STEP BY STEP: 5+ Cara Menulis Dialog Dalam Novel [Aturan, Tanda Baca dan Contoh]

Di artikel kali ini saya mau ulas cara menulis dialog dalam novel yang baik dan benar. Penasaran caranya gimana? Simak artikel ini sampai habis.

Salah satu tantangan paling besar saat menulis cerita adalah bagaimana membuat dialog yang menarik dan mengalir.

Oh iya, dialog tidak hanya ada dalam novel tetapi juga pada jenis cerita lain entah itu cerpen, cerber [cerita bersambung] dan lain sebagainya.

Dialog sendiri adalah elemen penting yang sebenarnya harus ada dalam cerita. Karena percakapan dapat menambah kualitas cerita tersebut.

Dan ada aturan-aturan tertentu yang harus diikuti seluruh penulis saat membuat dialog. Istilah aturan ini mengacu pada kebiasaan-kebiasaan lazim yang diterapkan penulis saat menulis.

Umumnya, ada 6 aturan yang harus di perhatikan saat membuat dialog, yakni:

  • Buat inden tiap kali ada orang baru berbicara
  • Harus diperjelas siapa saja yang sedang berbicara
  • Tanda kutip hanya ditempatkan di awal dan akhir ucapan
  • Jika ada dialog dari orang yang sama tidak harus pakai paragraf baru
  • Gunakan ragam bahasa dan kata ganti sifat
  • Dan aturan khusus untuk dialog panjang

Oleh karena itu, untuk anda yang sedang cari cara menulis dialog yang benar, cara menulis dialog dalam karangan, cara menulis dialog dalam hati, penulisan dialog PUEBI, cara penulisan dialog lanjutan, contoh kalimat dialog, tata cara penulisan dialog dalam naskah drama, cara menulis dialog novel dan lain sebagainya, baca artikel ini sampai selesai.

5+ Cara Menulis Dialog Dalam Novel [Aturan, Tanda Baca dan Contoh]

Lantas, bagaimana sih cara menulis dialog dalam novel yang baik dan benar? Pasti penasaran, kan? Berikut artikelnya untuk anda.

1. Gunakan inden tiap kali ada orang baru berbicara

Poin paling pertama yang harus diperhatikan saat membuat dialog adalah Inden. Banyak penulis yang salah paham soal ini, terlebih penulis pemula.

Intinya begini, tiap kali ada orang baru yang berbicara, harus buat paragraf baru atau indentasi.

Indentasi bertujuan untuk memberi tanda bahwa kalimat tersebut tidak diucapkan oleh orang yang sama dalam dialog.


Baca Juga :


Sekalipun dalam dialog, orang tersebut tidak mengucapkan satu kata pun atau mungkin menggunakan frasa pendek, tetap buat indentasinya.

Juga sertakan deskripsi yang menggambarkan tindakan orang yang sedang terlibat dialog di paragraf awal sebelum kutipan dibuat.

Agar jelas, lihat contoh dibawah ini.

Ariel berkata, “Luna, apakah kamu dengar suara-suara aneh tadi malam?” Ariel mendorongnya saat Luna tidak menanggapi. 

“Suara apa?” tanya Luna, “Dengkuranmu?” 

Ariel melotot padanya. “Bagaimana aku tahu kalau aku tidur sambil mendengkur? Seolah-olah semua yang aku lakukan itu salah di matamu!” 

Luna tahu dia marah karena tidurnya tidak nyenyak tadi malam. Meski sebenarnya Luna hanya berupaya agar Ariel tahu bahwa dengkurannya itu mengganggu tidurnya.

Diatas hanyalah contoh kecil dari indentansi. Sampai disini sudah paham kan? Mudah-mudahan sudah.

Lantas, mengapa indentansi itu penting dalam dialog?

Karena indentasi akan membantu pembaca mengikuti alur percakapan yang ada.

Dengan demikian, inden secara tidak langsung akan memberitahu audiens saat ada orang baru berbicara.

Beda kasus jika anda nonton film, dimana ada petunjuk visual dan audio yang membantu penonton mengetahui saat ada orang baru berbicara.

Namun dalam tulisan, jika tidak menggunakan inden, pembaca akan sulit mengetahui siapa yang berbicara. Oh iya, inden ini berlaku dimana saja dan jenis tulisan apa saja.

2. Tulis dengan jelas siapa saja yang sedang berbicara

Sebenarnya tidak ada aturan yang pasti tentang berapa kali anda perlu menyebut nama orang saat dialog terjadi.

Yang penting dialog tersebut tidak membuat pembaca bingung sehingga harus membaca ulang cerita.

Jika pembaca membaca ulang cerita karena belum tahu siapa yang berbicara, kedepannya mereka akan lompat ke dialog berikutnya atau paragraf selanjutnya.

Pada beberapa novel atau cerpen saat terjadi dialog, nama orang biasanya ditulis 3-5 kali, kadang lebih.

Untuk pemula, bisa terapkan metode yang sama. Jangan lebih dan jangan kurang. Proporsional istilahnya. Agar paham, lihat contoh percakapan dibawah ini.

“Sudah bangun, Ariel?” tanya Luna.

“Apa?”

“Kamu sudah bangun apa belum?”

“Belum”

“Maksudnya?”

“Maksudnya kamu ingin membangunkan saya” guman Ariel sambil lalu mendengus.

“Oh”

“Jadi apa yang kamu mau?” dia tergagap.

“Tidak apa-apa,” kata Luna. “Kembalilah tidur.”

Perhatikan baik-baik contoh diatas, yang mana, tiap paragraf baru menandakan orang baru berbicara. Pola ini juga yang harus diterapkan saat membuat dialog.

Agar penekanannya jelas, bisa tambahkan kata sifat yang bisa membantu pembaca mengidentifikasi suasana dan emosi saat dialog terjadi.

3. Penggunaan tanda kutip

Setiap novel atau cerita selalu menggunakan tanda kutip sebanyak dua kali saat dialog terjadi.

Tanda kutip itu ditempatkan saat tokoh dalam cerita mulai berbicara dan setelah ia selesai bicara.

Karena itu, pastikan anda tempatkan tanda kutip yang tepat dan pastikan juga ditempatkan sebelum kata-kata diucapkan atau setelah selesai diucapkan.

Penting juga diingat, jangan pernah memasukkan nama orang yang sedang berbicara dalam tanda kutip.

Agar jelas, lihat contoh dibawah ini:

Penggunaan tanda kutip yang salah:

“Ariel berkata saya akan mengambil cucian saya hari setelah pulang dari studio.”

“Bagus, kalau begitu aku bisa pesan Grab Food untuk makan malam nanti, jawab Luna.”

Penggunaan tanda kutip yang benar:

Ariel berkata, “saya akan mengambil cucian hari ini setelah pulang dari studio.”

“Bagus, kalau begitu aku bisa pesan Grab Food untuk makan malam nanti,” jawab Luna.

4. Jika pembicaranya orang yang sama, tidak perlu buat inden baru

Terkadang, saat membuat dialog, penulis ingin menambahkan deskripsi atau informasi lain yang mungkin diucapkan orang yang sama dalam cerita.

Jika berada dalam situasi ini, kembali ke dua aturan dasar dalam penulisan, yakni:

  • Tanda kutip ditempatkan diawal pembicaraan dan akhir pembicaraan
  • Apabila dialog dilakukan oleh orang yang sama, tidak perlu buat paragraf baru.

Agar jelas, lihat contoh dibawah ini:

Nadiem Lu, sepupu suami saya, punya potongan rambut yang tak biasa; membulat di depan, mencuat diatas, dan pendek. “Jelas,” kata suamiku, “Menarik! sangat keren.” Saya sama sekali tidak terkesan, namun saya mengerti maksud suami saya untuk memotong rambutnya dengan gaya yang sama. Akhirnya dia mengaku, “Saya sebenarnya meminta anda untuk memotong rambut saya seperti Nadiem, karena menurut saya, gaya itu bisa membuat saya terlihat sopan.”

“Oh… maaf,” kataku. Meskipun sebenarnya saya tidak dapat membayangkan tampilan suami saya dengan gaya seperti itu.

5. Gunakan ragam bahasa seperti katakanlah

Dalam novel atau cerpen, selalu ada bagian-bagian tertentu yang bikin bosan pembaca, salah satunya dialog.

Karena itu, sebagai penulis, hindari penggunaan kata-kata yang bikin pembaca tidak betah.

Bisa dengan menggunakan ragam kata seperti ‘Katanya‘ dan ‘Dia berkata‘ atau percakapan yang berusaha menempatkan identitas pembicara di awal kalimat.

Dengan harapan agar tulisan tersebut lebih bebas, rileks dan dikondens dengan baik.

Dalam konteks ragam bahasa, ada beberapa hal penting yang harus anda perhatikan, yakni:

a. Variasi kata

Variasi kata berarti anda harus tahu dimana dialog itu ditempatkan, apakah diawal, tengah atau akhir paragraf.

Tiga penempatan dialog diatas adalah yang paling umum, dengan tetap memperhatikan indentasi dan tanda kutip.

Agar jelas, lihat contoh dibawah ini:

Awal kalimat:

Akhirnya, dia mengaku, “Saya akan meminta anda untuk memotong rambut seperti milik Nadiem, karena saya pikir itu mungkin membuat saya terlihat sopan. Meski akhirnya saya berubah pikiran setelah sepupu jauh saya itu memberi tahu kalau potongan rambut tersebut membuatnya dibully teman-temannya."

Akhir kalimat :

“Oh… maaf,” kataku.

Tengah kalimat:

“Jelas,” kata suamiku, “sangat canggih dan keren!”

b. Bisa gunakan kata ganti

Cara paling efektif untuk membuat pembaca tidak bosan dengan dialog adalah dengan menggunakan banyak kata ganti.

Kata ganti berfungsi untuk memberi gambaran emosi yang tepat saat dialog terjadi. Berikut beberapa contoh kata ganti:

  • Untuk pronomina subjek, kata saya bisa diganti Aku dan Daku untuk orang pertama [bentuk jamaknya kita dan kami]
  • Kamu bisa diganti Anda dan Kau untuk orang kedua [bentuk jamaknya Kalian atau Kamu sekalian]
  • Ia bisa diganti dengan Dia dan Beliau untuk orang ketiga [bentuk jamaknya adalah Mereka]

c. Gunakan kata yang terintensifikasi

Kata yang terintensifikasi adalah kata yang punya banyak fungsi. Biasanya, kata jenis ini digunakan untuk memberi keterangan suasana dan emosi orang dalam dialog.

Beberapa contoh kata terintensifikasi adalah Mengejutkan, Cepat, Serius, Dramatis dan lain sebagainya.

Menggunakan kata terintensifikasi juga akan membantu pembaca cepat paham apa yang sedang terjadi dalam dialog.

6. Untuk kutipan yang panjang dalam dialog

Banyak penulis yang ingin hemat kata saat menulis dan ada juga yang kesannya boros kata.

Soal ini kembali ke pribadi masing-masing penulis dan karakteristik apa yang ingin ditonjolkan dalam cerita.

Salah satu contoh tulisan yang boros kata namun tetap menarik adalah novel Anatomi Rasa karya Ayu Utami.

Cara Menulis Dialog Dalam Novel
Buku Anatomi Rasa karya Ayu Utami

Hanya saja, jika ingin menulis novel, baiknya gunakan kata-kata yang ringkas dan jelas.

Meski ini jadi tantangan paling besar dalam menulis.

Oh iya, menggunakan kutipan yang panjang bisa mempengaruhi emosi pembaca. Yang penting, kutipan tersebut jelas dan menarik.

Untuk anda yang sedang menulis dan tersandera dengan kutipan pendek, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan saat membuat kutipan panjang, diantaranya:

a. Gunakan paragraf reguler

Saat menggunakan paragraf reguler, hindari pengutipan sumber seperti pada koran atau tulisan ilmiah.

Karena itu, cukup gunakan format paragraf seperti biasa kecuali untuk dialog.

b. Perhatikan tanda kutip

Diatas sudah sudah disinggung soal ini dengan tetap memperhatikan penggunaan tanda kutip sebelum atau setelah mengakhiri dialog.

Kadang juga, dalam tulisan, ada dialog dimana tokoh dalam cerita berbicara dalam jangka waktu lama.

Seperti misalnya tokoh yang sedang menceritakan perjalannya saat naik Kapal Putih milik Residen Hindia Belanda ke Batavia dari Ambon tahun 1889.

Jika demikian, penekanannya harus berbeda. Artinya, apabila ada orang yang berbicara lebih dari satu paragraf, terapkan 4 tips ini:

  • Masukan tanda kutip sebelum kata pertama
  • Jangan tempatkan tanda kutip di akhir paragraf jika orang tersebut sedang berbicara
  • Sebagai tanda, anda juga bisa memasukkan tanda kutip lagi diawal paragraf sebagai kode bahwa tokoh dalam cerita masih berbicara
  • Setelah itu, beri tanda kutip lagi apabila tokoh tersebut sudah selesai bercerita

Untuk contohnya bisa lihat poin ke empat diatas, berkaitan dengan penempatan inden saat orang yang sama berbicara.


TIPS CEPAT Nulis Dialog yang Efektif dan Menarik

Sebagai kesimpulan, ada beberapa TIPS CEPAT yang bisa anda terapkan agar dialog yang anda buat itu efektif dan menarik.

Tips dibawah ini merupakan versi pendek dari pembahasan diatas sehingga bisa diterapkan langsung ke cerita tanpa harus baca ulang poin-poin sebelumnya. Berikut tipsnya:

1. Tambahkan kata sifat

Kata sifat berfungsi untuk menjelaskan bagaimana seseorang melakukan atau menjelaskan sesuatu.

Dalam konteks ini, bisa tambahkan minimal 1 kata sifat dalam kalimat atau dialog yang anda buat.

2. Gunakan kata semantik

Agar tidak bertele-tele dan boros kata, bisa gunakan kalimat atau kata ganti yang artinya sama.

Istilahnya, menggunakan ragam semantik yang bisa membuat tulisan tersebut terasa renyah dan tidak membosankan.

Agar paham, lihat beberapa contoh dibawah ini:

  • Ariel berkata, “Anda mau kemana sekarang?”
  • “Anda mau kemana sekarang?” Kata Ariel
  • Dengan suara halus, Ariel bertanya, “Anda mau kemana sekarang?”
  • Ariel terisak, “Anda mau kemana sekarang?”
  • Ariel dengan senang bertanya, “Anda mau kemana sekarang?”
  • “Di mana,” Ariel tiba-tiba menyela, “Kamu pergi sekarang?”

Poin diatas hanyalah contoh ya. Disesuaikan sama cerita atau novel yang anda buat dengan tetap memperhatikan tanda kutip.

3. Tunjukkan siapa yang sedang berbicara

Agar dialog tidak monoton, baiknya tunjukkan kepada pembaca siapa saja yang sedang berbicara sehingga anda tidak perlu sebutkan nama beberapa kali.

Jika lebih dari dua orang, baiknya beritahu ke pembaca siapa yang lebih sering berbicara atau lebih dominan.

4. Perbanyak kosa kata

Sebagai penulis, wajib menguasai banyak kosa kata. Oleh karena itu rajin-rajinlah baca buku untuk menambah preferensi kosa kata anda.

Karena setelah novel atau cerita tersebut sudah selesai dibuat dan siap diterbitkan, anda tidak tahu siapa yang akan membacanya.

Oleh karena itu, jika novel anda genrenya romantis, gunakanlah kata-kata yang sesuai dan proporsional.

Sekali dua kali boleh gunakan kata rayun. Yang penting tidak berlebihan. Kecuali jika novel tersebut memang secara spesifik ditargetkan untuk orang dewasa.

5. Rajin baca novel untuk genre yang disukai

Ada banyak genre atau aliran dalam novel, yang paling populer adalah sains-fiksi, romance, petualangan, songlit dan lain sebagainya.

Jika ingin jadi penulis profesional, pilih salah satu genre saja lalu perbanyak preferensi di genre tersebut.

Caranya? Dengan membaca novel-novel sesuai genre pilihan.

Misalnya, anda sukanya genre scie-fi, bisa baca novel semacam A Space Odsysey, Children of Time dan lain sebagainya.

Pelajari juga teknik menulis yang dibangun penulis, termasuk dialog, kata ganti dan kata sifat.

Yang paling terakhir, saat menulsi cerpen atau novel, jangan beritahukan tetapi tunjukkan [show, don’t tell].

Penutup

Aturan penulisan dialog yang saya bahas diatas bukanlah aturan baku. Hanya saja, banyak penulis yang menggunakan teknik diatas.

Paling terakhir, usahakan untuk fokus ke tulisan. Sebisa mungkin tulisan tersebut diselesaikan.

Saat menulis, jangan pikirkan soal teknisnya, tata bahasa atau aspek-aspek lain. Ada waktunya, saat proses pengeditan nanti.

Jika punya masukkan, tambahan atau ada hal lain yang mau disampaikan terkait postingan ini, silahkan tinggalkan di kolom komentar.

Demikian artikel tentang 5+ cara menulis dialog dalam novel [aturan, tanda baca dan contohnya]. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda. ***

6 pemikiran pada “STEP BY STEP: 5+ Cara Menulis Dialog Dalam Novel [Aturan, Tanda Baca dan Contoh]”

  1. Makasi banyak udah bagikan info luar biasa ini, sangat membantu terutama bagi saya yang sedang belajar seni menulis.

    Cita2 ingin di penulisan skenario film sih, tapi memulai dulu dari novel sepertinya boleh juga. mohon do’a nya yaa.

    Balas
  2. Terima kasih infonya.
    Mohon info, dalam novel penulisan sebutan tanpa ada nama (misal Sang Raja, Permaisuri dll) di luar dialog, apakah bisa ditulis dengan huruf besar juga seperti dalam dialog?
    Jika secara tata bahasa kan sudah pasti tidak boleh.

    Balas
    • Bisa saja. Istilah kerennya licentia poetica, yang intinya memberikan kebebasan kepada penulis untuk menggunakan kata-kata tanpa harus patuh sama tata bahasa.

      Balas

Tinggalkan komentar