5+ Cara Buat Rate Card Untuk Bisnis dan Influencer

Pengen tahu cara buat rate card yang benar untuk binsis dan influencer? Jika iya, simak artikel ini sampai habis.

Rate card adalah dokumen yang disediakan perusahaan atau individu untuk menunjukan harga publikasi kepada advertiser atau pengiklan.

Dengan rate card, pengiklan bisa tahu harga penempatan iklan di situs web, channel Youtube atau harga endorsement influencer.

Karean itu, untuk anda yang sering bertanya, rate card itu apa sih? Apa definisinya? Tujuannya apa? Dan bagaimana menentukan rate card yang benar untuk bisnis dan Influencer?

Jika penasaran jawaban dari semua pertanyaan diatas, baca artikel ini sampai habis.

Apa itu rate card?

Seperti yang saya sebutkan diatas, rate card adalah dokumen yang didalamnya berisikan rincian harga untuk penempatan iklan.

Namun istilah ini sudah mengalami perluasan makna karena rate card sendiri sudah digunakan untuk menentukan harga endorsement influencer.

Orang atau perusahaan yang membuat rate card ini bertujuan untuk memudahkan proses tawar menawar publikasi.

Contohnya, ada brand A yang mau tanya harga content placement dan slot iklan sidebar blog ini yang ukurannya sekian, jika saya punya rate card, tinggal diberikan kepada calon advertiser.

Dengan demikian, saat buat rate card, ada beberapa informasi yang harus ada, seperti:

  • Company profile atau personal profile yang didalamnya menginformasikan tentang kapan peusahaan berdiri, visi misi dan aspek-aspek lain yang berkaitan dengan persuahaan. Untuk personal, bisa mulai dari nama diri, pekerjaan dan ketertarikan terhadap sesuatu, yang berkaitan dengan niche konten atau karakteristik followers
  • Visualisasi data dalam berbagai kategori seperti audiens profile, demografi audiens dan harga per publikasi.
  • Paling terakhir adalah tentukan rate card dalam berbagai bentuk. Misalnya, untuk kegiatan publikasi iklan di blog, libatkan juga inventory dan lokasi penempatan. Lebih spesifik lebih bagus lagi
  • Syarat dan ketentuan saat menggunakan jasa publikasi termasuk kemungkinan syarat-syarat itu akan berubah
  • Ada kontak person entah itu kontak resmi perusahaan, manajer akun [untuk influencer] dan kontak anda sebagai content creator. Bisa berupa nomor telepon, email, akun media sosial dan lain sebagainya.

Karean istilah ini sudah luas pengguaannya, makanya tak usah heran kalau lahir istilah-istilah teknis yang berkaitan dengan rate card, seperti:

  • Rate card Youtube adalah estimasi anggaran publikasi yang diperuntukan untuk Youtuber dan berbentuk video
  • Rate Card Selebgram Indonesia adalah adalah penyebutan untuk rate card selebgram atau orang-orang yang followersnya banyak di Instagram
  • Rate Card endorsement adalah adalah rate card untuk endorsement di platform apa saja entah itu Facebook, Instagram, Twitter, Tiktok dan platform lain
  • Rate Card TV adalah rincian biaya untuk pasang iklan di TV
  • Rate card model adalah rincian biaya untuk meminta model, yang kadang juga selebgram untuk endorsment
  • Rate card Blogger adalah istilah untuk menanyakan anggaran dan penempatan publikasi di blog personal

Tujuan buat rate card

Lantas, apa sih tujuan pembuatan rate card? Ada beberapa alasan relevan mengapa rate card dibuat, yakni:

  • Untuk menentukan jenis iklan dan tarifnya. Karena biasanya, perusahaan publikasinya sudah membagi lokasi penempatan iklan, bentuk iklan sampai jenisnya
  • Membantu advertiser memahami ukuran iklan yang disiapkan, diskon dan aspek-aspek lain berkaitan dengan kegiatan publikasi
  • Bagi publisher, rate card bisa digunakan saat negosiasi harga, visualisasi data dan audiens termasuk aspek-aspek lain yang dibutuhkan calon advertiser

Jadi rate card ini sudah final. Kalaupun ada negosiasi, kebanyakan hanya berupa durasi kontrak dan lokasi penempatan alias tidak tersedia nego harga.

Dan saat ini ada banyak konvergensi media yang menyediakan rate card online dalam format PDF sebagai referensi.

Salah satu contohnya bisa lihat rate card situs berita bisnisindonesia.com, yang bisa di unduh lewat tautan ini [PDF].

5+ Cara Buat Rate Card Untuk Bisnis dan Influencer

Sebenarnya, menentukan rate card itu tidak susah. Untuk perusahaan publikasi seperti media konvergensi, tinggal lihat harga pasar, kepercayaan publik dan pengunjung rata-rata situs baik harian atau bulanan.

Yang jadi permasalahan adalah jika anda berstatus Selebgram, Youtuber, Blogger, Tiktokers, Streamers dan lain sebagainya.

Jika anda dalam situasi ini, berikut beberapa cara yang bisa anda coba untuk buat rate card yang baik dan benar.

1. Kumpulkan informasi audiens atau followers

Pertama, kumpulkan dulu informasi audiens, yang dalam konteks ini bisa berarti visitor [view atau pageview], followers dan subscribers.

Perlu diingat, sebagian besar rate card melibatkan seluruh informasi tentang audiens atau followers.

Mulai dari umur rata-rata, jenis kelamin, reaksi per postingan dan komentar [khusus influencer], dan sirkulasi [khusus media cetak].

Sirkulasi ini berkaitan dengan jumlah suarat kabar atau majalah yang dicetak atau didistribusikan tiap hari.

Termasuk jumlah pembaca yang mencerminkan jumlah akutal orang yang membaca Koran tersebut setiap hari. Jika datanya fluktuatif, bisa pakai nilai rata-rata.


Baca Juga:


Untuk influencer, visualisasikan total postingan yang di unggah dalam sehari, jenis postingan dan engagementnya dalam bentuk like, share atau komentar.

Hanya saja, karena data macam ini tidak menunjukan nilai efektivitas publikasi, coba lakukan promo ke calon publisher, terlebih yang baru menggunakan jasa publikasi anda pertama kali.

2. Tentukan ROP

Kedua berkaitan dengan ROP. Apa sih ROP itu? Run of Paper [ROP] adalah iklan yang dibuat agar muncul di lokasi manapun sesuai keinginan.

Ada sih beberapa jenis iklan yang tidak muncul di lokasi yang diinginkan. Misalnya, iklan gambar yang tidak muncul di halaman khusus atau iklan video yang hanya muncul beberapa detik setelah situs berhenti di memuat laman.

Agar ada jaminan iklan muncul, baiknya anda buka slot yang benar-benar bisa ditempatkan iklan dan iklannya dijamin tampil di perangkat apa saja.

Untuk influencer bisa pakai fitur story, post atau video. Untuk media online atau koran, bisa buka di sidebar atau iklan halaman depan.

3. Jenis kontrak publikasi

Ketiga berkaitan dengan kontrak terbuka tanpa diskon. Maksudnya gimana sih? Maksudnya adalah tarif yang akan dikenakan saat publisher mengiklankan satu iklan.

Kegiatan ini kadang juga disebut tarif non-kontrak. Sementara, apabila ada komitmen untuk pasang iklan di kemudian hari, disebut kontrak berjalan.

Tapi soal ini tergantung pembicaraan antara anda sebagai publisher dan orang yang beriklan atau advertiser.

4. Tentukan tarifnya

Tarif publikasi tentu saja disesuaikan sama data-data yang sudah saya jelaskan dibagian atas termasuk ukuran iklan.

Agar adil, anda bisa mulai dulu menentukan tarif dengan berangkat dari beberapa poin dibawah ini, seperti:

  • Kolom per inci dimana iklan akan tampil sebagai iklan utama yang umumnya hanya berukuran satu inci
  • Standar advertising unit [SAU] dimana format iklan yang dapat ditempatkan di slot atau surat kabar. Standar ini dibuat untuk memudahkan pengiklan besar menempatkan iklan yang sama di banyak surat kabar sekaligus tanpa harus menyesuaikan iklan dengan spesifikasi kolom yang disediakan
  • Pica yang merupakan satuan tipografi pengukuran: 12 poin = 1 pica atau 1/6 “(0.166), dan 6 Pica = 1”(atau 0.996”)

Dari perhitungan diatas, anda kemudian bisa tentukan tarifnya sesuai harga pasar yang ada saat ini termasuk kualitas akun, media atau situs.

Pastikan anda sudah menulis harga penempatan iklan entah itu tarif iklan gambar per inci kolom, tata letak halaman, ukuran iklan dan aspek-aspek teknis lainnya.

Bagaimana dengan influencer? Tidak perlu pakai rumus atau pertimbangan diatas. Bisa mulai dulu dari harga pasar sesuai jumlah followers.

5. Bentuk iklan

Yang paling terakhir adalah pertimbangan bentuk iklan. Karena iklan saat ini, bentuknya sudah sangat.

Bisa iklan teks yang hanya berisikan tulisan, teks dan gambar, gambar saja, video, review dan lain sebagainya.

Khusus untuk video review, hanya berlaku untuk iklan digital atau yang buka jasa endorsement di akun medsos mereka.

QnA

Ada beberapa eprtanyaan teknis yang berkaitan dengan rate card ini, yang semuanya akan saya ulas dalam QnA dibawah:

Q: Bagaimana cara menanyakan rate card atau cara meminta rate card?

A: Untuk perusahaan-perusahaan publikasi besar entah itu TV, majalah, Koran atau situs berita online, biasanya mereka sudah sediakan rate card khusus.

Untuk dapat rate cardnya, bisa kontak mereka langsung. Cara dapat kontaknya gimana? ADa banyak cara mulai dari email yang tertera di situs resmi atau akun media sosial mereka.

Untuk pekerja kreatif seperti Selebgram, Tiktokers, Youtubers atau Blogger, biasanya mereka tidak menyediakan rate card.

Untuk masalah ini, bisa hubungi langsung ke mereka dan tanyakan biaya placement atau endorsement. Sebelum deal, boleh minta engagement akun dan pengunjung harian.

Q: Bagaimana cara menghitung rate card media sosial?

Tidak ada rumus pasti untuk menghitung rate card Selebgram, Tiktokers, Facebookers, Streamers, Youtubers dan lain sebagainya.

Karena semuanya kembali ke enggagment akun dan pemiliknya. Jadi, ada yang ratenya tinggi ada juga yang rendah.

Jika sulit menentukan rate card, anda boleh gunakan Instagram Calculators, Tiktok Calculators dan tols lain.

Ada juga yang tentukan rate card berdasarkan harga rata-rata endorsement yang berlaku saat ini, seperti:

a. Untuk Selebgram

Untuk selebgram, perhitungannya bisa lihat dibawah ini:

  • Jika punya 10.000-50.000 followers, harganya berkisar IDR300.000-600.000
  • Untuk 50.000-800.000 followers, harganya mulai dari IDR1.000.000-7.000.000
  • Sementara untuk akun dengan pengikut lebih dari 1 juta, harganya bisa IDR15.000.000 atau lebih
b. Untuk Youtubers

Untuk Youtuber, rate endorsementnya ada dibawah ini:

  • Jika punya 10.000-50.000 subscribers, harganya berkisar IDR300.000-600.000
  • Untuk 50.000-800.000 subscibers, harganya mulai dari IDR 600.000.000-3.000.000
  • Sementara untuk Channel Youtube yang pengikutnya lebih dari 1 juta, harganya bisa IDR10.000.000 atau lebih
c. Untuk Tiktokers

Untuk rate card Tiktok, bisa lihat dibawah ini:

  • Jika punya 10.000-50.000 followers, harganya mulai dari IDR200.000-500.000
  • Untuk 50.000-800.000 followers, harganya mulai dari IDR 500.000-2.000.000
  • Sementara untuk akun dengan pengikut lebih dari 1 juta, harganya bisa IDR5.000.000 atau lebih
d. Untuk Facebook

Untuk Facebook, rate cardnya bisa lihat dibawah ini:

  • Jika punya 10.000 – 50.000 follower, harganya berkisar IDR200.000-500.000
  • Untuk subscibers 50.000-800.000 harganya mulai dari IDR 500.000-2.000.000
  • Sementara untuk akun dengan pengikut lebih dari 1 juta, harganya bisa IDR10.000.000 atau lebih
e. Untuk Blogger

Untuk blogger, tergantung view harian dan bukan pageview. Rate cardnya bisa lihat tiga poin dibawah ini:

  • Jika trafik harian blog 5.000-50.000, harganya berkisar IDR500.000-100.000
  • Jika trafiknya 50.000-200.000 harganya mulai dari IDR100.000-10.000.000
  • Sementara untuk blog yang trafiknya lebih dari >500.000, harganya bisa IDR15.000.000 atau lebih

Harga diatas memang tidak menunjukan rate sebearnya yang terjadi dilapangan. Karean itu, untuk konten kreator, bisa diskusikan dulu sama advertiser.

Selain itu, advertiser tentu punya tujuan berbeda-beda saat mau pasang iklan.

Mulai dari awareness, edukasi konsumen, untuk tingkatkan penjualan, branding dan lain sebagainya.

Meski sama-sama iklan, tapi targetnya beda. Misalnya, untuk tingkatan penjualan, tentu mereka ingin setelah iklan dipasang, akan ada aksi lanjutan dari audiens.

Aksi lanjutan ini bisa pembelian barang atau penggunaan jasa yang diiklankan atau dipromosikan pengiklan.

Q: Apakah ada biaya perhitungan yang sama-sama menguntungkan antara publisher dan advertiser saat menentukan rate card?

A: Ada sih. Namanya Cost Per Actions [CPA] atau bayaran setelah aksi. Jadi, publisher hanya akan membayar apabila ada klik atau aksi dari audiens.

Klik atau aksi, dalam artian ini, bisa berupa beli produk, gunakan jasa, isi form, download, subscribe dan lain sebagainya..

Selain itu, bisa juga pertimbagan untuk menarik biaya berdasarkan Cost Per View [CPV] atau bayaran per tayang iklan. Yang bayarannya bisa per 1 kali tayang atau per 1000 kali tayang.

Penutup

Memang sih, menentukan rate card cukup susah terlebih untuk mereka yang buka jasa endorsement di akun medsos mereka.

Kalau perusahaan besar tentu punya bagian advertorial atau iklan alias punya tim sendiri yang ngurusin soal publikasi ini.

Selain itu, mereka juga dibebankan dengan pajak penghasilan [PPN], yang kadang membuat biaya publikasi lebih mahal.

Jika punya tambahan, masukkan atau ada hal lain yang mau disampaikan terkait postingan ini, silahkan tinggalkan di kolom komentar.

Demikian artikel tentang 5+ cara buat rate card yang baik dan benar untuk bisnis dan influencer. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda. ***

Tinggalkan komentar