Wajib Tahu! Berikut 7 Prinsip Menulis Novel

2 Likes Comment
prinsip dalam menulis novel

Pada dasarnya, ada sekitar 7 prinsip menulis novel. Prinsip-prinsip inilah yang akan membuat novel anda lebih renyah, menarik dan unik. 

Dalam beberapa kali pelatihan yang saya ikuti, banyak penulis yang menyarankan agar bisa mengikuti prinsip-prinsip menulis novel seperti yang akan di ulas dalam artikel ini.

Alasannya cukup sederhana, karena jika anda tidak menggunakan prinsip dibawah ini maka novel yang anda buat bisa saja bukan novel melainkan buku.

Buku dan novel itu berbeda. Buku lebih cenderung digunakan sebagai bahan referensi yang biasanya bersumber dari pengetahuan akan bidang tertentu.

Sementara, novel dibangun atas dasar imajinasi baik yang fiksi ataupun pengalaman nyata. Dengan kata lain, novel memiliki struktur dan metode penulisan yang berbeda pada umumnya.

Novel merupakan sebuah karangan prosa yang panjang dan mengandung rangkaian cerita kehidupan dengan seseorang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat pelaku. Untuk anda yang ingin menulis novel, sebaiknya anda mengetahui prinsip-prinsip dibawah ini.

7 Prinsip Dalam Menulis Novel

Sebelum masuk ke bagian teknis, yakni soal penulisan novel seperti prinsip dibawah ini, ada baiknya anda sudah punya konsep tentang novel yang bakalan anda buat.

Misalnya, jika anda mengangkat tema tentang Romantis maka ada baiknya anda sudah punya rencana yang matang mengenai karakter, plot dan metode penulisan dari bab per bab.

Tapi jika anda masih dalam tahap ‘perencanaan penulisan’ ada baiknya anda komitmen dari sekarang. Karena menulis novel itu tidak mudah dan butuh proses yang panjang.

Lalu apa saja prinsip dalam menulis novel? Ada beberapa prinsip. Pasti penasaran kan? Nah berikut disajikan 7 prinsip dalam menulis novel. Ini daftarnya:

1. Membuat konsep tulisan ‘Show, don’t tell

Menulis novel itu ibaratnya seperti anda sedang berbicara mengenai suatu kejadian. Misalnya tentang kejadian A dimana anda menjadi saksi dari kejadian tersebut.

Begitu juga saat anda sedang menulis novel. Anda adalah saksi dari setiap rangkaian peristiwa yang sedang terjadi dalam novel yang anda tulis tersebut.

Sebagai saksi, anda tidak boleh memberitahukan melainkan hanya menunjukan. Maksudnya begini, anda selektif memilih kata yang digunakan.

Prinsip show, don’t tell adalah prinsip paling penting. Dimana anda hanya berusaha menggambarkan secara deskriptif perjalanan antar tokoh dalam novel tersebut.

Dengan kata lain, jangan gunakan kata-kata pemberitahuan kepada pembaca. Kata-kata tersebut seperti, dia mulai marah, dia menangis dan lain sebagainya.

Baca Juga : Mau Menulis Buku? Begini Cara Memulainya

Sebagai gantinya, anda tunjukan bagaimana jika seseorang yang sedang marah atau sedang menangis. Jadi, dalam kata dia mulai marah anda bisa ganti dengan ‘terlihat wajahnya memerah’ atau ‘air matanya turun dari kelopak matanya’.

Dengan demikian, pembaca tahu keadaan seperti apa yang sedang dialami oleh tokoh. Inilah yang paling penting. Pertahankan prinsip paling pertama dalam menulis.

Jika anda sudah masuk dalam tahap penulisan, ada baiknya anda belajar lagi tentang bagaimana menulis tanpa memberitahu melainkan menunjukan.

2. Menggunakan dialog

Dialog adalah hal yang sangat penting dalam sebuah novel. Tanpa dialog, berarti cerita anda tidak akan lengkap dan tidak akan pernah bisa disebut novel.

Dialog juga menunjukan bagaimana perasaan tokoh, pandangannya atas sesuatu, hingga reaksinya atas kejadian tertentu. Dan dengan dialog, tokoh yang ada didalam novel terlibat lebih dalam lagi dalam cerita.

Beberapa novel dimulai dengan dialog, sementara yang lain tidak. Oleh karena itu, baiknya anda tahu cerita macam apa yang hendak anda tulis.

Dalam novel Padang Bulan, karya Andrea Hirata, ia memulai novelnya dengan dialog. Secara tidak langsung, sebagian besar ceritanya dimulai dialog tersebut.

Tapi batasi dialog tersebut. Ibaratnya seperti anda sedang mengikuti pentas drama dimana ada narator dan ada dialog.

Setiap dialog mewakili pandangan, pemikiran atau reaksi sementara narator akan menyampaikan alur dan plot tentang cerita. Kira-kira seperti itu maksudnya.

3. Menggunakan Indera

Indera sangat penting. Dalam istilah sastra disebut sentuhan. Sentuhan ini sangat penting dalam sebuah novel karena melibatkan emosi penulis.

Pada tahap penulisan novel, jangan fokus bagaimana novel itu akan selesai melainkan fokus pada diri anda kemana cerita ini anda bawa.

Intinya, dalam novel selalu ada kejadian-kejadian didalamnya. Setiap kejadian ini pada akhirnya akan terbentuk menjadi sebuah cerita.

Namun, dari kejadian ini, ada baiknya anda melibatkan indera anda. Maksudnya begini, coba bayangkan kalau sedang terjadi pertengkaran antar dua tokoh dalam novel.

Indera anda harus peka terhadap reaksi antar tokoh terhadap pertengkaran. Pada dasarnya, ini kembali pada karakter tokoh yang anda gunakan.

Jika tokoh yang sedang bertengkar itu setiap kali marah selalu melempar barang-barang disekitarnya maka anda bisa gunakan hal ini.

Oleh karena itu, ada baiknya anda sudah memiliki gambaran yang spesifik mengenai tokoh yang anda gunakan, bagaimana karakternya, usianya dan lain sebagainya.

Semua ini sangat penting untuk menghasilkan sebuah novel yang melibatkan emosi, dengan cerita yang tidak dapat di terka dan juga dengan ending berbeda seperti yang diharapakan pembaca.

4. Deskriptif

Setiap novel yang sampai ke tangan pembaca itu selalu ditulis dengan deskriptif. Dan setiap penulis punya karakteristik sendiri untuk menggambarkan soal ini.

Oleh karena itu, jika anda sedang berusaha menulis novel baiknya anda gambarkan secara sederhana mengenai cerita yang anda rangkai.

Baca Juga : Perbedaan Antara Fotografi, Videografi dan Sinematografi

Deksriptif sebenarnya mengartikan bahwa anda memaparkan atau menggambarkan dengan kata-kata yang jelas, terperinci dan menarik.

Jadi, gambarkan saja ada adanya tentang cerita yang anda angkat. Jika anda mampu lakukan hal ini maka novel anda sudah satu tahap lebih bagus dari kebanyakan novel lain.

5. Hindari penulisan kata sifat

Banyak novelis baru yang kurang peka terhadap hal ini. Maksudnya, banyak novelis yang cenderung mengunakan kata sifat dalam novel yang ditulis.

Secara linguistik, kata sifat itu adalah suatu adjektiva atau suatu kata yang menerangkan nomina atau kata benda. Ada beberapa kata sifat yang sering digunakan dalam novel seperti kata lebih dan sangat.

Oleh karena itu, sebaiknya anda hindari penggunaan kata sifat ini. Karena jika anda menggunakan kata ini pada dasarnya anda lupa mengenai prinsip nomor 1 diatas.

Prinsip menggambarkan pada akhirnya melibatkan kata sifat. Sementara, jika anda berusaha menunjukan maka secara tidak sadar anda tidak menggunakan peran kata sifat ini.

6. Menggunakan metafora

Metafora adalah suatu pemakaian atau atau sekelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan.

Sebagai contoh, penggunaan metafora dalam novel adalah tulang punggung. Sehingga, ia akan menjadi kalimat seperti, pemuda itu adalah tulang punggung keluarganya atau pemuda adalah tulang punggung negara.

Penggunaan metafora seperti ini akan memberi warna lebih dalam bagi novel yang anda tulis. Ini merupakan satu sentuhan sastra yang perannya sangat penting dalam sebuah novel.

Tapi tentu saja anda tidak boleh menggunakan metafora yang justru tidak ada hubungannya. Seperti metafora tulang iga untuk mengganti kata tulang punggung diatas.

Kan tidak masuk akal. Toh, tulang punggung dalam kelompok kata diatas kenyataannya seperti itu. Pemuda dan anak muda adalah tulang punggung negara. Jika ia adalah anak yatim maka penggunaan tulang punggung keluarga juga sangat tepat.

7. Fokus

Banyak penulis novel yang pernah bercerita bahwa dari setiap novel yang mereka tulis ada saja tulisan yang tidak pernah selesai ditulis.

Dengan kata lain, menulis novel membutuhkan komitmen yang kuat. Komitmen inilah yang pada akhirnya akan menjadi penentu apakah novel anda bisa dibaca orang lain atau tidak.

Oleh karena itu sebelum menulis novel baiknya anda fokus. Dari pra penulisan hingga pasca penulisan. Sebab inilah poin kunci dari prinsip penulisan.

Jika anda tidak fokus jangankan novel anda bisa selesai ditulis, memikirkan saja mungkin membuat anda lelah apalagi berhasil menerbitkannya.

Penutup

Banyak anak muda sekarang yang punya keinginan untuk menulis novel, buku dan lain sebagainya. Tapi banyak dari mereka yang menguburkan keinginan tersebut karena alasan-alasan khusus.

Salah satu alasannya mungkin adalah ketidaktahuan mereka mengenai prinsip-prinsip penting dalam penulisan.

Jika anda salah satunya, maka sebelum menulis novel ada baiknya anda punya bekal dalam menulis. Mulai dari riset mengenai cerita, alur dan plot, hingga mengetahui berbagai ketentuan teknis lain.

Nah demikian artikel tentang 7 prinsip dalam menulis novel. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda ~

You might like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *