5 Cara Mengajar Anak Mengolah Emosi Mereka

6 Likes Comment
cara mengajar anak mengolah emosi

5 Cara Mengajar Anak Mengolah Emosi Mereka – Saat anak mulai tumbuh biasanya ia akan mulai membangun hubungan timbal balik dengan orang-orang di sekitarnya. Pada tahap inilah interaksi terjadi, sikap dan karakter dari orang terdekat akan mempengaruhi emosi anak.

Pada umumnya, anak mengalami tahap-tahap perkembangan emosi yang sama dengan anak seusinya. Namun, kecepatan dari perkembangan emosi anak itu berbeda satu dengan yang lain.

Biasanya itu dipengaruhi oleh pengalaman belajar mereka dilingkungan sosial mereka sendiri seperti pada keluarga.

5 Cara Mengajar Anak Mengolah Emosi Mereka

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melalui Forum Sahabat Keluarga menyampaikan setidaknya ada 5 kegiatan belajar yang bisa mempengaruhi emosi seorang anak. Apa saja itu? berikut daftarnya.

1. Model pembelajaran spontan

5 Cara Mengajar Anak Untuk Mengolah Emosi
Via Getty Images

Ketika seorang anak mulai belajar, ia biasanya melakukan proses belajar spontanitas. Pada titik ini, mereka akan belajar mengekspresikan perasaan dan emosi dari setiap momen spontan yang terjadi. Bentuk emosi anak pada tahap ini tidak dapat diduga dan diprediksi.

Baca Juga : Membahas terorisme dengan anak? Ini Panduannya

Untuk itu, bagi orang tua jangan kaget apabila respon emosi yang di tunjukan anak seringkali tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Misalnya, ketika anak berusia 2 tahun diberi mainan torompet, banyak anak yang menunjukan menangis ketimbang tertawa atau senang.

2. Model pembelajaran imitasi

5 Cara Mengajar Anak Untuk Mengolah Emosi
Via momjunction.com

Seperti disebutkan sebelumnya, lingkungan keluarga bisa mempengaruhi emosi anak. Dalam tahapannya, anak-anak akan mengikuti emosi yang ditunjukkan orang tua.

Ketika orang tua menunjukan rasa bahagia dengan tertawa anak akan memantulkan respon yang sama. 

3. Pembelajaran lewat tokoh Idola

5 Cara Mengajar Anak Untuk Mengolah Emosi
via weareteachers.com

Ada sebagian anak-anak yang tertarik dan kagum dengan tokoh tertentu bahkan sering juga menyamakan dirinya dengan tokoh tersebut. Seperti tokoh superhero yang ia lihat dalam kartun anak-anak.

Hal ini ikut berperan penting untuk mengembangkan pola emosi dalam diri seorang anak. Orang tua bisa mencari sosok atau tokoh yang dikagumi untuk melihat reaksi dari anak.

Baca Juga : 4 hal penting yang harus dibicarakan oleh guru dan orang tua

Ada banyak tokoh yang muncul dan menjadi idola bagi anak-anak. Meski demikian, orang tua harus bisa memilah tokoh yang sesuai dengan karakter dan lingkungan anak.

Misalnya, menggambarkan tokoh Sukarno pada anak-anak Indonesia dengan kemampuan berpidato, menyampaikan pendapat dalam beragam bahasa atau Moh. Hatta yang akrab dengan buku-buku.

4. Pelajaran pengkondisian

5 Cara Mengajar Anak Untuk Mengolah Emosi
via pianetamamma.it

Maksudnya adalah anak akan belajar dalam mengasosiasikan diri. Anak kecil belum memiliki kemampuan untuk menalar dan menilai pengalaman dengan kritis.

Emosi anak juga terbentuk dari kegiatan-kegiatan dan pola lingkungannya sendiri termasuk di sekolah.

Baca Juga : Jenis-Jenis Kertas Yang Paling Umum Digunakan

Untuk itu, mengelompokkan anak dengan teman-teman lain, saling belajar bersama dan mengasosiakan mereka meningkatkan pembelajaran pengkondisian dimaksud dan ini berperan penting bagi emosi anak kedepannya.

5. Model pembelajaran dengan latihan tertentu

5 Cara Mengajar Anak Untuk Mengolah Emosi
Via kentuckyvoice.com

Melalui bimbingan dan pengawasan, anak akan memperoleh pembelajaran yang spesifik. Anak juga harus diajar cara untuk memberikan respon atau bereaksi ketika mendapat hadiah. Juga, memberikan pengarahan untuk mengkondisikan emosinya.

Disini orang tua akan memberikan arahan dan pendampingan yang sederhana serta tidak menjenuhkannya. Orang tua bisa memberikan permainan tambahan yang menyangkut pengendalian emosi seperti bermain drama.

Anak-anak yang terampil biasanya menunjukan emosi tertentu yang timbul ketika melihat orang lain. Apa yang ditunjukkan itu merupakan hasil dari interaksinya setiap hari.

Untuk itu, aktivitas bermain dan belajar serta hal-hal lainnya akan mendorong anak untuk lebih mengolah emosinya.

Meski pada dasarnya anak belum paham atas apa yang diolahnya karena masih dalam tahap perkembangan namun disinilah orang tua menjadikan diri mereka sebagai cermin yang akan memantulkan kepribadian anak kedepannya.

Untuk itu, orang tua menjadi tokoh sentral dalam perkembangan emosi seorang anak. Dengan kemampuan pengelolaan emosi, apa yang dilakukan oleh orang tua akan menjadi representasi yang berharga bagi anak.

Itu berarti, anak akan menyimpan ingatan mereka dan memanggilnya kembali ketika ia melakukan hal yang sama dengan yang orang tua lakukan.

Sementara, dilingkungan sosial, anak-anak dengan kemampuan untuk mengolah emosi lebih mudah diterima orang lain.

Anak-anak akan tumbuh dengan kepribadian yang sosial, mudah berasosiasi, menerima pendapat orang lain serta menjalin pertemanan yang lebih baik dengan orang lain.

Demikian artikel tentang 5 cara mengajar anak untuk mengolah emosi. Semoga artikel ini bermanfaat!

You might like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *