Kudis: Pengertian, Tanda-Tanda Dan Cara Mengobatinya

7 Likes Comment
kudis

Kudis adalah suatu kondisi kulit yang disebabkan oleh infestasi tungau gatal pada manusia. Secara medis, kudis dikenal sebagai Sarcoptes scabies.

Tungau berukuran mikroskopis ini bersembunyi di kulit manusia dan biasanya menyebabkan gatal-gatal dan ruam.

Kudis bisa berada dimana saja diseluruh bagian tubuh manusia. Baik itu di tangan, kaki, badan, selangkangan dan tempat-tempat lain.

Bagaimana seseorang bisa terkena kudis?

Sebenarnya, setiap orang berpotensi terkena scabies. Ini biasanya menjangkit lewat kontak dari satu orang yang sudah terinfeksi ke orang lain.

Scabies dapat ditemukan diseluruh dunia dan biasanya memang ditularkan lewat kontak langsung dan berkepanjangan dengan seseorang yang mengalami scabies.

Kontak seksual adalah cara paling umum penularan scabies. Penularan juga dapat terjadi orang orang tua ke anak-anak, terutama dari ibu ke bayi.

Baca Juga : Manfaat Daun Sirih Merah dan Hijau Untuk Kesehatan

Tungau sendiri hanya bertahan hidup sekitar 48-72 jam tanpa kontak langsung dengan manusia, sehingga penularan jarang terjadi.

Namun ada kemungkinan scabies bertahan cukup lama. Scabies juga bisa menyebar ditempat tidur, pakaian yang dikenakan, handuk, furniture rumah dan lain sebagainya.

Sehingga, saat seseorang terkena scabies, maka berpotensi menjangkit kepada orang lain yang ada disekitarnya.

Berapa lama kudis bertahan?

Kudis atau tungau scabies hanya bertahan hidup sekitar 72 jam tanpa kontak dengan manusia. Dalam kondisi tertentu, scabies bisa bertahan hidup hingga dua bulan dan mungkin lebih lama.

Dalam kasus lebih dari dua bulan, biasanya dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Misalnya, tempat tinggal berada dalam kondisi yang dingin dengan tingkat kelembapan tinggi.

Sekali terkena scabies, ia akan langsung masuk ke bagian kulit. Gejala ini biasanya muncul mulai dari tiga hingga enam minggu setelah infestasi.

Bisakah terjangkit kudis dari hewan?

Hewan sebenarnya tidak menularkan jenis tangau tertentu yang sama sehingga menyebabkan scabies pada manusia.

Jadi secara tidak langsung, tidak mungkin untuk terjangkit scabies dari hewan terutama hewan peliharaan seperti anjing atau kucing.

Biasanya, jenis scabies yang menyerang hewan peliharaan disebut dengan mange. Dalam beberapa kasus, mange dapat menjangkit pada manusia dan menyebabkan gatal disekitar tubuh yang terjangkit sehingga membuat kulit terlihat kemerah-merahan.

Namun scabies tersebut tidak dapat bertahan hidup atau bereproduksi pada kulit manusia dan akan hilang dengan sendirinya.

Seseorang yang terkena scabies tidak perlu dirawat. Namun, untuk kasus pada hewan, ada baiknya dilakukan perawatan.

Alasannya karena kudis pada hewan bisa membuat bulu-bulunya rontok serta kulit terlihat bersisik dan gatal.

Tanda dan gejala

kudis
via hellosehat.com

Scabies biasanya membuat kulit terlihat seperti ada benjolan merah kecil dan lepuh. Gejala utama kudis biasanya gatal [yang cenderung lebih intens di malam hari] dan gejala lain seperti ruam yang terlihat seperti jerawat.

Ruam kudis dapat muncul dibagian tubuh manapun, namun biasanya tempat yang paling sering terkena scabies adalah di tangan, siku, ketiak, kulit diantara jari tangan dan kaki dan disekitar kuku.

Untuk anak-anak atau bayi, beberapa tempat yang paling sering terkena scabies adalah di kepala, wajah, leher, telapak tangan.

Dalam beberapa kasus, dimana penderita kudis memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, ruam scabies bisa terlihat berkerak.

Penampilan Kudis

Kulit yang terkana scabies akan terlihat seperti goresan papula [benjolan diatas kulit] yang terlihat asli. Scabies juga terlihat seperti titik gelap pada kulit yang terkontaminasi.

Kudis juga terlihat seperti benjolan kecil macam jerawat yang terdapat di kulit. Benjolan ini makin lama makin keras.

Baca Juga : Penyebab Bau Mulut dan Cara Mengatasinya

Terkadang, scabies disertai dengan lubang atau garis-garis tipis berwarna abu-abu, coklat atau merah yang terlihat dari benjolan tersebut.

Dalam beberapa kasus, scabies mungkin susah dilihat dengan mata telanjang karena hanya terlihat seperti goresan biasa.

Ciri-ciri infeksi Kudis

Ciri paling umum dari infeksi kudis adalah kulit akan terasa gatal dan makin intens terjadi saat malam hari atau menjelang tidur.

Gatal ini dapat mengganggu kualitas tidur seseorang. Dengan demikian, kudis dapat membuat seseorang susah tidur.

Cara mendiagnosa

Kudis biasanya didiagnoasa berdasarkan riwayat pasien dan pemeriksaan fisik lesi [benjolan]. Tes lain yang mungkin dilakukan adalah:

  • Mengikis kulit untuk mengindetifikasi telur tungau
  • Dermoscopy dimana di gunakan alat dermoscope genggam yang memungkinkan dilakukannya pemeriksaan visual pada kulit secara lebih detail
  • Uji pita perekat dimana seorang dokter menggunakan pita perekat yang kuat dan ditempatkan pada lesi kulit lalu ditarik untuk kemudian dilihat menggunakan mikroskop

Cara mengobati kudis

kudis

Sebenarnya, tidak ada cara pengobatan khusus dan mujarab yang mungkin bisa membuat seseorang tidak terkena kudis.

Namun biasanya, untuk mencegah paparan, ada beberapa metode pengobatan yang dapat dilakukan, antara lain :

a. Menggunakan krim Topical

Salah satu jenis krim topical yang dapat mencegah paparan scabies adalah Permethrin [Elimite], yang dapat langsung dioleskan ke kulit, leher dan telapak kaki.

Untuk hasil yang lebih baik, ada baiknya krim tersebut terus digunakan terlebih saat akan tidur malam. Atau digunakan selama 8-12 jam sebelum dibilas menggunakan air.

Perawatan scabies topical lainnya termasuk krim atau lotion crotamiton [crotan dan erurax], lindane [biasanya tidak digunakan sebagai pengobatan pertama karena risiko kejang], salep belerang dan benzyl benzoate [tidak tersedia di beberapa negara].

b. obat oral

Dalam beberapa kasus, untuk mengobati scabies, orang-orang mengkonsumsi obat seperti ivermectin oral. Penggunaan obat ini terutama dalam kasus dimana scabies menutupi sebagian besar tubuh.

Obat oral ini sering digunakan di Panti Jompo dimana ada kemungkinan besar kudis akan menjangkit orang-orang.

Baca Juga : Apa itu Cacar Monyet?

Penggunaan obat oral semacam ini, dosis yang paling direkomendasikan adalah sebesar 200mcg/kg sebagai dosis tunggal dan terus digunakan selama dua minggu.

Keuntungan dari penggunaan ivermection oral adalah penggunaannya yang mudah dan tidak menyebabkan masalah kulit lain.

Namun, ivermectin bisa menyebabkan efek samping bagi orang-orang tertentu sehingga tidak selalu menjadi pilihan pengobatan pertama.

c. Antihistamin

Pil antihistamin bisa membantu seseorang meringankan gatal akibat kudis. Bagi anda yang terkena scabies, anda dapat menghilangkan sensasi gatal dengan mengkonsumsi antihistamin yang dijual bebas seperti diphenhydramine [Benadry].

Cara agar tidak terjangkit kudis

Ada beberapa cara untuk menghindari diri anda, anak atau orang lain untuk tidak terjangkit kudis, antara lain:

a. Selalu mencuci seprei secara berkala

Tungau scabies memang tidak bisa bertahan lebih dari 72 jam tanpa kontak dengan manusia. Oleh karena itu, untuk menghindari terkena kudis, ada baiknya anda rajin mencuci seprei.

Saat mencuci, upayakan anda merendamnya dalam air panas. Jika tak ingin repot, anda tidak perlu merendamnya pakai air panas, asalkan anda tidak melakukan kontak dengan barang-barang yang dicurigai terdapat kudis selama 72 jam.

b. Hindari pemakaian baju, handuk dan kaus kaki dengan orang lain

Cara ini cukup efektif untuk menghindari scabies menjangkit. Terkadang, seseorang menggunakan baju, handuk atau kaus kaki dengan orang lain.

Hal ini tidak saja membuat anda berpotensi terkena kudis, namun juga penyakit-penyakit kulit lain seperti panu.

c. Hindari kontak dengan hewan yang terindikasi mengalami kudis

Jika ada hewan peliharaan anda yang terindikasi terkena scabies ada baiknya anda hindari kontak langsung dengan hewan tersebut.

Baca Juga : Bahaya Zoonosis Pada Ikan

Meskipun potensi menjangkit scabies dari hewan ke manusia kecil, tapi ada kemungkinan anda juga akan terkena kudis.

d. Potong kuku dengan rajin

Kuku biasanya menjadi sarang bagi kudis untuk tinggal dan berkembang biak. Oleh karena itu, ada baiknya anda rajin memotong kuku secara berkala.

Scabies seringkali menyerupai kondisi kulit lainnya. Dalam kasus tertentu, kudis mungkin terlihat seperti jerawat atau gigitan nyamuk.

Terkadang juga terlihat seperti eksim atau tinea [kurap]. Oleh karena itu, penting untuk berkonsultasi ke dokter untuk mengetahui apakah itu kudis atau bukan.

Kudis dapat menyebar dan bertahan lama di fasilitas perawatan jangka panjang seperti di panti jompo. Scabies dapat dengan mudah menyebar pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah seperti dalam kasus orang-orang yang terinfeksi HIV/AIDS dan kanker.

Mengenal Kudis Norwegia

kudis norwergia
Seorang pasien menderita scabies norwergia/via onhealth.com

Scabies Norwegia biasanya menyerang kepada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

“Kudis Norwegia” adalah nama lain dari scabies berkrusta¬†yang cenderung menyerang kepada pasien dengan sistem kekebalan tubuh terganggu karena kondisi tertentu seperti HIV/AIDS dan kanker.

Orang tua dan juga pasien dengan keadaan medis tertentu seperti Sindrom Down juga rentan terkena kudis Norwegia.

Seseorang yang terkena scabies berkrusta ini sangat menular. Selain itu, biasanya pasien yang terkena dengan scabies ini terkena di sebagian besar area tubuh.

Selain itu, lesi ini akan memicu bau yang tidak sedap. Kuku akan terlihat lebih tebal dan berubah warna namun biasanya pasien tidak mengalami gejala gatal seperti scabies biasa.

Sumber:
  • Chen ZZ, et al. (2014). Studies on the acaricidal mechanism of the active components from neem (Azadirachta indica) oil against Sarcoptes scabiei var. cuniculi. DOI: 10.1016/j.vetpar.2014.05.040
  • Crusted scabies. (2016). rarediseases.info.nih.gov/diseases/12151/crusted-scabies
  • Marcuse EK. (1982). The burrow ink test for scabies. pediatrics.aappublications.org/content/69/4/457
  • Mayo Clinic Staff. (2018). Scabies. mayoclinic.com/health/scabies/DS00451
  • Oyelami OA, et al. (2009). Preliminary study of effectiveness of aloe vera in scabies treatment. DOI: 10.1002/ptr.2614
  • Pasay C, et al. (2010). Acaricidal activity of eugenol based compounds against scabies mites. DOI: 10.1371/journal.pone.0012079
  • Scabies. (n.d.). aad.org/public/diseases/contagious-skin-diseases/scabies
  • Lymphatic filariasis. (n.d.). who.int/lymphatic_filariasis/epidemiology/scabies/en/
  • Scabies frequently asked questions (FAQs). (2019). cdc.gov/parasites/scabies/gen_info/faqs.html
  • Thomas J, et al. (2016). Therapeutic potential of tea tree oil for scabies. DOI: 10.4269/ajtmh.14-0515
  • https://www.healthline.com/health/scabies

You might like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *