Banggai Kepulauan: Sejarah, Profil, Budaya dan Potensi Wisata

Banggai Kepulauan adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Tengah dengan budaya unik dan pontensi wisata alami yang banyak.

Lantas, dimana sih letak Banggai kepulauan itu? Apa saja budaya uniknya? Bagaimana keadaan kultur disana? Dan pertanyaan-pertanyaan lain.

Penasaran jawaban dari semua pertanyaan diatas? Jika iya, simak artikel dibawah ini sampai habis.

Sejarah Banggai Kepulauan

Banggai Kepulauan
Peta Banggai kepulauan

Seperti yang sudah disebutkan diatas dimana Banggai Kepulauan, yang bisa disingkat Bangkep, adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah.

Pembentukan kabupaten ini tertuang dalam Undang-undang Nomor 51 tahun 1999 Tentang Pembentukan Kabupaten Buol, Kabupaten Morowali dan Kabupaten Banggai Kepulauan.

Sebelum UU tersebut terbit, kabupaten ini masih tergabung dengan Kabupaten Banggai yang kemudian dilakukan pemekaran.

Agar tidak salah kaprah, di Sulawesi Tengah, ada tiga kabupaten yang menggunakan nama Banggai.

Yakni Kabupaten Banggai dengan ibu kota Luwuk, Kabupaten Banggai Laut dengan ibu kota Banggai dan Kabupaten Banggai Kepulauan dengan ibu kota Salakan.

Baca Juga:

Kata Banggai sendiri bisa diartikan dalam dua bentuk yakni Suku bangsa yang mendiami daerah Kabupaten Banggai.

Termasuk Banggai Laut dan Banggai Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tenga atau Bahasa yang dituturkan oleh suku Banggai, yang disebut bahasa Banggai.

Banggai Kepulauan dikenal sebagai daerah bahari karena mayoritas penduduknya berada di kawasan pesisir pantai dengan pendapatan utama masyarakat ada di sektor perikanan.

Meski demikian, Banggai Kepulauan tetap bergantung pada sektor pertanian, pariwisata dan lain sebagainya.

Secara umum potensi penerimaan pajak Kabupaten Banggai Kepulauan cukup besar, hanya saja belum dimaksimalkan dengan baik.

Begitu juga dengan potensi pariwisata. Salah satu kendala terbesar ada pada segi transportasi yang masih terbatas.

Dimana, dibutuhkan sekitar 4 Jam untuk menemukan tempat ini. Untuk mencapai tempat ini, ada dua jalur transportasi alternatif yang dapat di pilih.

Rute pertama adalah dari Jakarta-Makassar-Luwuk. Rute kedua adalah dari Jakarta-Palu-Luwuk,

Rute kedua memakan waktu lebih lama dari yang pertama karena berangkat dari Bandara Cengkereng ke Bandara Mutiara di Palu menggunakan pesawat tanpa transit.

Kemudian dari Palu, yang merupakan ibu kota Sulawesi Tengah, akan ditempuh dengan jalur Darat (bus atau kendaraan carteran).

Jarak Palu dan Luwuk sekitar 350 kilo meter. Dari Luwuk ke Pulau Peleng [Banggai] akan menggunakan transportasi Laut, karena ini satu-satunya transportasi menuju ke Banggai.

Transportasi laut itu menggunakan kapal Feri dengan perjalanan sekitar 3-4 jam. Sedangkan dari Luwuk ke Pulau Banggai dengan menggunakan motor Kayu memakan waktu 8-12 jam.

Selain Banggai Kepulauan atau biasa disingkat Bangkep, kabupaten ini juga kadang disebut dengan nama Pulau Peleng.

Meski secara teknis, istilah Pulau Peleng lebih merujuk pada wilayah Kabupaten Banggai daratan kini.

Hanya saja, nama tersebut masih melekat hingga kini, termasuk untuk merujuk Banggai Laut dan Banggai Kepulauan yang secara demografi memiliki luas 2.265 km².

Agar lebih jelas, bisa lihat profil singkat kabupaten Banggai Kepulauan pada tabel dibawah ini:

Nama KabupatenBanggai Kepulauan
Dasar pembentukanUndang-undang Nomor 51 tahun 1999
Ibu KotaSalakan
Letak geografis1° 06” 30″ LS sampai 1° 35′ 58″ LS dan 122° 37′ 6,3″ BT sampai 123° 40′ 1,9″ BT
Luas wilayah2.489 km²
Jumlah penduduk117.526 jiwa
Zona waktuWITA (‎UTC+08:00‎)‎
MotoKinendeke Konda Lipu; Kinendeke ko Lipu, Konggolio ko Tano
TranpsortasiKapal laut
Jumlah kecamatan12 
Jumlah kelurahan
Jumlah desa141 
Kode Telepon0462
Kepadatan penduduk48,35 per km2 atau 125,2/sq mi

Budaya Banggai Kepulauan

Budaya Banggai kepulauan termasuk unik, yang berkembang berdasarkan kebiasaan yang dilakukan selama bertahun-tahun.

Beberapa diantaranya terus bertahan sementara yang lainnya mulai pudar. Agar jelas, berikut disajikan beberapa budaya Banggai Kepulauan, diantaranya:

1. Pololo buku

Pololo buku
via nusantarakini.com

Pololo buku adalah suatu istilah yang merujuk pada sistem gotong royong yang berkembang di Banggai yang agraris.

Ini termasuk salah satu kearifan lokal orang Bangkep untuk saling tolong menolong dengan sesama. Dalam aplikasinya mirip dengan Mapalus bagi orang-orang Minahasa.

Sebagai sistem, pololo buku juga telah mengambil tempat yang sentral dalam kehidupan masyarakat disana, yang tidak saja diterapkan secara agraris.

Tetapi juga sudah diterapkan secara luas, seperti misalnya saat ada duka, pendidikan seorang anak, pemindahan rumah, perkawinan dan lain sebagainya.

2. Kuntau Lipu

Kuntau lipu
Gambar ilustrasi

Saat masih kecil, pertunjukan Kuntau lipu sering saya lihat saat ada acara-acara adat, seperti misalnya kawin adat atau saat ada tradisi penyambutan tamu, Bupati, pemuka agama dan lain sebagainya.

Kuntau lipu adalah salah satu tarian tradisional yang lebih mengarah pada ilmu bela diri asli orang Banggai Kepulauan.

Di beberapa tempat, kuntau lipu diiringi dengan berbagai musik seperti Okulele atau musik-musik tradisional lain.

Kuntau sendiri bisa diartikan sebagai ilmu bela diri tradisional sementara Lipu, merujuk ada alam, lokasi, wilayah dan masyarakat Banggai.

3. Balatindak

Balatindak
via ippmbkyogyakarta.blogspot.com

Balatindak adalah tarian tradisional orang Banggai secara luas. Dulunya, tarian Balatindak ini merupakan tarian perang sama seperti Kabasaran atau Cakalele.

Ornamen-ornamen yang digunakan juga hampir mirip, termasuk warna pakaian yang dikenakan berwarna merah yang mungkin masih terkait secara historis meski butuh kajian lebih lanjut.

Balatindak juga kadang disebut Tarengan. Dan biasanya dilakukan oleh Pria dewasa, dilengkapi dengan tameng, tombak dan parang.

4. Osulen [Onsulen]

Osulen
via ytimg.com

Onsulen, yang kadang juga disebut Onsulen di beberapa kecamatan, merupakan salah satu tarian tradisional di Banggai.

Sama seperti Balatindak, dimana tarian ini banyak digunakan sebagai tarian penyambutan tamu serta hanya dilakoni oleh wanita.

Secara dialeg, ada perbedaan penyebutan istilah ini yakni Osulen dan Onsulen. Namun dua-duanya merujuk pada makna yang sama.

5. Baode

baode
via ytimg.com

Jika ingin melihat sisi seni orang Banggai, maka anda harus menyaksikan mereka saat Baode. Secara tradisional, bentuk Baode adalah nyanyian senja.

Yang biasanya dibawakan saat akan beristirahat setelah melakukan kerja selama satu hari. Nyanyian biasanya dibawakan dalam bahasa Ibu orang Banggai.

Baode juga bisanya dilakukan secara ekspresif, dan bergantung pada emosi si pelantun. Jika sedang sedih, maka ia akan melantunkan lagu sedih.

6. Banunut

Banggai Kepulauan

Banunut ini adalah bedtimenya orang Banggai. Secara umum, banunut adalah dongeng atau cerita pengantar tidur yang biasa diceritakan oleh orang tua kepada anaknya saat akan tidur.

Isi ceritanya variatif, tapi biasanya dibagian akhir cerita, ada pesan-pesan moral yang didapatkan. Sayangnya, kebiasaan banunut ini semakin berkurang seiring dengan hadirnya TV dan gadget.

7. Dero

Banggai Kepulauan

Sebenarnya, dero bukanlah budaya asli orang Banggai, melainkan tarian yang biasa dilakukan oleh Suku-Suku di Pamona setelah panen berakhir.

Namun, karena secara luas diadopsi oleh orang Banggai, maka dero pun menjadi Populer. Dero biasanya dilakukan saat ada acara-acara besar seperti Pernikahan.

Selain itu, di beberapa desa dan kecamatan juga punya budaya sendiri. Misalnya, di Nulion ada acara adat seperti Bakabai.

Bakabai adalah salah satu ritual adat yang masih bertahan di Banggai Kepulauan. Bentuk bakabai bisa berbeda-beda untuk setiap desa karena sifatnya yang ekspersif.

Ada banyak fungsi dari Bakabai ini, seperti misalnya untuk meminta agar panen berhasil, atau untuk memohon doa kepada leluhur agar musim tertentu tidak terlalu panjang.

Dalam penerapannya, Bakabai juga sudah mengalami perubahan bentuk. Hal ini dipengaruhi karena inkulturasi agama.

Potensi pariwisata

Banggai kepulauan

Potensi wisata di Banggai Kepulauan termasuk banyak meski mayoritas terkonsentrasi pada satu bidang yakni bahari.

Pantai di Kabupaten Banggai kepulauan masih alami. Sehingga cocok untuk mereka yang ingin ke lokasi wisata yang tak terlalu ramai.

Artinya, ada banyak pantai-pantai memukau disana, salah satunya adalah pantai pasir Panjang. Kalau sudah wisata pantai, bisa kunjungi wisata alam juga.

Seperti misalnya danau Tendetung, yang merupakan salah satu danau yang cukup aneh. Simak cerita selengkapnya danau Tendetung disini.

Sementara, puluhan kilometer dari danau Tendetung, juga ada danau eksotis yang menarik untuk dikunjungi yakni danau Alani dengan pesonannya yang biru lugu.

Ada juga air terjun Luksagu, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Danau Tendetung. Agar jelas, berikut disajikan beberapa tempat wisata di Banggai Kepulauan:

  • Danau tendetung
  • Danau Alani
  • Danau Lamotono
  • Air terjun Luksagu
  • Air terjun Solidik
  • Air terjun piala
  • Danau paisu pok Lukpanenteng
  • Pantai Teduang
  • Pantai tebeabul Bakalan
  • Pantai pasir putih
  • Monumen trikora
  • Pantai Poganda
  • Teluk Krikil di Patutuki
  • Pantai Sapelang
  • Desa Wisata Lalandai
  • Leng Bola di Patukuki
  • Pemandaian air tawar Kautu

Selain daftar diatas, ada juga lokasi-lokasi lain yang spesifik. Hanya saja, belum terekspos alias belum di manfaatkan.

Apa yang menarik di Banggai Kepulauan?

Ada banyak. Mulai dari masyarakatnya yang ramah, tempat wisata yang banyak dan alami serta budaya yang unik.

Perlu diakui juga, wilayah ini belum seterkenal kabupaten lain. Karena itu, sangat cocok untuk untuk pelancong yang sedang cari ketenangan.

Sayangnya, seperti yang sudah saya sebutkan diatas, moda transportasi ke wilayah ini masih terbatas.

Satu-satunya akses untuk ke Banggai Kepulauan, entah itu dari Luwuk, Pulau Taliabu, Banggai Laut hanyalah Kapal.

Belum ada Bandara di Kabupaten ini. Di beberapa tempat bahkan belum ada terjangkau jaringan seluler.

Secara administratif, kabupaten ini masih bisa disebut kabupaten tertinggal meski upaya dari pemerintah untuk memajukan kabupaten perlu di apresiasi.

Selain transportasi, akomodasi juga masih jadi salah satu masalah utama di tempat ini. Saat berkunjung, jangan dapat penginapan dengan fasilitas bintang lima.

Mayoritas akomodasi yang tersedia baru berupa losmen. Beberapa diantaranya sudah sediakan fasilitas tambahan seperti makan, minum dan AC.

Harganya sendiri cukup murah. Rata-rata tarifnya tak lebih dari Rp200.000 per malam dan lokasinya tersebar di beberapa titik di Ibu kota.

Penutup

Jika sedang cari wilayah atau tempat wisata yang unik atau pengen eksplor pesisir timur Indonesia, bisa pertimbangkan untuk mampir ke Banggai Kepulauan.

Potensi wisata baharinya banyak, begitu juga dengan wisata alam yang masih sangat alami. Cocok untuk pelancong yang ingin tempat wisata yang tenang.

Demikian artikel tentang Banggai Kepulauan: sejarah singkat, profil wilayah dan Budaya. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda. ***

Tinggalkan komentar