atau karya yang dibuat ringkas dengan menggunakan bahasa-bahasa santai. Hanya saja, penulisannya tetap menggunakan kalimat yang mudah dimengerti, tidak ambigu serta bisa dibaca oleh semua kalangan. Umumnya, karya tulis ilmiah ini dibuat untuk diterbitkan di media massa seperti koran, majalah, buletin dan lain sebagianya
  • Karya tulis semi-formal adalah karya tulis ilmiah yang dalam penulisannya menggunakan kaidah-kaidah penulisan semi-formal. Semi formal, dalam konteks ini, merujuk pada penggunaan kalimat atau istilah-istilah ilmiah tapi disajikan dengan gaya bahasa santai dan mudah dimengerti. Contoh paling mudah dari karya tulis jenis ini bisa dilihat dari laporan penelitian, laporan observasi, makalah dan lain sebagainya
  • Terakhir ada karya tulis formal, yang merupakan karya tulis ilmiah yang ditulis dengan gaya bahasa ilmiah tentang suatu topik penelitian. Contoh dari karya tulis formal ini bisa dilihat dari skripsi, tesis, disertai dan beberapa bentuk lainnya, jurnal ilmiah misalnya.
b. Karya tulis ilmiah berdasarkan bentuknya

Sementara, apabila dilihat dari bentuknya, karya tulis ilmiah bisa dikategorikan dalam beberapa jenis seperti:

  • Artikel adalah karya tulis lengkap yang mengulas tentang suatu topik. Contoh sederhana dari artikel bisa dilihat dari postingan ini, esai atau mungkin berita pada koran, majalah sampai situs berita online
  • Makalah adalah tulisan resmi tentang suatu pokok yang dimaksudkan untuk dibacakan di muka umum dalam suatu persidangan yang disusun untuk diterbitkan. Atau bisa juga diartikan sebagai karya tulis pelajar atau mahasiswa sebagai laporan hasil pelaksanaan tugas sekolah atau perguruan tinggi
  • Skripsi adalah karangan ilmiah yang wajib ditulis oleh mahasiswa sebagai bagian dari persyaratan akhir pendidikan akademiknya
  • Kertas Kerja atau Work Paper bisa berupa makalah yang didalamnya berisikan ide tentang suatu proyek atau ide bisnis yang akan ditinjau oleh sejawat atau pimpinan
  • Paper adalah istilah general untuk sebuah artikel ilmiah yang bisa merujuk pada skripsi, makalah, tesis hingga disertasi
  • Tesis adalah pernyataan atau teori yang didukung oleh argumen yang dikemukakan dalam karangan atau untuk mendapatkan gelar kesarjanaan pada perguruan tinggi. Bisa juga diartikan sebagai karangan ilmiah yang ditulis untuk mendapatkan gelar kesarjanaan pada satu universitas
  • Disertasi adalah karangan ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa untuk memperoleh gelar S-3 atau doktoral

3. Bagaimana struktur pembuatan karya tulis ilmiah?

Tergantung karya tulis ilmiah jenis apa yang dibuat apakah itu makalah, skripsi, disertasi, tesis, paper atau artikel populer.

Tapi, secara umum, struktur karya tulis ilmiah bisa dibagi dalam tiga kategori utama, diantaranya:

a. Pendahuluan

Pertama soal pendahuluan, yang bisa ditulis dengan BAB I diikuti dengan informasi soal pendahuluan dimaksud. Untuk penulisannya, semuanya harus dikapitalisasi.

Dan dalam pendahuluan ini harus disertai dengan beberapa sub judul yang terdiri dari Latar belakang, Rumusan masalah, Tujuan dan manfaat, Metode penelitian serta Landasan teori.

b. Pembahasan

Setelah pendahuluan, bab berikutnya adalah pembahasan. Pembahasan ini bergantung penuh sama topik apa yang dibahas.

Sebagai contoh, jika membahas soal peran pembina asrama, maka bisa bahas dulu pengertian pembina, pengertian asrama disertai dengan teori pendukung.

c. Penutup

Lalu ada poin penutup, yang bisa ditulis jadi BAB III dan formatnya tetap dikapitalisasi atau ditulis semua dengan huruf besar.

Apa saja yang dibahas didalam penutup ini? Tergantung topik apa yang dibahas. Tapi, secara umum, terdiri dari dua poin, yakni: kesimpulan dan juga saran.

d. Daftar pustaka

Terakhir adalah penulisan daftar pustaka atau daftar rujukan yang digunakan sebagai referensi dari KTI yang sudah dibuat tersebut.

Untuk format penulisan daftar pustaka tetap standar. Penjelasan lebih lengkap soal ini bisa baca ulasannya di postingan ini.

Penutup

Membuat karya tulis ilmiah sendiri mungkin sedikit sulit dibanding menulis artikel biasa. Sebab diperlukan teori dan data untuk mendukung argumen yang dibangun.

Bukan hanya itu saja, narasi tersebut harus memiliki poin penutup mulai dari kesimpulan dan juga saran serta daftar pustaka.

Demikian artikel tentang contoh karya tulis ilmiah dan penjelasannya lengkap. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda. ***

Tinggalkan komentar