Pandangan Thomas Aquinas Tentang Tuhan

7 Likes Comment
pandangan Thomas Aquinas tentang Tuhan

Sebenarnya, pandangan Thomas Aquinas tentang Tuhan sudah disinggung pada artikel sebelunya tentang pengertian metafisika menurut Aquinas terlebih tentang pengada dan substansi dalam hubungan antara Esse dan eksistensi.

Yang kemudian dibedakan antara substansi ragawi dan susbstansi nirragawi yaitu substansi tanpa tubuh yang terdiri dari struktur esensi dan esksistensi.

Namun baik substansi ragawi dan nirragawi esensi tidak sama dengan eksistensi. Esensi adalah prisip limitasi dan eksistensi adalah partisipasi dalam Esse.

Kalau begitu kita bertanya apakah substansi/pengada yang esensinya sama dengan eksistensi yang kemudian oleh Aquinas disebut Tuhan?

Kita ketahui bahwa Esse (actus purus) maka esensinya juga harus tak terbatas. Atau hanya pada Tuhan Esse sama dengan esensi maka eksistensi Tuhan tidak terbatas.

A. Argumen Pendukung

Ada beberapa argumen pendukung dalam artikel pandangan Thomas Aquinas tentang Tuhan ini, antara lain:

1. Tuhan=Essensi=Eksistensi

Bagi Aquinas substansi adalah pengada yang esensinya bereksistensi pada dirinya (mandiri). Konsuekensinya essensi tidak identik dengan eksistensi.

Essensi bererti prinsip limitasi yang terbatas, maka semua makluk terbatas dalam partisipasi dalam Esse. Walaupun dalam ciptaan Essensi tidak identik dengan eksistensi tapi pada Tuhan essensi selalu identik dengan eksistensi.

Dengan kata lain eksistensi Tuhan itulah Esse. Atau juga eksistensi dari pengada adalah partisipasi dalam Esse. Dan Esse itulah kesmpurnaan dari semua kesempurnaan.

Karena Esse adalajh kesempurnaan actual, maka esensi juga seharusnya sempurna. Kalau Esse adalah yang tak terbatas maka Tuhan juga tak terbatas. Konsuekensinya Tuhan adalah EsseNya.

Tuhan identik dengan diri-Nya sendiri, sedangkan pada ciptaan esensi tidak mengandung eksistensi. Karena Tuhan adalah kesempurnaan akhir maka eksistensinya ada. Disinilah perbedaan antara Tuhan dan ciptaannNya.

Baca Juga : Metafisika: Pengertian, Objek Studi dan Hubungan

Kalau begitu kita bertanya apakah prinsip limitasi esensi dapat dianggap sebagai penyebab efesien dari eksistensi? Tidak! Karena essensi tidak menciptkan eksistensi tapi esensi mengkundusikannya.

Dengan demikian, kita dapat mengerti bahw substansi sebagai ciptaan tidak dijadikan dari dirinya sendiri tapi sesuatu yang bersifat eskternal pada dirinya sendiri. (A diciptakan oleh B—-X: penyebab terakhir yang tidak dapat digerakan yaitu Tuhan).

Menciptakan berarti diberikan eksistensi, maka Tuhan menciptakan berarti diberikan eksistensi sehingga Tuhan dianggap sebagai Actus Purus yaitu actualitas tanpa pontesialitas. Jadi Tuhan adalah Esse tantum.

Untuk membuktikan bahwa Tuhan Essensi Tuhan itu identik dengan eksistensi, maka Aquinas memberikan tiga argumennya, yaitu:

a. Ia membandingkan Tuhan dengan ciptaan

Pada ciptaan essensi tidak sama dengan eksistensi, kosekwensinya essensi tidak menciptakan eksistensi sedangakan pada Tuhan yang adalah penyebab efesien dari segala sesuatu maka eksistensi Tuhan identik dangan eksistensiNya, jika tidak Ia tidak menciptakan.

b. Esensi aktual

Dalam hubungan dengan prinsip yaitu esensi adalah apa yang memungkinkan esensi menjadi aktual. Karena itu dapat dikatakabn bahwa esensi Tuhan harus tidak berbeda dari eksistensiNya, atau eksistensi Tuhan adalah eksistenNya.

c. Prinsip partisipasi

Ini adalah prinsip dimana sesuatu A berpartisipasi dalam B, jika tidak identik dengan B tapi hanya sebatas partisipasi. Maka esksitensi ciptaan berpartisipasi dalam Esse

Selanjutanya pada Esse segala sesuatu berpartisipasi dalam Esse yaitu semua ciptaan berpartisipasi dan tidak menciptakan eksistensi mereka sendiri karena diterima dari Tuhan.

Baca Juga : Konsep Whitehead Tentang Metafisika Spekulatif

Jadi eksistensi bukan unsur intrinsitik dari ciptaan tapi diterima dari Esse. Kalau begitu Esse Tuhan dari mana? Esse Tuhan adalah iptium Esse (pada diriNya) tidak disebebkan, tidak menerima dari sesuatu yang lain karena hakekat dari Tuhan tidak bereksistensi. Dengan demikian pada Tuhan Essensinya sama dengan eksistensiNya.

2. Bukti Eksistensi Tuhan

Pada Tuhan essensi sama dengan eksistensi menyangkut esensi tak terbatas dan ciptaan tidak dapat menyelami kedalaman essensi Tuhan.

Namun kita hanya bisa mengerti Tuhan dari eksistensi Tuhan. Tapi dari perspektif ciptaan eksistensi TUhan tidak pasti, tapi bagaimana rasio yang terbatas bisa memahami kedalamanan Tuhan?

Menjawab pertanyaan ini kita berangkat dari pendekatan oleh St. Anselmus yaitu:

  1. A priori : Mau menunjukan tentang AQM yaitu Tuhan tidak dapat dipikirkan lagi
  2. A posteriori : Kalau pendekatan A priori adalah pendekatan berdasarkan konsep maka pendekatan aposteriori lebih berdasarkan pengalaman . dengan pengalaman seseorang bisa mampu mengerti tentang kedalaaman Tuhan.

Dengan begitu Aquinas menunjukan 5 jalan menuju TUhan dengan 2 prinsip, yaitu:

  • Ex nihilo nihit fit : Dari ketiadaan tidak meungkin terjadi sesuatu. Konsuekensinya sesuatu terjadi karena orang lain.
  • Prinsip kausalitas: Yaitu prinsip sebab akibat. Kalau ada sebab pasti ada akibatnya. Dan bagi Aquinas ada 5 jalan menuju ke Tuhan:
a.1. Berdasarkan gerak

Dalam dunia ini banyak hal selalu berubah. Apapun yang bergerak atau berubah itu selalu digerekan oleh sesuatu yang lain.

Jika ia hanya diam maka secara potensial berada dalam gerak. Gerak terjadi karena ketika suatu yang secara potensial berada dalam gerek, digerakan sehingga secara aktual bergerak.

A. bergerak karena digerakan oleh B, dan B bergerak karena C sampai akhirnya sampai pada penyebab terakhir yang tidak dapat digerakan yaitu Tuhan.

a.2. Penyebab efesien

Ada berbagai jenis akibat, dan dalam setiap kasus kita dapat menunjukan suatu penyebab efesien bagi setiap efek. Penyebab efesien dari sebuah patung adalah pekerjaan si pemahat.

Jika kita menyangkal aktifitas si pemahat maka tidak dak akam memperoleh patung sebagai efesien. Dan orang tua dari si pemahat adalah penyebab efesien dari si pemahat, si penebang kayu adalah penyebab efesien dari si pemahat sendiri.

Baca Juga : Pandangan Whitehead Tentang Tuhan Dan Kreativitas

Jadi ada satu jaringan rumit dari banyak penyebab yang akhirnya setiap penyebab itu disebabkan oleh satu penyebab efesien yang tidak dapat disebabkan lagi yaituTUhan.

a.3. Berdasarkan kontinjensi dan nesesitas

Kontinjensi berarti bisa ada dan bisa tidak. Atau tidak selalu harus ada. Pohon itu dilihat hari ini ada, bertumbuh tapi akan lenyap, bararti pohon yang sama dapat tidak ada.

Berarti pohon itu bisa ada dan bisa tidak ada. Namun tidak semua eksistensi bersifar kontinjen belaka. Aquinas menyimpulkan bahwa pasti adaa sesuatu yang memiliki eksistensi yang bersifat niscaya eksistensinya merupakan suatu keharusan.

a.4. Berdasarkan kesempurnaan

Kita selalu menemukan bahwa dalam hidup selalu ada ha yang kita sebut kurang baik, kurang benar, kurang mulia dan dan lain disebut lebih baik, lebih benar dan lebih mulia.

Namun hal-hal ini selalu menunjuk bahwa sebenarnya ada satu hal yang maksimum yang selalu disebut paling baik, paling benar, dan paling mulia. Atau pasti ada suatu realitas yang paling sempurna melebihi semua kesempurnaan di dunia yaitu Tuhan.

a.5. Berdasarkan ketertiban Alam

Kita mengetahui bahwa alam raya bereksistensi sesuai dengan ketertiban alam untuk mencapai tujuan tertentu. Ini berarti alam raya bereksistensi tidak secara kebutulan, melainkan karena ketertiban yang direncakanan.

Atau mesti ada suatu eksistensi inteligen yang olehnya segala sesuatu yang alamiah diarahkan secara tertib menuju tujuannya. Dengan kata lain juga pasti ada seseorang yang merencanakan ketertiban itu yaitu Tuhan.

3. Hubungan antara Tuhan dan Makluk ciptaan

Aquinas kembali bertanya kalau Tuhan adalah pengada pertama dari segala sesuatu yang lain atau semua yang bereksistensi punya esensi yang terbatas, kalau begitu bagaimana menjelaskan hubungan antara Tuhan dengan makhluk ciptaan Tuhan yang esensinya terbatas? Ia menjawabnya dalam beberapa prinsip:

Partisipasi kausalitas dan subjetivitas

Konsep partisipasi ini diambil dari Plato yang membedakan dua lapisan realitas: yaitu dunia ide dan dunia indrawi. Baginya manusia menjadi manusia karena berpartisipasi dalam realitas yang sama. Baginya dunia indrawi adalah bayangan bagi dunia ide.

Semua hal individual berpartisipasi dalam ide yang sama. Namu bagi Plato ini tidak sempurna karena hanya bayangan.

Aquinas melampaui pandangan ini dan mengatakan bahwa semua ciptaan berelasi dengan Tuhan karena berpertisipasi dalam Esse.

Artinya hubungan primer antara ciptaan dan Tuhan adalah hubungan esksitensial karena eksistensi dari ciptaan adalah partisipasi dalam Esse.

Jadi partisipasi pada eksistensi Tuhan itu artinya Tuhan adalah penyeban efesien, dan Tuhan menciptakan berarti memberikan esksistensiNya.

Jadi hubungan ini adalah hubungan yang subjektif dimana Tuhan akrab dengan apapun dan semua ciptaan ambil bagian dalam eksistensiNya.

Jadi ciptaan bisa menjadi pinta masuk bertemu dengan Tuhan karena dalam ciptaan ada unsur eksistensi Tuhan. Kita bisa dekat dengan Tuhan lewat ciptaan. Dan partisipasi subjektifitas ini adalah bersifatr eksistensial.

Kalau bagitu bagaiamana ciptaan yang bernama manusia dapat berdiskusi dan berbicara dengan Tuhan? Pertnyaan ini muncul karena sehungan dengan ciptaan yang terbatas dan Tuhan yang Maha sempurna, juga karena bahasa ciptaan yang terbatas sehingga bagaiamana akal manisia yang terbatas itu bisa berbicara dengan Tuhan. Aquinas menjawab dalam dua konsep:

Depedensi dan analogi

Pandangan Thomas Aquinas tentang Tuhan terakhir adalah berkaitan dengan depedensi dan analogi. Dalam prinsip kausalitas dikatakan bahwa penyebab selalu berada dalam efek.

Dan ciri khas hubungan ini adalah efek selalu tergantung pada penyebab. Artinya ciptaan selalu tergantung pada pencipta secara eksistensial. Kalau begitu apa dasar ketergantungan ciptaan pada penciptaNya?

Dasarnya adalah perbedaan struktur esesnsi dan eksistensi, Yaitu:

  1. Pada ciptaan dan pencipta bahwa ekssitensi ciptaan itu adalah partisipasi dalam eksistensi Tuhan maka ketergantungan ciptaan bersifat eksistensial
  2. Berarti bahwa atas salah satu cara Tuhan hadir pada ciptaanNya. Dan Aquinas menjelaskan relasi ciptaan itu dalam dua jenis relasi:
  • Relasi ciptaan ke Tuhan. Inilah relasi dependensi yang tidak lain adalah relasi riil yang sungguh-sungguh dimana ciptaan tergantung pada pencipta.
  • Relasi dari Tuhan ke ciptaan: ciptaan tergantung pada pencipta namun karena Tuhan memberikan eksistensi pada ciptaan makah masuk akal Tuhan punya hubungan dengan ciptaan. Dan inilah relasi rationis.

Tapi bagaimana berbicara tentang Tuhan? Ada jenis cara mengungkapkan tentang Tuhan:

a. Bahasa univocal

Mislanya kata setia pada TUhan dan pada manusia selalu sama. Sehingga jelas bahwa bahasa univocal tidak bisa digunakan.

b. Bahasa uquivokal

Dasarnya esensi Tuhan dan ciptaan berbeda bahasa yang digunakan Tuhan berbeda dengan bahasa yang digunakan manusia. Maka pendekatan ini juga tidak dapat dipakai.

c. Bahasa Analogi

Disatu sisi mengakui perbedaan dan dilain pihak mengkaui kesamaan. Kalau begitu dari segi mana kita mengakui ciptaan? Dari segi esensi yaitu Tuhan berbeda dengan manusia.

Dan ada kesamaan yaitu dari segi eksistensi yaitu eksistensi ciptaan adalah partisipasi dalam eksistensi Tuhan. Sehingga mengatakan Tuhan setia dan manusia setia bisa dalam arti sama tapi juga berbeda antara kesetian Tuhan dan manusia.

Artinya kesetiaan Tuhan berarti dapat dijumpai kapanpun sedangkan kesetian manusa berbeda tidak harus dijumpai kapanpun.

Demikian artikel tentang pandangan Thomas Aquinas tentang Tuhan. Semoga bermanfaat ~

You might like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *