Pengertian dan Cara Menghitung Market Size di Startup Yang Benar

Mengetahui market size atau jangkauan pasar adalah salah satu elemen penting bagi satu bisnis, terlebih startup.

Dengan begitu, perusahaan bisa tahu berbagai hal yang dibutuhkan untuk mengembangkan bisnis itu lebih baik lagi di masa mendatang.

Market size juga bisa membantu mengalokasikan anggaran operasional yang tepat termasuk pemasaran dan perencanaan perusahaan.

Artinya, market size sangat penting diketahui perusahaan terlebih yang sedang cari pembiayaan dari pihak ketiga seperti Venture capital [VC] atau modal ventura [VC].

Sebelum mengulas lebih jauh soal market size, sudah pada tahu belum apa pengertiannya?

Mengapa ini penting diketahui pemilik bisnis? Bagaimana cara menghitung market size di startup?

Atau mungkin pertanyaan lain seperti, apa perbedaan market size dan peluang bisnis? Apa perbedaan market size dan business plan? Penasaran jawabannya apa? Berikut artikelnya untuk anda.

Apa yang dimaksud dengan Market size startup?

Sederhananya, market size di startup adalah suatu proses yang bertujuan untuk memetakan peluang bisnis startup itu sendiri.

Dengan melakukan framing peluang, pemilik bisnis dapat dengan jelas mengetahui area target bisnis dan peluangnya bagaimana.

Lantas, bagaimana pemetaan dilakukan? Apakah dengan melakukan analisis, studi kasus, tinjauan binsis atau penelitian terkait potensi pasar?

Pada dasarnya, menghitung market size harus melibatkan semua aspek yang berkaitan salah satunya dengan melakukan penelitian pasar.

Hasilnya bisa berupa data-data terkait demografi calon konsumen pontensial, termasuk jenis kelamin, minat, perubahan perilaku, aspek sosial dan seterusnya.

Apabila market sizenya bagus, secara tidak langsung akan mempengaruhi kredibilitas dan proyeksi startup tersebut di masa mendatang.

Dan bukan hanya startup saja yang harus menghitung ukuran pasar, tapi juga jenis usaha lain. Mengapa demikian?

Karena ukuran pasar akan mempresentasikan daya tarik dan potensi keberhasilan produk, yang pada akhirnya akan membantu founder mengambil keputusan yang tepat.

Lantas, apa sih pengertian ukuran pasar yang sebenarnya? Ukuran pasar adalah total volume pasar potensial yang dihitung per tahun.

Makanya itu, secara awam ia bisa diartikan sebagai ukuran pasar potensial atau potensi pasar di startup.

Perlu diketahui juga, ukuran pasar jadi salah satu faktor penting yang akan dipertimbangkan investor sebelum mendanai sebuah startup.

Cara Menghitung Market Size Startup Yang Benar

market size di startup

Setelah mengetahui definisinya, pertanyaan penting berikutnya yang harus dijawab adalah bagaimana cara menghitung market size di startup?

Perlu diketahui, untuk menghitung potensi pasar tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh kreativitas dan data yang melibatkan berbagai asumsi.

Asumi ini pun didasari pada fakta. Jadi tidak sembarang menghitung market size jika tidak ingin bangkrut di awal.

Secara umum, ada dua cara menghitung ukuran pasar yakni dengan melakukan analisis top-down dan bottom-up, berikut penjelasannya:

1. Top-Down Analysis

Pertama adalah top-down analysis yang kadang juga disebut top-down market sizing. Lantas, apa sih yang dimaksud dengan top-down analysis?

Secara sederhana, ia bisa diartikan sebagai suatu teknik analisis yang dimulai dari indikator markoekonomi diikuti dengan analisis sektor yang lebih spesifik lagi.

Sebagai contoh, anda bikin startup yang mungkinkan orang-orang belanja buah dan makanan segar secara online.

Untuk menghitung ukuran pasar menggunakan analisis top-down, terlebih dahulu harus hitung dulu berapa banyak orang yang makan buah setiap harinya.

Artinya, anda harus punya data tentang daya beli buah masyarakat dalam satu wilayah dan buah mana paling banyak di konsumsi dalam setahun.

Setelah dapat datanya, anda kalkukasikan potensi uang yang dibelanjakan untuk beli buah tersebut dalam setahun, 40 Miliar misalnya.

Baca Juga: Bank Konvensional vs Bank Digital vs Dompet Digital: Apa Bedanya?

Tapi, tidak semua orang beli buah online. Dan, pada praktiknya, tidak semua orang bakal beli buah yang sama tiap minggunya.

Selain itu, target pasar anda terkonsentrasi di kota-kota besar dengan jaringan internet yang mumpuni.

Artinya, anda harus tahu juga jumlah populasi wilayah yang jadi target bisnis serta total populasi negara dimana wilayah itu berada.

Untuk contoh saja. Anda buat startup di Indonesia, target lokasinya kota besar.

Apabila 30% orang Indonesia tinggal di kota besar, bisa bagi dengan jumlah kota besar yang ada di Indonesia.

Jangan lupa juga fakta kalau tidak semua orang bakal beli buah yang sama secara online. Artinya, supermarket dan toko online masih punya andil besar untuk pasar jenis ini.

Di tahap inilah diperlukan asumsi. Asumsikan saja 1/5 populasi kota yang beli buah secara rutin tiap minggu. Nilai inilah yang jadi market sizenya.

Sayangnya, pendekatan top down terlalu luas. Karena itu, harus gunakan teknik analisis lain yang akan saya bahas di poin berikutnya.

2. Bottom-Up Analysis

Bottom-up analysis atau yang kadang juga disebut Bottom-up Market Sizing adalah teknik analisis yang indikatornya dimulai dari data mikroekonomi.

Jadi, ini merupakan kebalikan dari top-down diatas yang dimulai dari indikator makroekonomi.

Dalam praktiknya, analisis jenis ini menggunakan data yang dimiliki secara internal oleh perusahaan.

Bahkan dianggap lebih baik karena hasil pemetaan pasarnya lebih detail sebab melibatkan berbagai aspek mulai dari produk, harga perkiraan pelanggan dan skalabilitas sektor.

Masih menggunakan kasus seperti diatas, yang mana, anda akan dirikan startup yang memungkinkan orang belanja buah secara online.

Misalnya, harga rata-rata satu jenis buah dipasaran adalah Rp7000 per biji. Jika dibeli per kilo, harganya Rp25.000.

Jika satu orang beli buah sekilo per minggu, anda bisa bisa hitung rata-rata belanja buah tahunan per orang.

Tetap perhatikan, tidak semua orang beli buah dalam jumlah tersebut dan tidak semua orang bakal konsumsi buah yang sama setiap minggu.

Jadi, diperlukan tambahan data lebih detail juga. Kalau perlu, bisa gunakan data yang diperoleh dari analisis pertama diatas.

Selanjutnya, tinggal hitung jumlah orang yang bisa dijangkau saat memasarkan startup anda entah itu lewat iklan outdoor atau digital.

Sebagai contoh, jangkauan iklannya 5 ribu orang di kota besar. Asumsikan saja 30%nya akan coba layanan anda .

Jadi, ada 1500 orang yang bakal pakai aplikasi buatan anda untuk beli buah. Kalikan saja angka tersebut dengan rata-rata pembelian buah tahunan tiap orang.


Selain dengan menggunakan dua analisis diatas, yang sifatnya hipotesis, anda juga bisa hitung dengan pendekatan yang berbeda.

Pendekatan ini juga memungkinkan anda mengetahui ukuran pasar di startup pakai beberapa metode identifikasi sederhana.

Pertama, tentu saja mengidentifikasi target pasar lewat data dan penalaran logis. Kedua, dengan menggunakan metode pelengkap.

Apa saja metode pelengkapnya? Ada beberapa. Seperti triangulasi perkiraan pasar dengan analisi top-down dan bottom-up.

Yang penting, anda bisa uraikan dengan jelas target pasarnya dan segmentasi bisnis yang mau digeluti.

Makin spesifik proyeksi pasar, makin bagus pula hasilnya. Tapi selalu hindari asumsi paling kecil untuk poin ini.

Misalnya, anda hanya dapat 1% saja dari pangsa pasar yang ada. Ini terlalu kecil, yang bisa membuat bisnis anda sulit berkembamg.

Ketiga, dengan mengikuti asumsi pertimbuhan pasar dan tren yang sedang berkembang. Kalau perlu, lengkapi dengan riset dan penelitian.

Dengan ini, anda bisa proyeksikan pertumbuhan market size anda dari waktu ke waktu, 3-5 tahun ke depan misalnya.


FAQ

Untuk beberapa pertanyaan terkait postingan ini akan saya ulas dalam QnA dibawah, berikut daftarnya:

1. Analisis market size mana yang tepat untuk startup Indonesia, apakah top-down atau bottom-up?

Pada dasarnya, dua metode diatas saling melengkapi satu dengan yang lain. Artinya, harus terapkan keduanya secara bersamaan.

2. Apa bedanya market size dengan peluang bisnis?

Market size memungkinkan anda mengetahui segmentasi bisnis lebih dalam lagi.

Artinya, market size ini cukup spesifik dan diterapkan pada perusahaan-perusahaan rintisan atau perusahaan teknologi.

Berbeda dengan peluang bisnis, yang mayoritas diartikan sebagai peluang yang tanpa analisis mendalam.

Dengan demikian, peluang bisnis ini bisa bersifat musiman, jangka pendek atau mungkin, jangka panjang.

3. Apa perbedaan market size dan bussiness plan?

Perbedaannya ada pada penerapan. Kalau market size lebih banyak digunakan perusahaan-perusahaan startup kalau bussiness plan banyak digunakan perusahaan-perusahaan yang bukan startup.

Penutup

Perhatikan, menghitung market size tidak semudah seperti yang saya jelaskan diatas. Butuh data dan fakta yang tidak dibuat-buat.

Artinya, artikel diatas belum lengkap dan masih belum sempurna. Bisa tambahkan juga di kolom komentar agar ulasannya lebih lengkap.

Demikian artikel tentang pengertian dan cara menghitung market size di startup. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda. ***

Tinggalkan komentar