Bagaimana Manusia Mengenal Minyak Kelapa Sawit?

1 Like Comment
minyak sawit

Minyak kelapa sawit dikenal sebagai tumbuhan dengan buah ajaib yang memiliki banyak kegunaan dan manfaat. Kelapa sawit dapat digunakan sebagai bahan biskuit, shampo hingga menjadi bahan bakar. Namun ketergantungan manusia pada minyak sawit punya konsekuensi tinggi terhadap lingkungan.

Alkisah, di negeri yang jauh, terdapat sebuah pohon tak dikenal tumbuh dengan sendirinya. Tumbuhan tersebut memiliki pohon yang tinggi dengan buah bersisik dan besar.

Manusia yang selalu penasaran kemudian mengambil buah tersebut. Mereka memerasnya lalu keluarlah minyak khusus yang harum.

Manusia kemudian coba menggunakan minyak tersebut untuk kebutuhan sehari-hari. Ajaib. Minyak itu tidak berbahaya bagi manusia. Penggunaannya pun berlanjut.

Manusia mulai menggunakannya sebagai bahan untuk membuat kue dan juga untuk menggoreng keripik. Lebih ajaib lagi, ternyata minyak itu membuat keripik lebih renyah dan nikmat.

Tak lama kemudian, produksi minyak ini diperluas setelah ditemukan manfaat lain dari minyak yang satu ini karena bisa membuat sabun mandi dan sabun cuci piring lebih bergelembung.

Tak sampai disitu saja, minyak ini dapat dijadikan bahan dasar lipstik yang bisa dipadukan bersama sisik ikan serta dapat membuat es krim tidak meleleh. Karena manfaatnya yang serba guna inilah orang-orang kemudian mulai mencari minyak ini.

Beberapa Negara di Asia tenggara dikenal sebagai pemasok utama minyak ajaib ini. Ada dua negara yang berkompetisi untuk menjadi pemasok minyak sawit mentah terbesar di dunia yakni Indonesia dan Malaysia.

Baca Juga : 5 Struktur Bangunan Paling Tahan Gempa Di Dunia

Jutaan hektar hutan diplontosi untuk menanam pohon sawit dengan tujuan mulia, yakni memproduksi minyak sawit lebih banyak demi dan untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Kisah ini adalah kisah tentang minyak kelapa sawit. Dibalik manfaatnya yang beragam, lingkungan jadi taruhannya. Dan risiko ini terus meningkat seiring tumbuhnya permintaan minyak sawit mentah di dunia.

Ditempat asal pohon sawit tumbuh orang-orang menebang pohon dengan beringas, membakar lahan dan hutan sehingga menjadi sumber utama rusaknya ekosistem hutan .

Saat pohon-pohon yang ditebang itu dibakar, keluarlah gas yang membuat udara panas seketika. Sehingga, hewan-hewan yang ada di sekitarnya secara serempak bergegas pergi dari ekosistemnya, jika tidak risikonya adalah mati.

Beberapa hewan tersebut harus tersesat di pemukiman warga dengan risiko yang sama. Atau jika tidak, mereka dikandangkan dan berakhir di meja makan.

Sementara, hutan alami telah digantikan sawit, yang tidak memungkinkan lagi untuk di tinggali dan butuh ribuan tahun agar hutan kembali ke bentuknya semula.

Baca Juga : Cara Mengetahui Kode Negara Asal iPhone

Ini adalah kisah nyata dan bukan ilusi dari pohon kelapa sawit (elaeis guineensis), yang hanya tumbuh di daerah beriklim tropis mengandung minyak nabati paling serba guna di dunia.

Dengan minyak ini, pisang tambah nikmat jika digoreng dan kemungkinan untuk hangus lebih kecil ketimbang minyak kelapa biasa.

Minyak kelapa sawit juga dapat menyatu dengan jenis minyak lain seperti minyak kelapa. Kombinasi dari berbagai jenis lemak yang terkandung didalamnya serta konsistensi saat penyulingan menjadikan minyak sawit menjadi salah satu bahan makanan paling populer di dunia.

Biaya produksinya juga rendah sehingga cocok untuk menutupi kebutuhan minyak di negara-negara berkembang. Inilah yang membuat minyak kelapa sawit lebih digemari ketimbang minyak goreng berbahan dasar lain seperti biji kapas atau bunga matahari. Selain itu juga, minyak ini juga membuat shampo, sabun mandi dan deterjen lebih berbusa.

Lebih jauh, produsen kosmetik yang awalnya lebih suka menggunakan bahan baku dari hewan ternak karena kemudahan pasokan dan harga rendah berpaling sejak minyak sawit mulai diperkenalkan. Bahkan telah menjadi bahan baku yang murah meriah bagi industri biofuel di Eropa.

Minyak sawit berfungsi sebagai pengawet alami untuk makanan olahan dan bisa membuat titik leleh es cream lebih lama. Minyak kelapa sawit dapat digunakan sebagai perekat untuk mengikat partikel-partikel yang ada di papan serat.

Produksi minyak kelapa sawit

orang utan
kolase orang utan dan hutan yang dibabat untuk ditanam kelapa sawit via bunnyarmy.org

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, produksi minyak sawit terus meningkat. The Guardian melaporkan antara tahun 1995 hingga 2015, produksi tahunan minyak sawit naik empat kali lipat dari 15,2 juta ton menjadi 62,6 juta ton.

Dan diperkirakan pada tahun 2050 nanti, produksi sawit juga meningkat empat kali lipat sehingga mencapai 240 juta ton. Jejak produksi minyak kelapa sawit juga sama mencengangkan: Lahan pertanian kelapa sawit menyumbang 10% dari lahan pertanian global permanen.

Di seluruh dunia ada sekitar 3 miliar orang dan tersebar di 105 negara yang menggunakan produk olahan mengandung sawit. Secara global, masing-masing orang mengkonsumsi 8 kg minyak kelapa sawit setiap tahun. Dari jumlah ini, 85% berasal dari Indonesia dan Malaysia.

Baca Juga : Daftar Lengkap Ekstensi Domain Negara Di Seluruh Dunia

Permintaan akan minyak kelapa sawit di seluruh dunia juga meningkatkan pendapatan terutama bagi masyarakat pedesaan, namun dengan imbalan lingkungan yang merugikan. Begitu juga soal upah pekerja yang yang sering dilaporkan memperoleh upah buruk dan hak yang dilanggar.

Penebangan dan pembakaran hutan juga bertabah dari tahun ke tahun. Bertambahnya hutan ini membuat lahan kelapa sawit menjadi donatur utama emisi gas rumah kaca di Indonesia. Sebuah negara yang berpenduduk 261 juta orang lebih dan terus bertambah.

Ide untuk meningkatkan produksi kelapa sawit telah membantu menghangatkan planet ini, sembari menghancurkan satu-satunya habitat Harimau Sumatera, Badak Sumatera dan Orang utan.

Tetapi, banyak konsumen yang tidak menyadari fakta ini. Justru, kebutuhan atas minyak sawit meningkat. Sebuah investigasi minyak sawit yang dilakukan oleh Pengawas Minyak Sawit menemukan lebih dari 200 produk makanan dan perawatan rumah tangga mengandung minyak sawit dan hanya 10% diantaranya berbahan dasar kelapa.

Bagaimana minyak sawit bisa menyusup ke setiap lini kehidupan?

biji minyak kelapa sawit
biji minyak kelapa sawit sebelum di olah via tfa2020.org

Perlu diketahui tidak ada inovasi tunggal yang menyebabkan konsumsi minyak sawit melambung tinggi. Sebaliknya, ini menjadi komoditas sempurna dan saat yang tepat untuk menjalankan semboyan ‘Untuk Industri Demi Industri’, yang di adopsi oleh setiap pabrik untuk mendapatkan profit.

Disaat yang sama, negara-negara produsen sawit memandang minyak kelapa sawit sebagai bagian dari skema pengurangan kemiskinan.

Ide itu juga didukung oleh Organisasi Keuangan Internasional (IMF) yang memandang minyak sawit sebagai mesin pertumbuhan ekonomi bagi negara-negara berkembang.

Dana Moneter Internasional yang dikelola IMF juga mendorong Indonesia dan Malaysia untuk memproduksi lebih banyak sawit.

Saat Industri kelapa sawit meluas, pegiat dan organisasi lingkungan dari seluruh dunia seperti Greenpeace mulai khawatir tentang dampak lingkungan yang makin parah.

Yang paling mengkhawatirkan adalah meningkatnya emisi karbon dan juga rusaknya habitat satwa liar termasuk satwa liar terancam punah.

Sebagai tanggapan atas masalah ini, April 2018 lalu, supermarket Islandia berjanji untuk tidak lagi menjual produk berbahan dasar minyak kelapa sawit.

Bulan desember kemarin, Norwegia mengikuti langkah Islandia. Mereka juga akan melarang impor sawit untuk industri biofuel.

Baca Juga : 14 Ide Bisnis Online Terbaik Saat Ini

Namun disaat kesadaran akan dampak minyak sawit telah beredar luas sudah tertanam dalam pikiran konsumen tentang kebutuhan mereka akan sawit yang sifatnya konstan.

Sebaliknya, perusahaan akan berupaya menghapus label sawit dari produknya dan tidak akan menghilangkan bahan minyak sawit secara permanen.

Menentukan produk mana yang mengandung minyak kelapa sawit membutuhkan pengetahuan dan kesadaran konsumen yang hampir mustahil diperoleh.

Eropa dan Amerika adalah dua wilayah dengan tingkat kesadaran konsumen tinggi namun permintaan akan kelapa sawit juga bersumber dari sana dengan total permintaan sebesar 14% dari produksi sawit global, sisanya dari Asia, India dan Afrika.

Cerita ini juga terus didengungkan para pegiat lingkungan sembari mengingatkan akan janji pemerintah global 20 tahun sebelumnya tentang deforestasi yang menggema di Brasil.

Setidaknya ada 5 alasan mengapa kebutuhan akan minyak kelapa sawit terus tumbuh, 1) Minyak sawit telah menggantikan lemak trans, 2) Produsen berusaha menjaga harga tetap terjangkau, 3) Digunakan sebagai pengganti minyak yang lebih mahal yang digunakan di rumah termasuk untuk produk perawatan kecantikan, 4) Karena harganya murah dan 5) Karena permintaan akan minyak goreng yang terus tumbuh di Asia.

Pengganti lemak Jenuh

kelapa sawit
Minyak kelapa sawit sebagai pengganti lemak jenuh dan mantega via climatechangenews.com

Adopsi luas terhadap minyak kelapa sawit dimulai saat digunakan sebagai bahan olahan. Pada tahun 1960-an, para ilmuwan mulai memperingatkan bahwa kandungan lemak jenuh pada mentega bisa meningkatkan risiko penyakit jantung.

Pabrikan makanan, termasuk Unilever mulai mengganti penggunaan Mentega dengan Margarin yang dibuat dengan minyak nabati rendah lemak jenuh.

Namun, pada awal tahun 1990-an, terdapat masalah yang sama. Dimana, proses pembuatan Margarin, yang dikenal dengan proses hidrogenasi parsial justru menciptakan lemak jenuh dengan jenis yang berbeda yakni lemak trans, yang bahkan lebih tidak sehat ketimbang lemak jenuh.

Dewan Direktur Unilever yang menyetujui konsensus ilmiah untuk menolak produksi lemak trans kemudian memutuskan untuk memberhentikan produksi margarin di seluruh pabrik Unilever.

“Unilever selalu sangat sadar akan kepentingan kesehatan konsumen dari produk-produknya,” kata James W. Kinnear, Anggota Dewan Unilever kala itu.

Baca Juga : 13 Film Sains Fiksi Terbaik Sepanjang Masa

Peralihan terjadi secara tiba-tiba. Pada tahun 1994, manajer Kilang Unilever, Gerrit van Duijn menerima telepon dari atasannya di Rotterdam.

Pembicaraan itu mengenai rencana penggantian margarin secara serempak di dua puluh pabrik Unilever yang tersebar di 15 negara. Proyek itu, untuk alasan yang tidak dijelaskan oleh van Duijn, disebut sebagai proyek Paddington.

Proyek ini pada dasarnya harus melakukan beberapa hal, yakni mencari tahu apa yang bisa menggantikan lemak trans namun tetap menguntungkan dengan ciri-ciri yang hampir sama dengan margarin, dengan komposisinya yang tetap padat pada suhu dalam ruangan, serta menjadi pengganti mentega, dengan harga murah dan dapat digunakan untuk bahan manufaktur lain seperti kue.

Melihat kriteria diatas, van Duijn kemudian memutuskan bahwa hanya ada satu minyak yang cocok yakni minyak kelapa sawit. Baik minyak sawit yang sudah diekstrak dari buah atau minyak inti sawit dari biji.

“… Tidak ada minyak lain yang dapat di suling dengan konsistensi yang diperlukan untuk berbagai campuran margarin buatan Unilever dan makanan yang dipanggang tanpa menghasilkan lemak trans. Minyak sawit adalah satu-satunya alternatif untuk minyak yang terhidrogenasi parsial,” kata Van Duijn.

Minyak kelapa sawit dan minyak inti sawit juga lebih rendah lemak jenuh daripada mentega. Pergantian di setiap pabrik Unilever harus terjadi secara bersamaan, jalur produksi tidak dapat menangani campuran minyak lama dan minyak yang baru.

“Pada hari yang ditentukan, semua tangki pabrik harus dikosongkan dari komponen yang mengandung minyak trans dan diisi ulang dengan komponen lain yang tidak mengandung minyak trans,” ujar Van Duijen dilansir dari Guardian. “Secara logistik, itu adalah mimpi buruk karena harus membeli tanki tambahan untuk menampung minyak lama”.

Karena Unilever kadang-kadang menggunakan minyak kelapa sawit pada produk sebelumnya berarti rantai pasokan tetap berjalan.

Dan butuh waktu enam minggu bagi minyak sawit Malaysia untuk sampai ke Eropa, dan van Duijn hanya memiliki waktu 3 bulan untuk beralih.

Baca Juga : 10 Fakta Menarik Pasukan Garda Swiss Yang Menjaga Vatikan

Duijn kemudian membeli lebih banyak dan lebih banyak lagi minyak kelapa sawit dan inti sawit, mengatur pengiriman untuk diangkut ke berbagai pabrik sesuai jadwal.

Kemudian, pada satu hari di tahun 1995, truk-truk mulai mengantri di luar pabrik Unilever di seluruh Eropa. Momen ini menandai era baru penggunaan sawit di Eropa.

Momen inilah yang mengubah industri makanan olahan selamanya. Unilever adalah pelopor, setelah Van Duijn mengatur peralihan perusahaan ke minyak sawit, hampir semua produsen makanan mengikuti langkah yang diambil Unilever.

Saat ini, lebih dari dua per tiga minyak kelapa sawit sudah menjadi bahan dasar makanan. Kini, konsumsi sawit di Uni Eropa tiga kali lebih tinggi sejak proyek Padddington di luncurkan dan terus meningkat hingga tahun 2015.

Pada tahun yang sama, US Food and Drug Administration (FDA) memberi waktu bagi produsen makanan selama tiga tahun untuk menghilangkan semua lemak trans dari setiap makanan seperti Margarin, Kue, pai, Popcorn, Pizza beku, donat, dan biskuit yang dijual di seluruh wilayah AS.

Minyak sawit: makanan paling banyak dikonsumsi di Eropa dan Amerika

minyak sawit paling digemari
Minyak sawit salah satu makanan paling di gemari di Eropa dan Amerika via greenglobaltravel.com

Meski semua sawit yang dikonsumsi di Eropa dan Amerika digabungkan, konsumsi lebih besar datang benua Asia. Penggunaan tertinggi datang dari India, Cina dan Indonesia dimana hampir setengah dari konsumsi minyak sawit global.

Minyak sawit sering dimasak secara bersamaan dengan kedelai menggantikan minyak kelapa. Pertumbuhan paling tinggi berada di India, dimana percepatan ekonomi sudah menjadi faktor tambahan yang meningkatkan konsumsi, reputasi dan popularitas sawit.

Antara tahun 1993 dan 2013, PDB per kapita India meningkat dari $298 menjadi $1.452. Pada periode yang sama, konsumsi lemak di pedesaan India tumbuh 35% dan di daerah perkotaan tumbuh 25%.  Minyak sawit menjadi bahan utama dari semua eskalasi ini.

Baca Juga : Benarkah Bintang Di Alam Semesta Lebih Banyak Dari Pasir di Bumi?

Fair Price Shops, sebuah toko harga wajar yang di subsidi pemerintah India, yang menjadi bagian dari jaringan distribusi makanan untuk warga miskin, mulai menjual bahan makanan mengandung sawit impor pada tahun 1978. Dua tahun kemudian, 290.000 toko melakukan hal serupa yang berarti hampir 273.500 ton makanan mengandung sawit.

Pada tahun 1995, impor sawit India meningkat 1 juta ton. Pada tahun 2005 impor menyentuh angka 9 juta ton. Pada tahun-tahun setelahnya, tingkat kemiskinan turun setengah seiring meningkatkan populasi negara tersebut sebesar 36%.

Minyak Kelapa sawit tidak saja digunakan untuk sebagai bahan masakan rumahan di India, hari ini, minyak kelapa sawit merupakan bagian besar di industri makanan cepat saji yang ada di negara tersebut. Pasar makanan cepat saji di India tumbuh 83% antara tahun 2011–2016.

Diantaranya, Domino Pizza, Subway, Pizza Hut, KFC, McDonalds dan Dunkin Donuts, semuanya menggunakan minyak kelapa sawit dalam makanan olahan mereka dan sekarang ada sekitar 2.784 toko makanan cepat saji yang tersebar di kota-kota besar India. Sementara itu, penjualan makanan kemasan cepat saji meningkat 138% dibandingkan periode sebelumnya.

Fleksibilitas

minyak kelapa sawit
Beberapa petani di Malaysia memindahkan kelapa sawit mentah ke dalam truk untuk di angkut ke pabrik via malaymail.com

Fleksibilitas minyak kelapa sawit tidak terbatas saja pada makanan. Tidak seperti minyak lainnya, minyak iini dapat bisa didapat dengan mudah dan tidak mahal dalam proses ‘difraksinasi’ sebuah proses dimana untuk memisahkan minyak dengan konsistensi yang berbeda, yang dibuang karena sudah tak bisa digunakan.

“Ini memiliki keuntungan yang luar biasa karena fleksibilitasnya,” ujar Carl Bek-Nielsen, Direktur eksekutif United Plantations Berhad, perusahaan yang bergerak dibidang produsen sawit yang berbasis di Malaysia sebagaimana dikutip dari the Guardian.

Tak lama setelah bisnis makanan olahan ini ditemukan sifat magisnya, industri kosmetik, makanan cepat saji, produk perawatan wajah hingga bahan bakar transportasi mulai menggunakan sawit. Tetapi sama seperti lemak trans, yang ditinggalkan karena kandungan yang tidak sehat begitu juga minyak sawit.

Perlu diketahui juga, minyak sawit pada awalnya diadopsi karena dianggap ramah lingkungan. Tetapi setelah bertahun-tahun kemudian fakta menunjukan sebaliknya. (***)

You might like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *