Benarkah Android Menyimpan Lebih Banyak Data Pribadi Kita Lebih Dari Yang Kita Tahu?

6 Likes Comment
data pribadi

Hal itu disampaikan dalam laporan Jack Morse di Mashable.com (22/08/2018). Ponsel cerdas Android yang ada dalam gengaman anda ternyata menyimpan lebih banyak data pribadi daripada yang anda tahu.

Bahkan, 10 kali lipat daripada yang dikumpulkan iOS dari Apple.Hal ini mencuat setelah studi yang dilakukan oleh Profesor Douglas C. Schmidt dari Universitas Vanderbilt. Studi itu telah dipublikasikan pada 15 agustus lalu.

Bahkan, pengumpulan data tersebut tidak terlalu cocok untuk perusahaan, yang baru-baru ini terbukti untuk mengumpulkan data lokasi dari para pengguna bahkan setelah mereka menonaktifkan pengaturan riwayat lokasi di ponsel Android mereka.

Secara khusus, studi ini berfokus pada dua topik penelitian utama, “(a) bagian dari pengumpulan data Google teradi ketika pengguna secara tidak langsung terlibat dengan salah satu produuknya, dan (b) data lokasi terbesar tersimpan pada ponsel android yang kita gengam.”

Dari penelitian itu juga, Prof. Schmidt menemukan bahwa data tersebut dapat dihapus oleh penyedia layanan seperti Google secara anonim. Artinya, Prof. Schmidt mengasumsikan bahwa hasil penelitiannya tersebut akurat, namun tetap disangkal oleh Google.

Menanggapi hal tersebut, juru Bicara Google mengatakan bahwa laporan pernyataan itu tidak benar. “Laporan ini dilakukan oleh kelompok pelobi DC Profesional, dan ditulis oleh Oracle dalam litigasi hak cipta yang sedang dilakukan bersama Google,” kata juru bicara Google. “Jadi, tidak mengherankan bahwa itu adalah informasi yang tidak benar.”

Klaim Prof. Schimdt

Masalah ini sudah dibantah oleh Google secara tegas. Bahkan pihak Google menyebut bahwa informasi itu ‘Menyesatkan’.

Menanggapi hal tersebut, Prof. Schmidt menjelaskan bahwa kasus litigasi hak cipta sebagaimana yang dimaksud oleh Google tidak ada hubungannya dengan masalah pengumpulan data yang mereka lakukan.

“Saya bukan saksi untuk Oracle dalam litigasi hak cipta yang sedang berlangsung dengan Google,” katanya. “Saya adalah saksi uji coba Oracle vs Google ‘Fair Use’ pada Mei 2016 lalu (2 tahun lalu). Apalagi, kasus ini tidak ada hubungannya dengan praktik pengumpulan data yang dilakukan oleh Google.”

Sementara Prof. Schmidt juga menanggapi pernyataan juru bicara Google terkait dengan ‘informasi’ yang menyesatkan. Ia berasumsi bahwa hal itu adalah pernyataan yang tidak secara langsung memberikan respon atas pernyataannya sendiri.

“Tidak jelas apa yang dimaksud Google dengan ‘Informasi yang menyesatkan,’ jadi tanpa rincian lebih lanjut tetap informasi apa yang ‘menyesatkan’. Saya senang memberikan tanggapan atas kekhawatiran khusus yang diajukan Google,” ujarnya.

Analisis Studi Data Pribadi

Pada dasarnya studi yang dilakukan oleh Prof. Schmidt menganalisis apa yang disebut sebagai cara aktif dan cara pasif yang dilakukan oleh Google untuk mengumpulkan data penggunanya. Selain itu, metode pengumpulan pasif sering diabaikan.

“Baik android ataupun Chrome mengirim data ke Google bahan tanpa adanya interaksi pengguna. Eksperimen kami menunjukan bahwa ponsel Android yang aktif dan tidak aktif (dengan Chrome aktif dilatar belakang) telah mengirimkan informasi lokasi ke Google 340 kali selama 24 jam, atau 14 kali proses pengiriman data lokasi tersebut per jamnya,” tulis Prof. Schmid dalam penelitiannya tersebut.

Dengan kata lain, Google telah mengambil data lokasi dari para pengguna Android bahkan ketika pengguna tersebut tidak aktif di perangkat mereka.

Skala pengiriman informasi tersebut adalah sorotan utama dari penelitian ini yang bisa membuka mata para pengguna telepon gengam Android.

Schmidt juga berpendapat bahwa bahkan ketika menggunakan aplikasi Google tidak cukup untuk membebaskan pengguna dari masalah privasi data.

Hal ini juga terlihat dari cara pengoprasian jaringan iklan DoubleClick, yang menurut Schmidt, telah menciptakan pengidentifikasian anonom yang ‘diakui’ oleh pengguna bahwa Google dapat terhubung e akun Google milik pengguna jika pengguna tersebut mengakses aplikasi Google di browser mereka.

Meksipun tidak secara spesifik penjelasan tentang masalah ini, juru bicara Google menegaskan bahwa hanya karena perusahaan memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu tidak berarti ia benar-benar melakukannya (dalam hal ini masalah pengumpulan data).

Juru bicara Google juga menegaskan bahwa perusahan tidak tergabung dalam aktivitas tersebut saat keluar dari akun Google milik pengguna dengan informasi akun Google mereka.

Namun, pada intinya, Google telah mengumpulkan banyak data pribadi anda, pada tingkat yang konon jauh lebih tinggi daripada yang dilakukan Apple. ~

You might like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *